
" Lalu apa yang kamu inginkan dari ku? Pasti ada alasannya bukan? Memberi tahu ku kebenaran ini? " ucap Arga .
Tanpa berpikir panjang, wanita itu mengatakan bahwa dirinya sangat membutuhkan uang untuk bertahan hidup, terutama untuk bersembunyi dari Chandra agar tidak di temukan.
" Memangnya berapa yang kamu butuhkan? "
" Dua puluh Juta mungkin cukup untuk menginap di hotel beberapa hari. "
Arga tercengang, setelah mendengar nilai yang sangat fantastis itu, terlebih lagi dirinya hanyalah seorang pelajar.
" Dua puluh juta?! Jangan bercanda. . .
" Ibu tahu, ini mustahil bagimu, tapi ibu tak tahu harus pada siapa lagi meminta bantuan? Lihat, tubuh kurus kering ibu mu ini. Jika tidak bisa, kamu bisa memberi ibu seperempatnya dulu. "
Arga terdiam, menatap tubuh kurus itu dengan tulang yang menonjol keluar. Betapa kurusnya dia, membuatnya merasa sakit hati.
Pada akhirnya ia membawa wanita itu ke mesin atm untuk mengambil uang jatah bulanannya sebanyak tujuh juta.
" Mungkin ini tidak . . .
Belum sempat, Arga menyelesaikan perkataannya, wanita itu langsung menyambar uang itu dari tangannya.
__ADS_1
. . . Banyak, tapi ku harap itu bisa membantu mu. " sambungnya.
" Tidak apa-apa, kalau begitu, ibu pergi. "
Arga menghela nafas, kedua matanya menatap punggung wanita itu yang perlahan menghilang, apakah ini adalah keputusan yang tepat?
Belum genap satu bulan mereka bertemu, wanita itu sudah meminta uang pada Arga untuk ketiga kalinya membuatnya stress, bahkan untuk mencukupi kebutuhan ibunya itu, ia harus memutar otak dengan cukup keras, salah satunya menjual beberapa barang yang di milikinya, namun hal itu masih tidak cukup, sebab, ibunya terus mendesaknya untuk terus memberinya uang dalam jumlah yang cukup besar, membuat kepalanya terasa ingin pecah saat ini juga.
" Bukankah, aku baru memberi mu uang seminggu yang lalu? Kemana perginya semua uang itu? "
" Arga dengarkan ibu mu, kamu tahu, sebelum menemukan mu, ibu terpaksa meminjam uang pada rentenir, dan sekarang, mereka meminta uang mereka kembali. " Terangnya sembari menangis sesenggukan. " Maafkan ibu karena telah menyusahkan mu, mungkin seharusnya ibu pergi saja dari dunia ini, agar tak menjadi beban bagi mu. " Sambungnya lalu mengeluarkan sebuah pensil alis dari dalam tas dan mengarahkan benda itu ke lehernya.
" Sungguh? "
Arga langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Mendengar hal itu, wanita itu langsung menjauhkan benda itu dari lehernya menjauh.
Seketika, Arga menghela nafasnya dengan lega, meski ibunya sering menyulitkannya, namun sesekali wanita itu memberinya kehangatan yang tak bisa di dapatnya dari Ayahnya.
" Kalau begitu, bisakah kamu mentransferkan uangnya melalui rekening? Sebab, ibu merasa bahwa Ayah mu sudah mulai curiga. "
__ADS_1
" Aku tahu. "
" Ibu tahu, semua ini pasti sulit untuk mu, tapi ibu hanya bisa berharap kamu bisa sabar, ibu berjanji akan mengembalikan uang yang kamu berikan, " ungkapnya. " Kalau begitu ibu pamit, semoga kamu sehat selalu. Ibu menyayangi mu. "
Kepala Arga tertunduk, menutup kedua matanya. Sampai kapan dirinya akan terus begini? Semua barang berharganya sudah ia jual semuanya dan sudah tak ada lagi yang tersisa, ia takut jika ayahnya bisa menyadarinya dan membuatnya tak bisa bertemu dengan ibunya lagi.
Di saat, dirinya tengah kebingungan, tiba-tiba seorang gadis yang usianya tak jauh dengannya, rambutnya sebahu, bentuk tubuhnya tinggi semampai dengan wajah manis yang di milikinya, namun Arga tak tertarik sama sekali dengan kehadiran gadis itu, kedua matanya kembali fokus melihat pemandangan kota dari atas gedung.
Keduanya saling terdiam, hingga gadis itu menawarkan sesuatu yang tidak terduga.
" Apa kamu sudah gila?! Bagaimana bisa kamu mengajakku untuk berbisnis haram seperti itu? Aku tidak mau, lebih baik tinggalkan aku sendiri. "
" Terserah padamu, tapi. . . jika berubah pikiran, kamu bisa menghubungi ku melalui no itu.
Dahi Arga mengernyit, tangannya meraih kertas itu, merobeknya tepat di depan wajah gadis itu
" Sorry, nggak butuh. " ujar lalu meninggalkan gadis itu.
Salah satu, sudut bibir wanita itu terangkat ke atas, berbalik menatap punggung pria itu.
" Lambat laun aku yakin, kamu pasti akan menghubungi ku Arga Wisesa. "
__ADS_1