Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
130


__ADS_3

Di depan gedung sebelum penyerangan berlangsung.


Dania dan Ruksa menatap punggung Ruslan yang terduduk terdiam menatap jasad Amar yang sudah mengeras di depan mereka, tatapan mata pria itu begitu kosong, tak ada raut sedih yang tersirat di wajahnya, yang ada hanyalah kekosongan semata.


Hal ini membuat Dania semakin bersalah, Apalagi Amar sudah seperti pamannya sendiri, melihatnya terbujur kaku seperti ini karenanya membuat hatinya sakit.


Begitu pula dengan Ruslan, bginya, Amar sudah seperti Adiknya sendiri, sebab pria itu sudah menemaninya sejak lama, bahkan sejak Dania masih kecil, pria itu juga selalu menjaga putrinya selayaknya seorang paman yang menjaga keponakannya sendiri.


Namun, kenangan itu sudah berakhir sampai di sini saja. Sebagai bentuk penghormatan terakhirnya, Ruslan kemudian menyuruh bawahannya yang lain untuk membawa jasad Amar dan menyuruh mereka untuk membuat pemakaman yang layak.


" Maaf, sobat, aku tak bisa menyaksikan pemakaman mu. " ungkap Ruslan sembari menatap kendaraan yang membawa jasad Amar.


" Betapa beruntungnya dia memiliki kawan seperti mu. " Ujar Daniel secara tiba-tiba pria itu berdiri di belakang Ruslan dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.


" Terima kasih. Ngomong-ngomong, sebelumnya kita sudah pernah bertemu tapi kita belum saling berkenalan, nama ku Ruslan. "


" Nama ku Daniel, senang berkenalan dengan mu. " jawabnya sembari membalas jabatan tangan pria di depannya.


" Maaf, menyela pembicaraan kalian, tapi ini bukan saatnya untuk kalian saling berkenalan, Is. . maksud ku kata Paman Ismail, kita harus segera bergegas. " Ujar Ruksa menyela pembicaraan mereka.


Kedua pria itu menoleh secara bersamaan, menganggukkan kedua tangannya, lalu kemudian berjalan menuju pintu masuk gedung bersama-sama kecuali langkah kaki Ruksa yang terpaksa terhenti ketika tubuh Ruslan berdiri tepat di depannya. Ia pun mengerutkan dahinya kemudian bertanya. " Kenapa? Apa kita memiliki misi lain. "

__ADS_1


Pria itu terdiam, menatap lekat sepasang mata putrinya, ia kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada, kemudian berkata. " Lebih baik, kamu tinggal di sini, jangan kemana-mana. "


" Kenapa begitu? Bukankah Ayah sudah lihat kemampuan ku menghajar para preman tadi? "


" Lalu memangnya kenapa? Dengar, tempat ini jauh lebih berbahaya dari yang tadi, dan Ayah tak mau kamu terluka sedikit pun. "


" Tapi kan. . .


" Nggak ada tapi tapian, Selangkah saja kamu masuk ke dalam gedung, Ayah hukum kamu selama satu bulan! Paham! "


" Tu. . . tunggu dulu, Ayah ini tidak adil, aku juga ingin masuk ke sana. "


Tubuh Ruksa seketika mematung, melihat raut wajah Ruslan yang menyeramkan.


Di detik berikutnya, Ruslan pun menyadari sikap kasarnya, ia kemudian menghela nafas, lalu memeluk tubuh putrinya dengan erat, sembari mengucapkan kata maaf berkali-kali.


" Dengar, berbeda dengan mu yang sudah tahu bahwa Arga adalah Ayah kandung mu, tapi pria itu sama sekali tidak mengenal mu. Dania, Ayah tidak mau melihat tragedi yang lebih mengerikan lagi, cukup sudah aku melihat jasad ibu mu dan Amar, Ayah tak mau kehilangan kamu, jika hal itu terjadi, apa yang Ayah katakan pada ibumu? " ungkap Ruslan.


Ruksa terdiam memahami perkataan Ruslan, ia baru teringat bahwa saat ini jiwanya masih berada di dalam tubuh Dania. Pria ini benar, jika terjadi sesuatu pada tubuh ini, maka ia pun tak tahu apa yang akan di katakan jika bertemu dengan Nisya nanti. "


" Tolong, dengarkan perkataan Ayah sekali ini saja, Ayah mohon. "

__ADS_1


Ruksa pun kembali terdiam, saat ini dirinya tengah sulit membuat keputusan, pasalnya Dania tak mungkin bisa menghadapi Arga. ' Argh! Kenapa situasinya menjadi seperti ini? Bagaimana jika Dania berhasil membunuh Arga, bukankah dia sama saja dengan membunuh Ayah kandungnya sendiri?


" Dania. Apa kamu dengar?


" Iya, aku dengar. " jawab Ruksa dengan suara lirih. " Kalau begitu berjanjilah padaku, tolong bunuh Arga dengan kedua tangan mu, jangan biarkan Kak Ruksa yang melakukannya. Dan satu hal lagi, tolong kembalilah hidup-hidup. "


" Baiklah. Ayah janji. " Pria itu pun tersenyum lalu berjalan meninggalkan Ruksa bersama dua orang yang menemaninya.


Selama penyerangan berlangsung, Ruksa tak bisa menjadi tenang, terlebih lagi hari mulai gelap, namun tak ada kabar sama sekali tentang mereka.


" Mereka baik-baik saja kan? " gumamnya.


Seakan dewa tahu akan perasaannya, tak lama kemudian, seseorang keluar dari dalam dengan berlumuran darah yang sontak membuat heboh termasuk Ruksa.


Salah satu pria bersama Ruksa datang menghampiri pria itu dengan kotak p3k di tangannya. " Apa yang terjadi di dalam? " tanyanya sembari mencoba menghentikan pendarahan pria itu.


Ruksa yang penasaran, ikut menghampiri pria itu. " Ada apa? "


" Di. . dalam sangat ka. . cau, Da-n Ruslan sudah tertembak. "


" Apa?! "

__ADS_1


__ADS_2