Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
Eps. 3


__ADS_3

'apa sih Luis ini? Pandangannya kaya orang bodoh saja,' batin Olivia, lalu mereka hanya saling tersenyum.


'Tunggu, Tunggu! Apa ini?' Olivia terkejut melihat hal baru.


" Ayo semua masuk!" perintah sang ayah dengan hangatnya. Olivia memejamkan mata, ingin bertanya pada Dira sang pemilik tubuh.


" Pssttt... Dira bangun! bangun! Cepat aku ingin bertanya!" dalam alam bawah sadar, Olivia mengguncangkan tubuh Dira.


" Ah kamu putri, ada apa?" tanya Dira dengan lembut


" Kamu sedang apa disana?" tanya Olivia


" Aku sedang mandi," seketika wajah Olivia memerah, biar sajalah hanya dia yang tahu dengan tubuhku lagipun aku masih kecil kan?, batin Olivia.


" Oh, sudah bertemu Ash?"


" Iya, dia baik" Dira menilai


" Memang, ehhhh jangan lupa! aku ini ingin tanya?" mengingat kalo dirinya ada keperluan.


" Tanya apa? "


" Itu, benda besar apa itu? Yang aku diperintah masuk dengan yang lain, itu benda yang tidak berbahaya kan?" Tanya Olivia polos


" Oh, itu pasti mobil, kalian sudah mau pulang ya?"


" Iya begitulah," lalu Olivia membuka mata


" Ada apa Dira? " tanya Luis heran


" Bukan apa-apa," Ternyata namanya mobil, batin Olivia. Lalu duduk bersama dengan Luis di kursi kedua, sedangkan Jena di depan dengan ayahnya. 'Waaa, benda ini berjalan, sangat menyenangkan, aku jadi ingat dengan kuda sihir milik Ash,' dalam hati serasa takjub.


" Kamu yang seperti ini, seperti baru pertama kali menaiki mobil saja..." Luis tertawa, lalu memandangi wajah adik tirinya yang imut itu.


" Apa? Aku ini memang menggemaskan sudah dari lahir" Luis terkejut mendengarnya


" Mengapa seperti ada yang berbeda ya?" celetuk Luis


" Beda palamu, apanya yang beda? Kamu lihat anak ini cantik ya? apa lagi aku dengan tubuh asliku, sikap apa yang kamu tunjukan Luis bodoh? Aku ini benar-benar cantik dari ini tahu! " gumam Olivia sembari memalingkan wajah.


# Kehidupan baru Dira


Dalam balutan gaun indah, putri kecil Olivia dengan jiwa Dira. Dira memandanginya penuh kelembutan, 'aku sudah bilangkan? Rasanya ingin ku peluk', batin Dira. Ash dan pelayan disana memandanginya dengan senyuman cerah


" Ini pertama kalinya tuan putri mau memakai gaun indahnya," gumam sang pelayan.


" Benar-benar sangat lucu, gemas sekali rasanya..." gumam Ash dengan wajah merona


" Seriuss? Putri Olivia benar-benar menyia-nyiakan kemewahan ya?" gumam Dira


" Mari tuan putri," hormat Ash mempersilahkannya untuk bergegas mengelilingi istana, seperti janjinya saat pertama kali, ia akan menemani Dira.


" Baiklah, Ash apakah putri Olivia tidak suka memakai gaun?" tanya Dira sambil melangkah pelan menuju taman


" Putri tidak suka dengan gaun yang menurutnya terasa merepotkan,"


"oh," tanggapnya, dan mundur menunggu Ash melangkah, lalu memegangi tangan Ash.


" Kita pergi bersama ya!" pinta Dira, Ash mengangguk lalu tersenyum.


" Pfft...kamu kesusahan melangkah?" tanya Ash, melihat Dira memegangi gaunnya.


