
Setelah menenangkan Nisya, Ruslan pun menarik gadis itu keluar dari warnet dan mengajaknya ke tepi danau, tempat biasanya keduanya menghabiskan waktu.
Di rasa mulai tenang, wanita itu pun mulai bercerita dari awal, bagaimana dirinya bisa terjebak di warnet?
Semuanya berasal dari Nisya yang sudah menyukai Antonio dari kecil bahkan Ruslan pun tahu tentang hal itu. Tapi tidak mengenalnya dengan baik, dirinya hanya sebatas tahu nama serta wajahnya saja.
Saking sukanya, Wanita itu rela belajar mati-matian agar bisa masuk ke sekolah yang sama dengan pria itu.
Meski pun dia dengan Antonio itu berada di tingkat yang berbeda dengan selisih satu tahun.
Meski Nisya tahu bahwa pria itu sudah memiliki kekasih, namun ia tak bisa melupakan perasaannya terhadap pria itu. Pada akhirnya ia harus rela menelan cuka setiap hari.
Baginya, tak apa asalkan dirinya bisa melihat pria itu tersenyum bahagia, hal itu sudah cukup baginya, meski pun ada duri yang selalu menusuk hatinya.
Suatu hari, Nisya tak sengaja melihat Antonio tengah bercumbu di belakang sekolah bersama dengan sang kekasih.
Membuat hatinya merasa tersayat-sayat, termasuk kedua matanya yang merasa perih. karena tak kuasa ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.
Namun tiba-tiba, secara tak terduga, sebuah bola basket mengenai tepat ke kepala Nisya sehingga membuatnya mimisan dan jatuh pingsan.
Saat tersadar, dirinya sudah berada di UKS dengan seorang pria yang tengah menatapnya dengan tatapan lega.
" Kamu baik-baik saja? Sorry tadi nggak sengaja. " kata pria itu.
Nisya pun mengernyitkan dahinya, ia pun perlahan bangun dari posisi tidurnya seraya memegangi kepalanya yang terasa pening.
" Iya, nggak apa-apa kok. "
" Oh iya, kamu tinggal di mana? Aku anterin yah. " tawar pria itu.
" Nggak perlu, gue udah di jemput. "
Mendapat jawaban tersebut, pria itu pun terlihat tampak lesu, namun di detik berikutnya, raut wajahnya berubah menjadi seratus delapan puluh derajat, ia pun mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya sebagai Bismo dari kelas 8c.
Nisya pun langsung menerima uluran tangan itu. " Gue Nisya. "
Sejak saat itu, keduanya mulai dekat dan menjalani sebuah ikatan persahabatan.
__ADS_1
Akan tetapi, lambat laun perasaan lain dari Bismo mulai tumbuh, laki-laki itu mulai tak suka jika Nisya berdekatan dengan pria lain selain dirinya.
Bahkan, dia menganggap bahwa dirinya adalah satu-satunya laki-laki yang boleh dan pantas berada di samping Nisya.
Akan tetapi, perasaan Nisya berlawanan dengan Bismo, sebab dirinya menganggap laki-laki itu sama hal nya dengan Ruslan. Yang merupakan sahabat dekatnya. Sebab, dirinya masih menyukai Antonio.
Sejak menyadari sikap aneh dari Bismo, Nisya pun mulai risih, terutama sikap protektifnya yang menurutnya berlebihan, ia pun memilih untuk menjaga jarak. Keduanya pun mulai jarang berkomunikasi, karena Nisya yang selalu menghilang bagaikan hantu.
Akan tetapi suatu hari, di hari pertandingan olah raga antar sekolah tingkat Nasional, Nisya yang di paksa ikut oleh salah satu temannya, hanya bisa pasrah. Ia pun menghadiri lomba itu hingga membuat pria itu tersenyum bahagia.
Berbeda dengan Nisya yang merasakan firasat buruk yang akan menimpanya.
Saat itu, sekolahnya berhasil mengantongi piala basket tingkat Nasional. Tentunya Nisya pun ikut senang, karena klub basket sekolahnya berhasil mengharumkan nama sekolah Sky Dream.
Di tengah riuhnya penonton atas kemenangan yang di raih oleh sekolah Sky Dream, Bismo tiba-tiba memanggil Nisya untuk turun ke lapangan.
