Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
67


__ADS_3

Tak terasa hari pun sudah menjelang sore, keduanya begitu asik bertukar cerita hingga tak menyadari waktu. Tak ingin membuat cemas orang tua masing-masing keduanya pun memutuskan untuk berpisah.


Selama perjalanannya ke ruangan tempatnya di rawat, Aldan tak bisa melupakan percakapannya dengan Dania tadi di taman. Meski ini adalah pertama kalinya dirinya bertemu dengan dia, tapi anehnya ia merasa nyaman, bahkan ia tak segan-segan menceritakan semua rahasianya pada waktu itu.


Rasanya tak ada batasan baginya untuk terbuka, padahal ia begitu tertutup pada siapa pun termasuk pada kakeknya sendiri.


Satu hal yang membuatnya terkejut, ternyata perempuan itu merupakan korban kekerasan sekolah yang pernah viral, saat itu dirinya tak tertarik dengan berita seperti itu.


Tapi sekarang, dirinya malah ingin memukul wajah semua orang yang menyakiti perempuan itu tanpa terkecuali.


Jika di pikir kembali, Dirinya dan Dania memiliki sedikit kesamaan, salah satunya tak memiliki seorang teman. Sungguh membuat hatinya merasa teriris, kenapa dunia begitu tidak adil.


Aldan pun tertegun, kenapa dirinya tiba-tiba merasa simpati pada Dania?


Aneh.


Bukannya ini kali pertama mereka bertemu, namun Aldan sudah merasa ada ikatan batin dengan Dania, rasanya ia ingin melindungi perempuan itu, tapi bukan dalam artian cinta antar lawan jenis melainkan seperti seorang saudara.


Ia pun terdiam sejenak, mungkin saja ini adalah pertama kalinya dirinya berbicara santai dengan sebayanya. Jadi dirinya merasa santai dan merasa bersimpati.


Cukup unik.


" Dari mana saja kamu? Kenapa kamu pergi sendirian tanpa di kawal, dan yang terpenting kenapa kamu tak memberitahu Kakek? "


Tubuh Aldan sedikit tersentak, mendapati suara halus dari kakeknya, ia menolehkan kepalanya dan mendapati sang kakek tengah terduduk di sofa dengan sebuah gadget di tangannya. Pria tua itu berdiri menghampiri lalu memapahnya ke atas ranjang.


" Aish, kamu tahu? Betapa cemasnya Kakek saat tak mendapati cucu kesayangan kakek di mana pun. " tambahnya.


" Kakek, bolehkah aku pindah sekolah? " pinta Aldan tiba-tiba.


Salah satu alis Chandra terangkat sebelah, kedua matanya menatap wajah serius dari sang cucu, di detik berikutnya kedua sudut bibirnya terangkat ke atas seraya terkekeh pelan, tangannya mengelus puncak kepala sang cucu dengan lembut. " Tentu saja boleh, kenapa juga tak boleh? Tapi sehatkan dulu badan mu terlebih dahulu. Kakek tak mau terjadi sesuatu padamu lagi."


Aldan pun menganggukkan kepalanya, dan mengklaim bahwa dirinya sudah sehat.


Namun Chandra tak menggubrisnya. Tangannya sibuk menata selimut untuk menutupi tubuh sang cucu.

__ADS_1


" Kakek? " panggil Aldan.


" Iya ada apa? "


" Maaf. " Kata itu terlontar begitu saja dari mulut Aldan seraya memalingkan wajahnya karena tak berani menatap kedua mata sang kakek, kedua pipinya menjadi merah merona.


Tentunya hal tersebut, membuat aktivitas Chandra terhenti sejenak, dahinya mengernyit, kepalanya menoleh dan menatap wajah sang cucu, kedua matanya mengerjap, tak biasanya cucunya ini berkata seperti itu.


" Maaf, karena apa? Memangnya kamu punya salah apa sama Kakek? Hmm. "


" Maaf, karena mengabaikan mu beberapa hari ini, seharusnya aku tidak bersikap seperti itu pada mu. Padahal aku tahu bahwa Kakek pasti sangat lelah dengan semua pekerjaan yang menumpuk dibahu mu, tapi Kakek tak menggubris rasa lelah itu, dan memilih menemui ku, tapi aku malah bersikap dingin terhadap mu. " Ungkap Aldan dengan tulus.


Tubuh Chandra seketika tertegun, kedua matanya berkaca-kaca, untuk pertama kalinya dirinya mendapat ungkapan tulus dari sang cucu. Setan apa gerangan yang merasuki tubuh cucunya? Rasanya dia tak seperti cucu yang di kenalnya.