" Tidak kok," menggembungkan pipi


" Pfft...biar aku bantu, ke taman tanpa berjalan.." tukasnya. 'ehh?? Dia mengendongku?' batin Dira


" Ash, tolong ceritakan pertemanan kalian, atau detail kisah putri Olivia..." pinta Dira


" Apa? " tiba-tiba saja wajah Ash terasa dekat


" Ash wajahmu terlalu dekat!" memperingati


" Hmm? Beberapa saja ya, putri Olivia Charlotte Sawn, anak perempuan satu-satunya di kerajaan ini, putri Olivia disayangi semua anggota kerajaan, memiliki 4 sodara 3 laki-laki 1 perempuan yang sekarang sudah menjadi ratu karena sudah menikah dengan Raja Rerion, putri Olivia dengan sikapnya yang keras kepala dan suka tantangan membuatnya terkesan aktif dan pandai, aku dan dia berteman sejak putri Olivia berusia 2 tahun, pada saat itu aku yang mengasuhnya, seorang penyihir cilik yang diperuntukkan menghibur sang putri..." mereka sudah hampir sampai


" Lanjut!"


" Lain kali saja, kita masih punya banyak waktu...sekarang kamu bisa menikmati pemandangan di sini, aku yakin disana kamu tidak pernah melihat ini benar?"


"huwaaa indahnya," berlarian tanpa arah, taman seperti padang bunga, luas dan indah, penuh bunga warna warni sejauh mata memandang.


" haha, beruntung bisa melihatmu yang kekanakan" gumam Ash, sedang Dira bergantian melihat-lihat bunga yang menarik hatinya, sesekali bertanya jenis bunga dan Ash menjawab dengan sepengetahuannya. Dan ditengah keasyikannya, Dira melihat sosok anak laki-laki seusia Ash yang terus memandanginya dengan senyuman, siapa? Tanya Dira dalam hati.


" Dia pangeran Hans, kakak keempat tuan putri," Dira menilai, bermata kuning madu, rambut coklat, kulit putih, wajah tampan.


" me-mengapa ada pangeran yang begitu cantik?" gumam Dira, dengan mata membelalak takjub.


" Selamat siang putri Olivia," menyapa


" Se-selamat siang, kakak..." wajah memerah


" Selamat siang pangeran Hans," sapa Ash, pangeran Hans hanya mengangguk.


" Kenapa wajahmu merona? " goda sang kakak, lalu memetik satu bunga berwarna biru muda.


" Sangat cantik! " tukasnya, mengagumi adik kecilnya setelah memasang satu bunga pada sela telinga Dira.


" Terima kasih, Kakak..." sebenarnya apa ini? Mengapa jantungku berdebar? Sadarlah Dira! Batin Dira.


" Aku benar-benar cemburu padamu Ash, kalian selalu bersama..." ungkap pangeran, memasang wajah sedih.


" Haha, itu...tuan putri yang mau, aku hanya menurut saja..." jawab Ash kikuk


" Beberapa hari lagi putri Olivia akan menginjak Usia 7 tahun, hadiah apa yang kamu inginkan dari kakakmu ini?" sebenarnya Dira tidak tahu-menau hal apa yang di inginkan putri Olivia, sementara itu ia ingin bertanya pada putri Olivia.


" Putri, kumohon cepat bangun!" pinta Dira


" Ah, ada apa, disana aku sedang makan bersama" kata Olivia


" Apa ada kejadian yang tidak menyenangkan?" Dira gelisah


" Belum, nanti aku cari masalah, tenang saja..." ucap Olivia ngasal, seketika Dira menepuk dahinya.

__ADS_1


" Cepat bicara, kamu ingin tanya apa?"


" Oh iya, itu... Hadiah apa yang kamu inginkan disaat ulang tahunmu,"


" Hans??"


" I-iya..." apa aku harus panggil Hans atau kakak? Batin Dira, mengetahui bahwa Olivia memanggil namanya langsung.


" Sebetulnya aku tidak pernah meminta apapun darinya, semua darinya telah kumiliki, jadi...mmm minta saja temani berkuda, hanya berdua saja...haha selamat bersenang-senang... Aku lapar! " lalu tertidur kembali. Sial banget sih! Dia mau jahil padaku ya? Dalam hati.


" Hmm?" pangeran Hans menunggu jawaban


" Itu... Apa boleh kakak Hans menemani Via menunggang kuda? jalan-jalan atau semacamnya? ha-hanya berdua saja...kakak?" masih menunduk, lalu mengangkat kepala perlahan, ingin tahu reaksi apa yang pangeran berikan. Tidak di duga kedua pria tersebut membulatkan mata, merasa heran.


