
Setelah mengingat kembali kejadian pada waktu itu, membuat Dania merasa ngeri dan tak ingin mengalaminya lagi sampai kapan pun.
Ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya jika Ismail tak datang di waktu yang tepat, mungkin saja jiwanya sudah pergi ke nirwana pada hari itu juga.
Bagi Dania, Ismail adalah sosok penyelamat baginya, ia tak akan pernah melupakan jasa itu sampai kapan pun.
Jika di pikir kembali, ternyata pemilik asli tubuhnya itu seorang wanita hebat, ia merasa malu dan tak pantas berada di tubuh itu. Ingin rasanya ia segera kembali ke tubuh aslinya, berjanji pada dirinya untuk belajar lebih giat lagi untuk bisa membuktikan bahwa dunia bahwa dirinya pantas di perlakukan baik, ia juga berharap bisa tumbuh menjadi kuat dan tak kenal takut seperti Ruksa.
Dari kejadian itu Dania belajar, bahwa menjadi seorang wanita harus menjadi kuat, agar tidak di injak-injak.
Brak!!
" Kok lo malah bengong sih?! Bukannya bantuin gue. " ujar Ruksa yang mulai kesal karena sudah di abaikan sejak tadi.
Tubuh Dania pun tersentak dan tersadar dari lamunannya, kedua kelopak matanya mengerjap lalu menatap pada Ruksa dengan tatapan linglung.
Ruksa yang melihat pemandangan tersebut, merasa kesal ia pun hany bisa menggertakkan giginya dengan kedua tangan yang terkepal di atas meja.
Bagaimana bisa, gadis itu membuat wajah arogannya menjadi wajah konyol nan bodoh?
" Berhentilah membuat tampang seperti itu, atau gue pukul. "
Seketika, Dania pun menundukkan kepalanya seraya menatap lantai kafe.
" Bisa nggak sih? Selama lo berada di sana jangan buat ekspresi kayak gitu? "
" Seperti apa? " tanya Dania kembali dengan raut polos tak tahunya
Ruksa pun langsung mengibaskan tangannya di depan wajahnya, lalu memalingkan wajahnya ke samping. " Lupakan saja, " ujarnya.
Di liriknya kembali Dania yang berada di sebrang sana membuat Ruksa tak tahan lagi melihatnya. Hatinya menjerit ingin menangis, berharap bahwa waktu bisa berjalan dengan sangat cepat. Agar jiwanya bisa kembali ke tubuh aslinya.
Kendati begitu. Ruksa menyadari akan sikap aneh dari gadis itu, ia pun mencoba menenangkan diri. Dengan berpikir apa yang di depannya bukanlah tubuh aslinya melainkan milik orang lain.
__ADS_1
" Apa ada masalah? Katakan saja. Siapa tahu gue bisa bantu, " Tanya Ruksa, salah satu tangannya mengambil es krim menggunakan sendok, memasukkan es krim itu ke dalam mulutnya dengan nikmat. " Kecuali . . . jika lo mau ketemu sama bokap lo. Seberapa keras lo meminta, gue nggak bakalan kasih izin. Ingat! Perkataan gue mutlak. " tambahnya dengan nada serius.
Seketika air muka Dania berubah menjadi keruh, ia menundukkan kepalanya, kedua tangannya menggenggam erat ujung bajunya, menahan air mata yang siap meluncur kapan saja.
" Kalau begitu pikirkan saja sendiri, " Dania berkata seraya beranjak dari kursinya.
Tubuh Ruksa langsung tertegun melihat sikap Dania yang berubah secara tiba-tiba itu. Kepalanya mendongkak ke atas menatap wajah serius dari gadis itu. " Tunggu, jadi maksud lo. Lo nggak mau bantuin gue gitu? "
" Aku mau, asalkan . . .
" Tidak! " Sela Ruksa yang tahu kemana jawaban mengarah. Ia pun meletakkan sendok es krimnya, melipat kedua tangannya di dada.
Keduanya saling bertukar tatapan.
" Lo nggak denger yah, jawaban gue itu mutlak. Kalau gue bilang iya berarti iya, begitu pula sebaliknya. Jika gue bilang tidak, berarti tidak. Paham? "
Dania pun mendengus. " Nggak! Aku nggak paham sama sekali, kenapa kakak melarang ku untuk bertemu dengan ayah?! " ucapnya setengah berteriak.
