
Tak ada ada satu pun dari mereka yang mengira, bahwa pertemuan yang selalu di jaga itu malah terjadi begitu saja.
Parahnya lagi, baik Dania maupun Ruksa keduanya sama-sama tak habis pikir dengan sikap Ruslan tadi, mereka tak pernah menyangka akan reaksi yang di berikan oleh pria itu sangat jauh dari ekspektasi yang sudah di bayangkan selama ini
Ada apa dengan reaksi pria itu? Kenapa dia terlihat seperti ingin menghindar dari masalah?
Dan tentunya, orang paling merasa kesal di sini adalah Ruksa, sebab ia pernah mengira bahwa pria itu pasti akan bersikap malu-malu atau merasa bersalah karena sudah membuatnya menunggu sampai pagi hari.
Namun yang di terimanya bukan lah permintaan maaf atau pun rasa penyesalan, tapi melainkan sikap acuh tak acuh, bahkan tatapannya terlihat seperti melihat sosok hantu. Ia pun hanya bisa menyalahkan Dania karena sudah memakai pakaian seperti itu.
Sungguh, dari sekian banyaknya pakaian yang di milikinya kenapa hoodie itu? Hoodie itu sebenarnya adalah milik Ruslan yang sempat di pinjamnya.
Kedua tangan Ruksa mengepal dengan nafas memburu, ia masih begitu kesal dengan sikap pria itu dan juga Dania karena tak berpakaian seperti biasanya.
Seandainya saja, gadis itu memakai pakaian seperti sebelumnya, mungkin Ruksa tak akan malu dan juga kesal seperti ini.
Memangnya dirinya punya salah apa? hingga mendapatkan sikap seperti itu?
Di sebrang meja, Dania hanya terdiam menunduk ketakutan sembari memainkan ke sepuluh jarinya, bulu kuduknya selalu berdiri setiap kali melihat wanita di depannya terus mengumpat.
" Apa Kakak sungguh tidak melakukan kesalahan di masa lalu? " Tanya Dania dengan penuh kehati-hatian.
Mendapat pertanyaan tersebut, membuat Ruksa mendelikkan matanya pada Dania. " Apa maksud lo? "
Dania yang merasa takut pun kembali menundukkan kepalanya, " Bukan apa-apa hanya saja, melihat sikap Ayah yang seperti itu membuat ku berpikir yang tidak-tidak. " timpal Dania dengan nada rendah.
" Maksud perkataan lo itu apa? "
Secara spontan, kedua tangan Dania melambaikan tangannya dengan cepat pada Ruksa, ia tak bermaksud menyalahkan wanita itu, hanya saja dirinya tak pernah melihat sikap Ayahnya seperti itu, rasanya dia seperti sedang menghindari sesuatu.
Ruksa pun menghela nafas lalu menyenderkan punggungnya ke kursi seraya menatap jalanan dari balik kaca kafe yang hanya bisa melihat keluar saja sedangkan dari luar, kaca itu tidak nampak apapun. Hal ini membuat Kafe itu menjadi menarik dari yang lainnya .
Jika mesin waktu itu ada, mungkin Ruksa akan pergi ke masa lalu, kemudian membereskan semua kekacauan ini.
" Oh iya Kak, tadi pagi aku kedatangan Kak Bismo. " ungkap Dania tiba-tiba.
__ADS_1
Ruksa pun menoleh, Salah satu alisnya terangkat sebelah, tak ada raut terkejut sedikitpun yang tersirat di wajahnya, karena dirinya sudah sangat mengenal pria itu dan juga dirinya sudah menduganya.
" Lalu, apa yang lo akukan? "
Dania pun menundukkan kembali kepalanya, dirinya takut perkataannya membuat wanita itu marah kembali karena perkataannya, dengan pelan ia mengatakan bahwa dirinya menghunuskan pisau yang diambilnya secara sembarangan dan mengarahkannya pada Bimo.
Mendengar hal tersebut, membuat Ruksa menghela nafas, ia yakin mantan pacarnya akan menganggapnya gila.
" Apa lo menusuknya? " tanya Ruksa kembali.