" Haha, ini baru pertama kalinya...baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu putri, sangat-sangat dengan senang hati memenuhinya..." dengan semangatnya pangeran menjawab


" Mmm aku, aku harus pergi..." sela Dira ingin menghindar, dirinya saat ini tidak percaya itu akan terjadi. Seharusnya aku minta perhiasan atau barang apalah, kenapa harus menunggang kuda? Kenapa? Kenapa kuda? Berdua saja? Dengan pangeran cantik? Tidakkk!!! Batin Dira merasa malu. Ash mengikuti langkah Dira, sedangkan pangeran tersenyum senang.


" Aku tidak percaya ini! Itu maumu atau..." dari nada bicaranya Ash seakan kesal


" Putri sendiri yang meminta..." sambil menutupi wajah dengan tangan karena malu


" Haiss...Dia tidak pernah meminta apapun pada pangeran..." setahu Ash begitu


" Mana kutahu," kata Dira


" Sebenarnya, sebenarnya aku..." Ash ingin bilang sesuatu tetapi masih ragu


" Apa? " Dira menunggu


" Lupakan " dengan segera ia menggendong Dira tanpa menatap Dira.


Mengapa wajahnya memerah? Apa dia demam? Apa karena teriknya matahari? Dalam hati Dira, yang spontan meletakan tangannya ke kening Ash, Ash hanya tertegun dengan wajah yang semakin memerah.


" Sedikit panas, tapi tidak apa-apa..." senyum Dira polos


" Betapa baiknya kalau kamu benar-benar bodoh! " seakan berharap yang ia bicarakan menjadi nyata, akan tetapi hal nyatanya bahwa putri Olivia seorang anak yang sangat peka dan pandai, Ash juga berpikir, mungkin saja perasaannya sudah lama diketahui putri Olivia.


" Apa sih? " heran Dira, lalu terdengar seakan ada yang memanggil


" Dira cepat bangun!" itu putri Olivia, sedang berusaha membangunkan Dira. Langsung saja Dira tidur dipangkuan Ash.


" Iya ada apa?"


" Bagaimana dengan Ash, apa dia tampak kesal? Pfft...adai aku lihat wajahnya..." Olivia menahan tawa


" Maksudmu?" Dira berpikir keras


" Masa sih dia cemburu?" Dira pulai peka


" Haha dia kesal, aku tahu! Aku tidak habis pikir dengannya..." ungkap Olivia


" Apa? " sekarang Dira mulai mencerna informasi


" hehe..." Olivia hanya tersenyum geli


" 12 tahun? 6...mmm bentar lagi 7 tahun! Tahu ah! Tapi kok bisa???" rasanya bohongan, batin Dira


" Pfft...Lucu kan? Begini, saat itu usiaku 5 tahun, kami sering main rumah-rumahan berdua... Pfft...ahhaha perutku geli...Ash...dia menjebakku dengan pertanyaan bodoh..." membayangkan masa lalu yang sedikit memudar, tapi percakapan mereka saat itu sangat melekat di ingatan Olivia


" Kenapa aku harus menikah?" tanya putri Olivia memancing


" Karena, karena..." Ash tidak bisa menjawab


" Karena kita membutuhkan keluarga dan keturunan?" tanya Olivia yang sebenarnya itu argumennya sendiri.


" Iya benar..." Ash mengiyakan


" Tanpa cinta semua percuma," kata Olivia


" Aku mencintaimu..." Ash seakan sungguh-sungguh dengan perkataannya.


" Haha, sudah kita selesai mainnya..." mencoba tetap polos, Ash hanya mendesah gelisah, tapi Olivia tidak mau membuat Ash canggung, jadi sampai saat ini ia tetap pura-pura bodoh dalam hal cinta.


" Mmm itu akan menjadi kenanganku yang berharga, aku tidak bisa cerita..." kata Olivia sedikit merasa malu.


" Mmm baiklah," walau sebenarnya Dira penasaran


" Kembali kekehidupan baruku... Dah!" saat itu juga Dira terbangun, dia melihat Ash berdiri membelakanginya sedang menatap pemandangan melalui kaca jendela, sedang dirinya tengah berbaring di kasurnya. Ash mencintai Olivia, Olivia tahu itu, tapi bagaimana bisa dia menyuruhku begitu dan membuat Ash cemburu? Ah intinya, bagaimana bisa pria itu menyukai gadis loli, maksudku...yang benar sajalah, dasar cinta! Tapi ini cinta, semua yang merasakannya akan bahagia, dan yah seharusnya aku tanyakan, apa maksud dari perintahnya itu, iya ya? Nanti ku tanyakan! batin Dira.


