
Jantung Ruslan, berdegup dengan kencang, ia terkejut dengan serangan dadakan itu. Kedua bola matanya terbeliak melihat lantai yang rengat akibat hantaman dari benda itu. Jika saja dirinya tak mendengar teriakan dari Ruksa, mungkin kepalanya akan bernasib sama dengan lantai itu, tapi tunggu dulu. . . kenapa wanita itu memanggilnya dengan sebutan Ayah? Bukankah sudah jelas bahwa dirinya bukan ayahnya? Lalu kenapa?
Bugh!!
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di kepalanya, darah pun mengucur mengenai wajahnya, dalam hitungan detik, kepala Ruslan terasa pusing, bahkan ia hampir kehilangan tumpuannya. Namun, ia segera mengembalikan kesadarannya seperti semula, mengabaikan rasa sakit di kepalanya.
Kedua matanya menatap wajah seorang gadis yang tengah menyeringai ke arahnya. Seakan tak ingin memberinya waktu untuk memulihkan diri sejenak, gadis itu kembali melayangkan pukulan ke arahnya, dan mengenai bahunya dengan cukup keras, membuat tubuhnya berguling ke samping.
Dari balik jeruji, Dania menjerit histeris, sedangkan Ruksa menatap tajam pada kedua gadis disebrangnya.
Meski seluruh tubuhnya terasa ngilu, tapi Ruslan kembali bangkit, meski pun kedua kakinya terasa mati rasa, kepalanya mendongkak, menatap tajam pada dua gadis di depannya.
" Ada apa dengan tatapan mu paman? Apa anda terkejut? " tanya Nagisa dengan nada meremehkan, lalu meletakkan pemukul baseball itu di pundaknya. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, lalu berjalan mendekati Ruslan, kedua matanya menatap wajah itu dengan intens, tangannya terulur mencoba menyeka darah di wajah itu menggunakan baju lengannya.
Akan tetapi, hal itu langsung di tepis kasar oleh Ruslan.
Senyum di wajah Nagisa semakin melebar. " Paman, kamu adalah orang pertama yang memperlakukan ku seperti ini, dan aku sangat menyukai, jadi lah milikku, maka aku akan menjaga mu sebaik mungkin, atau mungkin, akan ku jadikan kamu sebagai Raja di hatiku. " ungkapnya.
__ADS_1
" Maaf, tapi aku tak menyukai bocah ingusan seperti mu. "
" Benarkah? Padahal, ada banyak pria yang datang ke sini, yang menginginkan ku dan tubuh ku. " Ungkap Nagisa, sembari memperlihatkan belahan dadanya.
Namun, bukannya tertarik, Ruslan malah membuang muka sembari mendengus jijik.
Nagisa yang melihat sikap pria di depannya, merasa terhina, ia berbalik sembari menghentakkan kedua kakinya secara bergantian, ia merengek pada kakaknya, Nagira, memintanya untuk menjadi miliknya.
Selaku saudara kembar, sekaligus seorang kakak, Nagira pun menjadi marah, karena ungkapan cinta adiknya di tolak begitu saja.
Tanpa aba-aba, Nagira, melayangkan sebuah tendangan yang mendarat, tepat di wajah Ruslan, membuat pria itu kembali tersungkur.
" Sorry, nggak sengaja. " timpal Nagira dengan wajah datarnya.
Nagisa pun berdecak kesal, ia kembali berlari menghampiri Ruslan. " Apa paman baik-baik saja? Lihatlah luka ini. " katanya sembari mengelus luka memar di wajah itu, tapi lengannya kembali di tepis oleh pria di depannya.
" Paman, menyerah lah, lagi pula, Dania bukan putri kandung mu bukan? Untuk apa kamu mempertaruhkan nyawa untuk gadis sepertinya? Hiduplah bersama ku, meski usia kita terpaut cukup jauh, tapi aku yakin bisa membahagiakan mu, " sambungnya
__ADS_1
Bukannya terharu atau pun tersentuh, Ruslan malah tergelak, tertawa terbahak-bahak, kedua tangannya memegang perutnya yang terasa sakit, setiap kali dirinya ia tertawa
" Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu? " tanya Nagira.
" Tentu saja, ucapan dia sangat lucu, kalian pada bocah, mana tahu kehidupan orang dewasa yang sesungguhnya, dan juga, sekalinya aku berkata tidak maka jawabannya tetap tidak, lagi pula, aku sudah memiliki kekasih. "
" Oh, benarkah? Siapa? "
" Kenapa? Apa kalian akan membunuhnya? "
Nagisa kemudian terdiam, ia mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya sembari mencerna perkataan pria di depannya, di detik berikutnya, ia kembali tersenyum lalu mengatakan bahwa apa yang di katakan pria di depannya adalah ide yang bagus, ia menambahkan, bahwa tak ada satupun keinginannya yang tidak terwujud.
" Jadi katakan, siapa dia? Akan ku penggal kepalanya dengan kedua tangan ku dan akan ku jadikan kepalanya sebagai mas kawin, bagaimana? " tawar Nagisa.
" Kalau begitu, berikan kepala Ibu kalian pada ku, ku rasa itu sebanding dengan mas kawin. " pintanya. " Ah, kurasa kalian mengerti, Ibu yang aku maksud. "
Seketika hening.
__ADS_1
Akan tetapi, di detik berikutnya, Nagisa tiba-tiba menodongkan pistolnya ke kepala Ruslan. Saat hendak menarik pelatuknya, tiba-tiba ia menjerit kesakitan, darah mengucur dari telapak tangannya, terdapat sebilah pisau yang menancap di telapak tangannya.