Meski tidak tahu, Nisya pun dengan patuh mengikuti perkataan Bismo. ia pun turun dan menghampiri pria itu.
Di detik berikutnya, Nisya di kejutkan oleh Bismo yang tiba-tiba menyatakan perasaannya di tengah lapangan yang masih terdapat banyak penonton.
Nisya yang masih terkejut pun, memilih meninggalkan pria itu tanpa memberinya sebuah jawaban kepastian.
Dalam hitungan detik, suasana lapangan mun menjadi sunyi dan suram.
Bismo yang merasa di permalukan, langsung mengejar Nisya.
" Apa aku mengagetkan mu? Maaf aku tidak bermaksud, tapi tenang saja aku bisa menunggu, jadi. .
" Maaf Bismo, aku tak bisa menerima perasaan mu. " sela Nisya
" Kenapa? Apa kamu masih mengharapkan kak Antonio? "
" Salah satu alasan nya memangnya itu, tapi alasan lain karena, aku sudah nyaman dengan status pertemanan kita. " terang Nisya.
Bismo pun terdiam sejenak, ia pun mengacak rambutnya frustasi. " Lalu bagaimana dengan ku? Aku sama sekali tidak nyaman dengan status teman yang melekat di diriku " ujarnya. " Nisya bisakah kamu mempertimbangkannya lagi? Aku mohon. " pintanya.
" Maaf, Bismo. Aku tak bisa memaksakan perasaan ku. " Nisya pun meninggalkan Laki-laki itu.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Bismo pun mulai menjauhi Nisya. Kendati begitu keduanya masih menjadi bahan perbincangan di seluruh sekolah.
Mereka sangat menyayangkan, hubungan keduanya yang tak bisa bersatu itu.
Sungguh Nisya tak pernah menyangka hubungan pertemanannya dengan Bismo akan berakhir seperti ini.
Akan tetapi, tanpa di sadari, pria itu malah menjadi penguntit yang selalu mengikuti Nisya kemana pun dia pergi.
Hal itu di sadari, ketika Nisya yang merasa bahwa ada seseorang mengikutinya terus menerus. Hingga dirinya tak sengaja melihat bayangan Bismo dari balik kaca di sebuah toko.
Dengan sekuat tenaga, Nisya pun mencoba menjauh, namun seberapa keras ia mencoba, pria itu akan terus mengikutinya. Maka dari itu, ia pun meminta bantuan Ruslan.
" Jadi gitu, gue itu bingung harus buat dia berhenti, itu kayak gimana? " ujar Nisya
" Makanya kalau punya pacar itu satu bukannya bejibun. Lagian sih, kan gue udah pernah bilang jangan mainin perasaan cowok tahu sendiri kan akibatnya. "
" Iya mana gue tahu kalau dia naruh perasaan sama gue, gue pikir dia sebelas dua belas sama lo. " tukas Nisya.
" Lo pikir cowok bukan manusia, yang namanya manusia pasti ada bedanya, salah satunya gue yang nggak suka sama lo karena kita udah tumbuh kayak saudara, berbeda dengan dia. Ngerti? "
Nisya pun hanya terdiam seraya merenungkan perkataan dari Ruslan.
" Jadi cowok gue yah. " ucapnya tiba-tiba.
Kedua mata Ruslan pun mendelik tajam pada wanita yang di sampingnya, jari telunjuknya menekan dahi Nisya hingga membuat kepala gadis itu menjadi mundur ke belakang.
" Ogah, lo kira gue cowok apaan! Nggak pokoknya nggak. "
" Please, mau yah, cuman boongan doang kok. " pinta Nisya seraya memelas.
Namun Ruslan tak terpengaruh sedikit pun, ia tetap menolak dengan tegas permintaan temannya itu.
Bagaimana bisa dirinya menjalin hubungan di saat dirinya tengah berjuang mendapatkan hati seseorang?
Begitu pula dengan Nisya juga tetap bersikeras, meminta bantuan Ruslan dan berjanji akan membantunya untuk mendapatkan Ruksa.
Namun Ruslan tetap menolak, dari pada menjadi pacar bohongan ia lebih baik baku hantam saja sekalian.
__ADS_1