Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
69


__ADS_3

Pelajaran pun berlalu dengan sangat lambat, Aldan pun seketika membenci Pak Wiro, selama pelajarannya, dia tak ada hentinya menyindir Dania yang merupakan murid beasiswa, pria itu berkata bahwa orang yang berasal dari kasta rendah, tak bisa di sandingkan dengan mereka yang berasal dari kasta tinggi. Tak peduli seberapa keras mereka mencoba, mereka tak akan pernah bisa mengimbanginya


Ingin rasanya Aldan maju kedepan dan meninju wajah pria itu hingga babak belur dan menutup mulutnya yang kotor, namun tak ia lakukan, sebab perempuan di sampingnya melarangnya dengan keras, dan membiarkan pria itu berceloteh sesukanya.


" Lo baik-baik aja? " tanya Aldan


" Tentu, memangnya kenapa? " Timpal Ruksa tanpa beban, tangannnya sibuk memasukkan makanan ringan ke dalam mulutnya.


" Lo nggak sakit hati? " Tanya Aldan kembali.


" Kenapa harus? " timpalnya kembali dengan wajah acuh tak acuhnya.


Aldan pun menghela nafas, ia tak mengerti dengan pemikiran perempuan di sampingnya. Perempuan itu tak menampakkan sedikit pun perasaan sedih atau pun marah, seakan-akan semua hinaan itu sudah lumrah di telinganya.


Berbanding balik dengan dirinya yang merasa ubun-ubunnya akan pecah kapan saja. Ia merasa kalau perkataan guru itu terlalu kasar dan frontal.


Bagaimana bisa pria busuk itu menjadi salah satu guru di sekolah elite ini? Seharusnya pihak sekolah tak boleh menerima pria busuk itu dan menjadi salah satu guru ini.


Memangnya kenapa jika berasal dari keluarga sederhana? Bukan berarti mereka tak memiliki hak apapun. Mereka pantas kok menerima hadiah yang sudah susah payah mereka perjuangkan. Sama hal nya dengan Dania, dia adalah gadis pintar hanya saja dia tak beruntung lahir di keluarga yang tidak berada, tapi dengan usahanya dia mampu mendapat beasiswa yang artinya dia lebih baik dari pada murid lain yang menggunakan jalur uang seperti dirinya.


Lagi pula di luaran sana, banyak keluarga kaya yang awalnya berasal dari keluarga sederhana yang berhasil menginjak orang-orang yang awalnya meremehkan mereka.


" Nah, kalau gedung ini adalah gedung seni, yang isinya sendiri sebenarnya gue nggak tahu sih. " kata Ruksa panjang lebar, namun tiba-tiba ia terhenti ketika tak mendapat respon dari Aldan.


Ruksa pun menepuk bahu Aldan dengan cukup keras, hingga membuat laki-laki itu tersentak dan tersadar dari lamunannya


" Lo kenapa bengong? "


" Oh itu. . .


"Jangan bilang kalau lo kasihan sama gue. " sela Ruksa.


" Kalau, iya kenapa? "

__ADS_1


Seketika Ruksa pun tergelak, terpingkal-pingkal. Tak lama kemudian ia pun menyeka air matanya akibat terlalu banyak tertawa.


" Gue hargai simpati lo, tapi untuk sekarang gue menikmati sifat mereka yang nggak suka sama gue kok, jadi lo nggak perlu cemas, " ungkap Ruksa sembari kembali berjalan santai. " ini mungkin terdengar aneh, tapi mungkin beberapa bulan ke depan, gue minta lo tetap jaga, bantu dan selalu percaya sama gue apa pun yang terjadi. "


Salah satu alis Aldan terangkat sebelah, rasanya dia seperti sebuah kepribadian yang sebentar lagi akan menghilang dari tubuh itu.


Tapi tiba-tiba Aldan pun terkekeh pelan, ia merasa bahwa perempuan di sampingnya sangatlah menarik, mungkin apa yang di katakan perempuan ini ada benarnya, dirinya terlalu berlebihan mencemaskannya, tangannya kemudian terulur mengusak puncak kepala perempuan itu lalu mengacak-acaknya


" Ih apaan sih, rambut gue! " pekik Ruksa yang mencoba menghentikan Aldan tanpa menyakiti pria itu.


" Dania! "


Seketika aktivitas mereka terhenti. Keduanya menoleh secara bersamaan, dan mendapati Mikael bersama Darian yang tengah berjalan ke arahnya.


" Ada apa? " tanya Ruksa.


" Siapa dia? " tanyanya dingin.