" Ash, maaf aku, "


" Untuk apa minta maaf?" senyum Ash seperti tak ada daya, ' kenapa kamu berlebihan sekali, cemburumu kekanakan Ash!' dalam hati Dira


" Ash kamu, apa kamu? Tadi? I-itu..." rasanya susah membuka kebenaran


" Iya, dia menertawakanku ya? Aku tahu, karena sihir!" jelas dirinya tidak mau menjelaskan bagaimana ia tahu.


" Mungkin, mungkin saja putri Olivia hanya ingin dekat dengan keluarganya..." apa bisa menghibur dengan cara ini? Batin Dira merasa tidak yakin.


" Iya, lagian yang jalan dengan pangeran bukanlah Olivia yang sebenarnya...begitu saja cemburu?" Ash tersenyum


" Haha ya ya benar! " Dira sependapat


" Tapi ini tetap tubuhnya! " kata Ash dengan wajah kesal


" Sekarang kamu tahu aku mencintai anak kecil ini, bukan masalah, dia juga akan tumbuh cepat...sebenarnya dengan sihirku dia bisa tumbuh seusiaku atau lebih," terang Ash


" Sudahlah kenapa harus cemburu? Dia tidak akan menikah dengan kakak kandungnya kan?" kata Dira


" Benar tapi..."


" Mau ku peluk?" kata Dira sambil tersenyum, memamerkan wajah lucunya


" Akan lebih baik kalau orang aslinya...si kecil ini jual mahal haha, jadi selama ini aku tidak pernah benar-benar dekat dengannya, berkatmu... Terimakasih!" lalu merangkul begitu saja, dengan sangat erat. Sesak!! Batin Dira yang hanya memilih diam dan bertahan.


" Katakan padanya, ini hanya untuk terakhir kalinya!" kata Ash tegas


" Iya...Iya nanti kusampaikan!" lalu Ash mencium kening Dira.


" Uhh jangan lakukan itu, aku bukan Olivia!" Dira mengingatkan

__ADS_1


" Aku tahu, tapi ini kesempatan haha..." Ash hanya tersenyum, tak bisa lakukan lebih dari ini. 'Astaga Olivia terbilang masih kecil untuk menjalin cinta, bagaimanapun walau pemikirannya dewasa, dia tetaplah anak kecil berusia 7 tahun...yah beberapa hari lagi 7 tahun!" Dalam hati Dira.


" Mmm, aku ingat, aku belum pernah bertemu dengan anggota keluargaku, maksudku...yah raja, ratu, sodara lainnya, hmm?" Ash hanya tersenyum.


" Segera, tibanya waktu makan siang bersama," kata Ash


Disisi lain, Olivia sedang membaca buku untuk menambahkan ilmu pengetahuannya, sekarang bersembunyi di loteng paling atas yang diberitahukan Dira jika ingin menyendiri.


" Aku baca buku apa? Ini apa ya? Bergambar, ini cerita!! Baca atau tidak ya? Lumayan sih gambarnya bagus..." Olivia dengan santai membaca halaman demi halaman, setelah beberapa menit kemudian.


" Bu, bu... Buku ini omong kosong banget! Cinta! Cinta! Cinta! Omong kosong!...toh akhirnya dia mati karena cinta, makan tuh cinta!" Wajah memerah karena merasa mata sudah tercemar hal aneh.


" Eh, jadi ingat Ash, hihi...hmm tapi ceritanya tak bisa di pungkiri, bagus dan menarik, pengorbanan ya? Kalian yang seperti ini...ahhh otakku keracunan! Anak kecil sepertiku harus tetap terjaga...yaya lagian kenapa ada buku seperti ini? Dira mesum!" meski begitu, Olivia berkali-kali melihat gambar yang adegannya membuat Olivia merasa malu.