Ruksa pun memilih terdiam, tak berkata sepatah kata pun.
Kedua tangannya menggebrak meja, tubuhnya condong ke depan hingga wajahnya dengan wajah Ruksa hanya berjarak beberapa senti saja.
Dania pun mendekatkan ke arah daun telinga Ruksa, membisikkan bahwa ayahnya adalah orang yang paling sulit di bujuk, ia pun mengutarakan keinginannya pada Ruksa agar gagal membujuk ayahnya berbaikan.
Akan tetapi, Ruksa tak bergeming sedikit pun. Wajahnya tetap datar seperti sebelumnya.
Gadis itu pun menyunggingkan senyumnya, menjauhkan tubuhnya dari Ruksa lalu berjalan keluar dari kafe.
Dari balik jendela kafe, Ruksa menatap kepergian gadis itu. Sampai sosoknya benar-benar hilang sepenuhnya.
" Wah ternyata dia sudah tumbuh, jadi terharu. " ungkapnya seraya kembali menyantap es krim yang kini tinggal setengahnya lagi dengan sangat lahap.
Tiba-tiba ia terkekeh, mengingat bagaimana gadis itu menekannya. " Wah, ternyata gadis itu sudah banyak belajar, kalau begitu aku tak perlu cemas jika kita sudah kembali normal. "
__ADS_1
Di kediaman Ruslan.
Waktu sedang menunjukkan pukul 16:00 sore, Dan Ruksa sudah berkutat di dapur sejak dirinya pulang dari Kafe, sebelum pulang ke rumah ia membeli beberapa bahan makanan untuk membuat puding coklat sebagai permohonan maaf.
Hanya cara ini yang Ruksa tahu agar pria itu mau memaafkan dirinya. Karena seingatnya, pria itu sangat menyukai makanan yang bernama pudding.
Beruntung, selama ini dirinya selalu berlatih membuat puding, jadi ia yakin bahwa buatannya ini bisa menggerakkan hati pintu maaf pria itu
Setelah berkutat selama kurang lebih dua jam, tak lama kemudian terdengar suara deru motor matic milik Ruslan dari arah halaman rumah.
Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, dengan antusias, Ruksa bergegas menyambut pria itu seraya membawa puding buatan kedua tangannya sendiri.
Setibanya di dalam rumah, Ruslan terkejut dengan sambutan antusias dari putrinya. Namun di detik berikutnya ia tersenyum hangat.
Ia pun mengajak putrinya, ke meja makan untuk memakan puding itu serta brownies cake yang ia beli di tengah jalan tadi.
Meski sebenarnya Ruksa kurang menyukai makanan manis kecuali es krim, namun mau tak mau ia harus bersikap antusias setiap kali potongan brownies itu masuk ke dalam mulutnya.
" Maaf, ayah sudah membentak mu, kamu tahu kan, sebenarnya ayah ini terlalu takut kehilangan kamu, karena kamu adalah satu-satunya anggota keluarga yang ayah punya. Dan kamu adalah satu-satunya yang membuat ayah bertahan hidup. " ujarnya tiba-tiba.
" Aku tahu. Maaf juga karena tak sempat mengabari. "
" Jika ayah boleh tahu? Kemana kamu pergi waktu itu hingga pulang larut seperti itu? . "
Ruksa pun menoleh, dan mulai menceritakan kronologi bagaimana ia bisa pulang terlambat
Setelah berhasil mengantar Alvaro ke rumah sakit dengan berjalan kaki dan membuat kedua kakinya di buat mati rasa.
Saat berniat pulang cepat. Sayangnya dirinya sudah ketinggalan kendaraan umum dan pada akhirnya memilih jalan kaki untuk bisa pulang ke rumah
Seketika hati Ruslan terenyuh dan merasa bersalah karena telah memarahi putrinya tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu. Kata maaf pun kembali terucap, tersirat jelas raut penyesalan yang begitu dalam.
" Tidak apa, lagi pula itu juga salah ku. Oh iya boleh kah aku bertanya? "
__ADS_1
" Apa itu? "
" Siapa itu Ruksa? "