" Gue Aldan, murid baru di sini. " sela Aldan seraya mengulurkan tangannya ke arah Mikael


" Mikael, ketua osis dan dia Darian wakil osis. " timpalnya seraya menunjuk pada Darian yang berdiri di sampingnya, kedua bola matanya menatap keduanya secara bergantian. Salah satu alisnya berkedut melihat kedekatan keduanya yang seakan-akan sudah saling mengenal sejak lama.


" Apa yang sedang kalian lakukan? " tanya Mikael.


" Oh tadi . .


Tiba-tiba tangan Aldan merangkul bahu Ruksa membuat tubuh keduanya saling menempel. " Seperti yang lo lihat, dia sedang menjadi tour guide gue. " selanya kembali.


Alis Mikael pun kembali berkedut, tatapannya jatuh kepada tangan yang merangkul bahu itu dengan erat. " Apa harus sedekat itu? "


" Oh memangnya nggak boleh? " timpalnya dengan wajah tanpa dosa.


Tatapan Mikael pun semakin dingin, ia berjalan mendekati keduanya lalu menghempaskan tangan Aldan dari bahu Ruksa dengan tangannya sendiri. " Ini sekolah, tolong jaga sikap. " ucapnya dengan nada tegas.

__ADS_1


Aldan pun mendengus lalu mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, tangannya ia masukkan kedalam saku celananya.


" Bukankah kamu bisa meminta ketua kelas untuk membantumu berkeliling, kenapa harus Dania? " Tanya Mikael kembali.


" Gimana yah, gue mau nya sama Dania, kenapa keberatan? Lagi pula dia juga nggak keberatan, iya nggak. " menoleh pada Ruksa.


' Suasana macam apa ini?! ' Batin Ruksa


Ia pun menatap keduanya saling bergantian, mengenyitkan dahinya.


Tanpa di sadari, mereka sudah menjadi bahan tontonan seisi sekolah, bagaimana tidak? Seorang ketua osis tampan tengah memperebutkan seorang gadis jelek dengan murid pindahan yang sama-sama tampan tiada tara. Tapi ada juga yang berpikir bahwa keduanya akan menjadi pasangan di dalam dunia fantasinya


Tak sedikit dari mereka yang membayangkan tengah menonton sebuah drama, tapi tak sedikit pula yang menanamkan kebencian terhadap Ruksa yang berlagak seperti seorang putri.


" Apa itu benar Dania? " Tanya Mikael.


Ruksa pun menganggukkan kepalanya dengan cepat, lagi pula dirinya juga tak memiliki seorang teman, maka tidak ada salahnya. di tambah dirinya dan Aldan juga sudah berteman sebelum bertemu di sekolah. Jadi dirinya tak bisa menolak permintaan itu.


Entah kenapa Mikael merasa tak puas dengan jawaban yang di terimanya, membuatnya bungkam sejenak. " Baiklah kalau begitu, oh iya Dania jika ada sesuatu kamu bisa mengatakannya padaku. "


" Lo tenang aja, karena sekarang ada gue yang bakal ngejaga dan ngerawat dia, layaknya putri kandung. " ungkap Aldan, ia berjalan menghampiri Mikael, tangannya mulai merapihkan pakaian Mikael dari mulai dahi hingga blazer yang di gunakannya dengan sangat teliti. " Jadi lo bisa tenang mulai sekarang, dan lo bisa fokus dengan urusan Osis. " sambungnya seraya tersenyum memperlihatkan senyumnya yang manis membuat para siswi seketika meleleh


Di samping Mikael, Darian yang melihat perlakuan Aldan merasa terusik ia mencoba mengadili, namun Mikael langsung melarangnya dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. DAn juga ada banyak puluhan pasang mata yang sedang menonton mereka.


Kedua sudut bibir Mikael pun terangkat ke atas, ia kemudian berkata terima kasih lalu pergi. Namun setelah menjauh, senyum di wajahnya luntur, wajahnya mendingin bagaikan bongkahan es di Antartika.


Berbeda dengan Aldan yang masih memasang wajah tersenyum, di sampingnya Ruksa menatap datar, kedua tangannya terlipat di dada.


" Drama apa yang barusan lo mainkan " tanya Ruksa..


Aldan pun terkekeh pelan, tatapan terus menatap punggung Mikael hingga sosok itu menghilang di belokan lorong sekolah. " Bukan apa-apa, hanya saja melihatnya seperti itu membuatku sedikit terhibur. "


Di dalam hati Ruksa mendengus, memang keturunan keluarga Wisesa.

__ADS_1


__ADS_2