
Saat ini Olivia tidak punya alasan untuk berpergian.
" Ah kalau di ingat-ingat lagi, Ash itu..." tersenyum
" Anak yang benar-benar nakal kan, mentang-mentang penyihir hebat, siapapun tidak akan tahan dengan sikapnya, ibunya pun tak terkecuali... Aih mengapa, mengapa dia sangat manja padaku?" senyum, mengingat kembali apa yang terjadi saat itu, Ash yang bersikeras menyuapi Olivia, bahkan dirinya hampir frustrasi karena mendapat penolakan bertubi-tubi, hingga akhirnya Olivia mengalah dan mau disuapi Ash.
" Aaa...?! Buka mulut, " perintah Ash
" Aaa?? " menurut. Dan yeah dengan itu saja Ash sudah girang, betapa sederhananya kebahagiaan Ash pikir Olivia.
" Kalau di lihat dengan semsama, dia punya tahi lalat di pipi kanan, punya mata merah menyala, ah? Ahahah merah menyala? Kaya seram tapi nyatanya itu terlihat keren... Hmm dirinya memang sesuatu..." memerah. Disisi lain.
" Huh, " tidak semangat
" Rasanya kalau lama-lama yang menempati dirimu rasanya menjengkelkan, "
" Baru keluar dari neraka, kekasih orang malah mengomel," menghela nafas
" Habisnya tampangmu itu bikin kesel, "
" terserah kamu ajalah, " mencibir
" Haih, "
" Putri Olivia kan dingin, kamu suka dari apanya? Aih ayaya dia cantik dan cerdas, aku melupakan itu, " mereka berjalan menuju kamar Olivia.
" Yang cantik di dunia ini banyak, tapi yang membuat aku tertarik hanya dirinya seorang, aku rasa dia berbeda, tidak gampang nangis, tapi itu membuat aku ga tahan ingin lihat dia nangis, bodohkan aku? "
" Nggak, "
" Dia dingin, memang tipe ku, mata tajamnya, dia itu hanya anak kecil tapi dia sudah luar biasa dan seakan sudah dewasa... "
" Oh, terus? " merasa tertarik
" Saking dinginnya, aku ingin liat dia senyum, "
__ADS_1
" belum pernah senyum?! " terkejut
" Pernah, bukan senyum manis, senyum licik yang khas yang keren yang...ah tapi dia pernah tersenyum, " memerah
" Kamu merona? Kapan itu? "
" Rahasia, " menutup mulut dengan satu jari
" Ishh bilang dong!"
" Kaya fenomena, jarang terjadi pokoknya, " ucap Ash
" Kekanakan banget, bahagiamu sederhana, semua darinya, putri Olivia"
" Iyalah, kamu juga sama! Keluarga sederhana yang bahagiaKalo di pikir-pikir, Aku ini anak nakal yang susah diatur dan di pahami, saat itu aku berebut dengan Putri Olivia, dia masih bayi saat itu, Aku balita kayanya, lupa, hanya ingat masa itu, ibuku mau liat putri Olivia yang baru lahir, aku juga diseret ikut pergi, "
" Ah kamu pasti langsung terpesona, "
" Salah banget, dia memang lucu saat itu, haha tapi saat itu... " mengingat.
" Nyonya Agerda bisa saja, " Nyonya Widi, panggilan kesehariannya.
" Aku sungguh-sungguh loh, "
" Itu Anakmu? Manis sekali, " senyum lembut
" Aku ga manis, aku tampan dan sempurna, " Ash selalu membanggakan dirinya sendiri
" Ah dia memang begitu,"
" Percaya diri sekali ya, itu bagus" senyum
" Ah nyonya, aku punya ini,"
" Apa ini? "
__ADS_1
" Botol ramuan, semacam obat agar nyonya lekas sehat, " senyum
" Mah, aku ingin lihat mukanya putri, " penasaran
" Astaga, maafkan mamah sayang, sini gendong"
" Aku bukan anak kecil mamah, " mencibir
" Lihat, Cantik kan,"
" Dia itu boneka mamah! "
" Boneka apa? Liat dengan jelas, "
" Dia hidup? "
" Iyalah, haiss anak ini, " nyonya widi hanya tersenyum simpul.
" Bagaimana Ash? Kalian bisa berteman, seperti mamah dan nyonya Widi, "
" Dia lucu, tapi ga setampan aku, "
" Putri Olivia ga bisa tampan sayang, dia Cantik, beda Cantik sama tampan ya, "
" Tapi yang jelas aku lebih luar biasa, "
" Ah anak ini benar-benar deh, maafkan putraku ini nyonya,"
" Tak apa, dia begitu polos, dan bisakah kalo kita berdua panggil nama saja, "
" Aiy aku kan sedang membiasakan diri,"
" Ga usah, aku ga keberatan, kalau orang lain biasa panggil yang mulia ratu, "
" Ah kan aku salah, "
__ADS_1
" Haha, buat kamu ga apa, "