" first kiss?" Mula mula membayangkan wajah Ash yang merona


" Menyebalkan! Apa yang aku pikirkan? Sadarlah Olivia! usiamu baru 6 tahun, bentar lagi 7 tahun sih, tapi tatap saja masih kecil!!! Meski sudah dewasa gak harus repot mikirin itu!" berdebat dalam hati


" Wah-wah, buku apa ini?" membuka halaman


" Novel? Hmm tapi aku jadi sedikit tahu sih, ceritanya kan jaman sekarang...apa Dira tidak punya buku lain? Dia koleksi semua ini? " lalu membaca dengan cepat, beberapa jam kemudian. Tiba-tiba saja Olivia merasa dirinya terasa aneh, mual dan pusing, dan saat itu ia kembali.


" Ng? " Olivia bertanya-tanya apa yang terjadi, ia dalam keadaan menunduk, terlihat pakaian yang ia kenakan begitu indah, 'masa sih sudah kembali?' tapi dirinya yang menebak-nebak masih sangat santai dan masih tidak menyadari sekitarnya.


" Ehmm!" suara berdehem seorang pria yang terdengar lembut, ' Ayah?' spontan Olivia mencari-cari arah suara tersebut. Sial! Aku kembali, batin Olivia setelah mendapat kenyataan bahwa ia telah melihat keluarganya lengkap di meja makan.


" Ada apa? " tanya sang Raja Jean


" Mmm tidak apa-apa," Olivia hanya bisa menerima kenyataan, pada saat itu Ash beberapa langkah di belakangnya, memasang wajah tanya seakan merasa Olivia kembali. Usai makan siang bersama, semua selesai dengan percakapan ringan mereka, setelahnya Olivia membisu, Ash yang menggendongnya merasa ada yang aneh.


" Hmm? Ada apa?" tanya Ash


"..." Olivia masih tetap diam


" Putri? Mmm atau ku panggil Dira?" kata Ash tersenyum hangat


" Jangan tunjukan senyumanmu bodoh!" akhirnya membuka mulut


" Olivi...putri Olivia?" Mata membelalak


" Ash bodoh, ternyata sihirmu tidak bertahan beberapa bulan saperti yang kamu bicarakan, bahkan tidak sehari penuhpun..." mengembungkan mulut, tampak kesal terkesan lucu.


" Pfft...benarkah ini kamu? Masih mau kasih tampang begitu?" Tanya Ash, karena malu ia memalingkan wajahnya kearah lain.


" Aku masih mau main tahu! Belum apa-apa, belum cari masalah maksudku tantangan!...huh kesal!" wajah mungil Olivia benar-benar terlihat menggemaskan, Ash sering merona jika melihat Olivia terlihat imut seperti ini.


" Bisakah kamu tidak menggodaku?" gumam Ash, tapi masih bisa terdengar oleh Olivia.


" Kamu..." tercekat, Olivia merasa ada reaksi yang aneh dalam tubuhnya


Deg...deg...deg...deg perasaan aneh yang membuatnya malu


" Turunkan aku!" perintah Olivia


" Ada apa?" tanya Ash heran


" Aku bisa jalan sendiri, aku punya kaki yang berfungsi!" Berjalan dengan cepat, meski sedikit kesulitan dengan gaunnya. sebenarnya apa ini? Mengapa aku berdebar, mengapa? Aku masih kecil, 6 tahun! 6 tahun! Meski dewasa harusnya jangan dia! Ash bodoh? Batin Olivia.


" Bodoh! " gumam Olivia, sesekali memandangi wajah Ash yang keheranan, " Ih orang bodoh, masa aku suka dia?" Olivia bergidik tidak percaya dengan perasaannya.


" Hey Ash!" Seru Olivia, seraya menghentikan langkahnya


" Hmm?" berjalan mendekat


" Aku mau main lagi, jadi..."


" Oh maaf ya, itu sepertinya sihirku tidak cukup besar...kamu kan tahu aku jenius, tapi untuk hal baru pasti tidak bisa sesempurna yang di inginkan, aku juga hanya seorang penyihir cilik yang kebetulan jenius haha...aku minta maaf..." menggaruk kepala, khas nya jika merasa gagal.


" Tidak apa-apa, tapi kamu bisa menukar jiwa kami kembali kan?"


" Bisa, tapi mungkin terbatas waktu...seperti yang terjadi sekarang ini,"


" Oh," Bagaimana jika saat darurat, kami malah bertukar? Batin Olivia, tapi dirinya yang suka tantangan, merasa itu bukan masalah besar.