Kepala Dania kembali menggeleng, " Untungnya Kak Daniel datang di waktu yang tepat, jika tidak, aku tak tahu harus berbuat apa. " ungkapnya kembali
Ruksa pun mengangguk anggukkan kepalanya dengan kedua tangan terlipat di dada, sembari membayangkan kejadian itu di dalam benaknya.
Di sisi lain, Ruslan hanya bisa termangu sembari duduk di pinggir ranjang, dirinya mengutuk akan kebodohannya, bukannya menyapa lalu meminta maaf, dirinya malah membuang muka lalu pergi melarikan diri.
" Ruslan, kamu sungguh pria brengsek," Gumamnya pada diri sendiri.
Tangannya mengacak rambutnya frustasi, ia yakin wanita itu sangat membencinya dan ingin sekali memukul wajahnya.
Di tambah dirinya merasa malu dan juga takut bahwa wanita itu akan membencinya, dan juga dirinya sudah berjanji pada Nisya untuk tidak membiarkan putrinya menyentuh keluarga Wisesa.
" Ruslan! Oi Ruslan! "
Seketika Ruslan pun terperanjat setelah mendengar seseorang yang meneriaki namanya dengan lantang, ia pun beranjak turun dari ranjang dan menghampiri suara yang berasal dari pintu depan rumahnya.
" Bisa nggak kalau nggak pake teriak-teriak. " Ujar Ruslan yang baru saja membuka pintu dan mendapati seorang pria dengan pakaian santainya
Amar pun hanya nyengir tanpa ada rasa dosa sedikit pun yang tersirat di wajahnya.
" Ngapain? ' tanya Ruslan dengan nada ketus.
" Ya jenguk kamu lah masa mau dugeman. " Timpal Amar setengah bercanda.
" Terus buah tangannya mana? "
__ADS_1
" Ekh, Astaga Dragon lupa! Bentar yah aku balik ke jongko dulu. " Ucapnya lalu pergi begitu saja dengan sepeda motor bututnya.
Ruslan pun hanya bisa melongo melihat kelakuan pria itu, padahal dirinya tadi hanya bercanda, ia pun hanya bisa berdecak sembari menggelengkan kepalanya.
Namun tak lama kemudian, pria itu kembali dengan menenteng dua buah plastik berisi buah-buahan.
" Dania mana Rus? " tanya Amar yang sudah terduduk di ruang tamu.
" Lagi pergi main sama temennya. "
" Tumben, nggak biasanya dia main keluar di saat Ayahnya sakit gini. " ujar Amar.
" Nggak apa-apa, lagi pula dia masih muda jadi perlu bersenang-senang. "
Amar pun hanya membulatkan bibirnya seraya menganggukkan kepalanya mengerti.
" Bagaimana? Sudah dapat kabar siapa yang nusuk aku? " Tanya Ruslan tanpa basa basi.
" Sejauh yang aku selidiki, mereka bukan anak sekolah mana pun, kebanyakan dari mereka adalah siswa yang putus sekolah dan ada juga yang di keluarkan dari sekolah karena melanggar aturan, dan untuk siapa yang nusuk kamu? Jujur aku nggak bisa bilang soalnya aku nggak yakin, takutnya jadi fitnah, tahu sendiri kan kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. " ungkap Amar.
" Iya tahu kok. " timpalnya seraya mengusap dagunya beberapa kali, memikirkan siapa dalang dari balik penusukan yang di terimanya mungkinkah musuh lamanya mengenali dirinya yang sekrang?
Tapi siapa?
" Oh iya Rus, kamu nggak punya camilan? Atau nasi sama temennya nggak? Lapar nih dari siang belum makan. " ujarnya tiba-tiba
Dahi Ruslan pun mengernyit, menatap datar pada pria didepannya, " Kamu itu sebenarnya mau jenguk apa mau minta makan? "
" Dua-duanya, karena ada pepatah, sekali dayung dua pulau terlampaui. "
" Nggak gitu juga konsepnya. "
" Ah bodo, pokoknya menurut gue sih sama aja. "
Ruslan pun terdiam, lalu menghela nafas, ia kemudian mengatakan pada pria di depannya untuk mencarinya sendiri. Lagi pula ini bukan untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Dan senang hati Amar pun langsung bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan ke arah Dapur.