Karena tak kunjung mendapat jawaban, perlahan, kepala Aldan menoleh, menatap wajah sang Kakek yang masih terdiam " Apa Kakek marah padaku? " tanya Aldan penuh kehati-hatian.


Chandra pun menggelengkan kepalanya, " Tentu saja tidak, kenapa Kakek harus marah pada cucu kakek satu-satunya? Kakek hanya sedikit terkejut dengan perubahan sikap mu. Kalau boleh tahu kenapa kamu ingin pindah? "


" Kalau aku bilang, hanya ingin saja, apa Kakek akan tetap memberi ku izin? "


Seketika Chandra pun tergelak dengan perkataan sang cucu, sudah lama dirinya bisa tertawa lepas seperti ini. Tangannya menyeka air mata yang keluar dari pelupuk matanya, ia menatap sang cucu seraya mengatakan, bahwa dirinya hanya ingin tahu saja, jika memang itu keinginannya untuk pindah sekolah. Maka ia akan mengabulkannya, entah itu keluar negeri sekali pun.


Salah satu alis Chandra terangkat ke atas, ia tak mengerti kenapa cucunya sangat ingin sekali pindah sekolah?


" Kamu yakin? "


" Sangat yakin. "


" Baiklah, tapi sebelum itu, lebih baik kita konsultasikan ke dokter apakah kamu siap untuk memulai aktivitas atau belum? " Chandra pun merogoh ponselnya, mencoba menghubungi sang dokter yang merawat cucunya, namun pergerakkan tangannya di tahan oleh sang cucu, ia pun mendongakkan kepalanya.


" Kakek, ku pikir itu tidak perlu, karena aku sudah sangat sehat. Lagi pula aku lebih tahu tentang kondisi tubuh ku sendiri dari pada siapapun, jadi bisakah kita pulang? "


Kedua tangan Chandra terlipat di dada, bagaimana bisa sifat keras kepalanya bisa menurut pada cucunya?


" Baiklah kalau begitu, tapi dengan satu syarat. Dan kamu harus memenuhinya. " ujar Chandra.

__ADS_1


" Baiklah, apapun itu, akan aku lakukan. "


Pasangan cucu dan kakek itu saling terdiam dengan kedua mata yang saling bertatapan, tiba-tiba suasana dalam ruangan itu terasa dingin mencekam.


Keringat pun mulai membasahi pelipis Aldan, dengan degup jantung yang berpacu dengan kencang, ia begitu gugup mendengar permintaan sang kakek.


" Kalau begitu, ulangi perkataan tulus mu tadi, Kakek belum sempat merekamnya."


Seketika Aldan pun melongo, bagaimana bisa pria di depannya ini menjadi kakeknya? Dari semua yang bisa di mintanya, kenapa harus itu? Rasanya ia ingin resign menjadi cucunya saat itu juga.


Setelah melakukan percobaan sebanyak sepuluh kali, akhirnya Aldan bisa terbebas dari pemintaan aneh kakeknya, kedua telinga terasa sakit ketika pak tua itu dengan sengaja memutar klip itu berulang kali selama di perjalanan. Sehingga membuat raut di wajahnya menjadi suram


Berbanding balik dengan Chandra yang tersenyum cerah, ia berniat menjadikan klip suara itu menjadi nada dering ponselnya, namun dengan tegas cucunya menolak dan mengancam akan kabur dari rumah.


Tentunya hal itu tak di inginkan oleh Chandra, ia pun meminta ganti dengan membiarkan dirinya memutar klip itu hingga membuatnya bosan.


Esok paginya


Di depan cermin, Aldan mematut dirinya di depan kaca, meski masih tersisa sedikit memar di wajahnya, namun tak menurunkan ketampanan yang di milikinya.


Ia pun berjalan menuruni tangga menuju ruang makan, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat sang kakek yang terduduk di meja makan.


" Kenapa kamu diam saja di sana? Ayo sarapan bersama. "


" Kakek tak pergi bekerja? "


" Aish, kenapa? Apa kakek mu ini tak berhak mendapat libur? "


" Bukan seperti itu, bukankah kakek sedang sibuk mengurus proyek di luar negeri? "


" Sebenarnya kakek punya kabar bahagia untuk mu. "


" Apa itu? "


" Mulai sekarang, kita akan sarapan bersama seperti ini, sebab kakek sudah di pindahkan ke kota ini, jadi kakek bisa menemanimu, setidaknya kakek tak ingin membuat mu kesepian lagi. "

__ADS_1


Aldan pun terdiam tak merespon. Ia pun menarik kursi lalu terduduk kemudian menyantap sarapan paginya.


Chandra yang melihat hal tersebut tak bisa berkata-kata, bagaimana bisa cucunya itu tak memberinya respon sedikit pun? Apa dia masih marah karena klip itu?


__ADS_2