" Apa kamu akan berhenti?" BERHENTI, itu sebenarnya harapan Ash


" Berhenti? Tidak niat tuh..." menjulurkan lidah


" Pfft...Bagaimana wajahmu bisa secantik boneka?" tersenyum manis, tapi Olivia memasang wajah dingin, menyenyitkan halis kanannya.


" Ya? Bagaimana bisa kamu puber disaat sekarang?" Senyum Ash seketika padam, dia tidak tahu harus berkata apa maupun tanggapan apa di wajahnya, sepenuhnya merona dan membeku.


" Jangan kira aku bodoh, usiaku 6 tahun, tapi pikiranku lebih dewasa...Ash, jika itu hanya masa pubermu, kau pendam saja, perlahan akan hilang...dan rasa canggung itu hanya akan diingat sebagai kekonyolan..." Olivia ingin membereskan hal ini secepatnya.


" A, apa maksudmu?" ingin lebih jelas


" Jika itu hanya sebatas masa pubertas, dan malah dengan konyolnya jatuh cinta pada seorang bocah, kamu bisa memendam perasaan itu, dan lupakan ketika sudah hilang perasaan sukamu padaku..." menghela nafas panjang, lalu berkata " kamu mengerti Ash? " kata untuk mengakhiri penjelasannya.


" Apa maksudmu? " Ash membeku, 'apa maksudmu? Apa maksudmu? Apa kamu terlalu bodoh untuk memahaminya?' Batin Olivia jengkel.


" Panjang lebar aku bicara, kamu terus mengatakan 'apa maksudmu?', jelas sekali daya pemahamanmu kurang..." Olivia membelakangi Ash karena malu telah mengatakannya blak-blakan. Brukkk! Terkejut, dengan apa yang ia katakan, mengapa berakhir dengan pelukan? Ash membisu, dia lebih memilih diam dan memeluk orang yang ia cintai dengan erat.


" Ash? " Ash memeluk Olivia dari belakang


"...." tidak merespon


" Apa ini? Ini tempat umum! Jika ketahuan, kamu akan di hukum!" walau sebenarnya ia telah berada di area pribadinya, Ash tahu itu, jadi ada keberanian untuk melakukannya. Olivia hanya diam, tidak bisa lepas karena erat dan kuat, dia hanya bisa diam tenang, merasakan detak jantung Ash yang kencang di punggung kecilnya, medengar deru nafas Ash di telinganya, merasakan hangatnya pelukan Ash, merasakan betapa seakan Ash tak mau kehilangan dirinya.


" Kamu kira aku main-main? kamu kira itu hanya sebatas rasa suka karena masa puber? kamu kira itu sederhana? Aku yang saat ini tidak tahu alasannya, yang pasti bukan hal yang kamu pikirkan tadi, AKU BENAR MENCINTAIMU!!!"


"..." Olivia membulatkan matanya, air mata menetes tiba-tiba, mengapa ada cinta yang tidak masuk akal diantara kita yang masih belum cukup umur ini? Batin Olivia.


" Ya, cintaku tak beralasan, tercipta begitu saja, tadi aku diam memang bertanya-tanya mengapa? tapi sekarang aku bisa menjelaskan, karena aku tertarik padamu...karena sebab yang membuatku ingin selalu menjagamu, membahagiakanmu, menyayangimu, memilikimu...aku jadi sedikit egois," ungkap Ash


" Astaga, katakan ini mimpi..."


" Bukan, ini kenyataan bahwa aku mencintaimu, kamu yang mulai membahas ini, jadi jangan salahkan aku..." kata Ash dengan tawanya yang seakan merasa lega.


" Mamah..." meringis, entah kenapa Olivia seakan mendapat sifat yang sebenarnya, Ash malah menertawakan.


" Gadis kecil yang nakal! " Melepaskan pelukannya, Ash membalikan tubuh Olivia perlahan, menatap dengan senyuman, namun Olivia tampak bodoh seakan sifat dewasanya hilang entah kemana.

__ADS_1


" Bisakah aku memilikimu?" tanya Ash


" Bodoh!" Ejek Olivia, merasa Atmosfernya terasa berbeda, dia kembali ke sifat aslinya.


__ADS_2