
Sebagai bentuk permintaan maaf atas sikapnya yang kurang sopan, Dania pun mengajak Arga untuk makan siang di sebuah hotel berbintang tujuh, tentunya ia yang akan membayar semua makanan itu.
Tentunya, ajakan itu di terima baik oleh Arga, pria itu dengan senang hati menerimanya, dia berpikir bahwa tak ada salahnya menerima traktiran itu.
Keduanya pergi dengan menggunakan kendaraan masing-masing demi kenyamanan bersama.
Sesampainya di tempat tujuan, keduanya memesan beberapa menu set makanan lokal yang di dalamnya terdapat semangkuk sup,.
Tiba-tiba dahi Arga mengernyit heran ketika menyadari bahwa wanita di depannya tidak mengatakan apapun pada sang pelayan pria terkait pesanan mereka yang sama persis.
" Apa hilang ingatan bisa membuat orang jadi berubah selera yah? " Tanya Arga tiba-tiba.
" Maksudnya? " tanya balik Dania dengan wajah bingungnya.
" Bukan apa-apa, kayaknya ingetan gue agak rusak, soalnya gue baru tahu kalau selera makan kita sama. Karena seingat gue lo tuh paling anti sama yang namanya seledri. " terang Arga.
" Mungkin ingetan kamu memang sudah rusak. " timpal Dania dengan wajah datar.
Arga terdiam kebingungan, mencoba mengingat sebisa mungkin, namun di detik berikutnya, ia mengangguk-anggukkan kepalanya, menerima pernyataan dari saudaranya itu. Ia akui memang ingatannya memang tidak bagus dari dulu.
__ADS_1
Jangankan mengingat selera makan orang, ulang tahun anaknya sendiri saja, ia selalu lupa.
Mengingat hal itu, membuatnya tiba-tiba teringat akan anaknya yang masih belum bangun dari tidurnya. Tanpa sadar menghela nafas.
Dania yang menyadari hal tersebut mengira bahwa pria itu tak menyukai restoran pilihannya, " Kenapa? Apa kamu tak menyukainya? Jika tak suka kita bisa berpindah tempat. "
" Ah bukan itu . . . Bisa nggak sih, cara ngomong lo di ubah jadi santai? Soalnya gue ngerasa kayak ngobrol sama orang tua. "
" Maaf, sudah kebiasaan. Oh iya, bagaimana dengan kondisi Paman Chandra dan Aldan? " tanya Dania mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba Aldan kembali menghela nafas dan mengatakan bahwa Ayah dan Anaknya masih dalam keadaan tertidur, mungkin mereka berdua sedang membalas dendam padanya karena sikap acuh tak acuh yang selalu di pasangnya untuk menghadapi dua orang itu.
Kini, ia mengerti bagaimana rasanya di abaikan.
" Iya, kenapa? "
" Terima kasih. Jika bukan karena lo mungkin gue nggak bisa lihat dia lagi dan berakhir jadi Ayah yang buruk. " raut wajah Arga berubah menjadi sedih, ia menyadari bahwa sebenarnya ia sudah menjadi Ayah yang buruk bahkan sebelum Aldan terlahir ke dunia.
Ia terus mengutuk dirinya sendiri karena sifat egoisnya, jika tidak, mungkin anaknya tidak akan semenderita itu, meski memang Aldan adalah anak yang tak pernah ia duga ada, tapi, dia tetaplah darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
Padahal dulu, ia penah berjanji tak akan menjadi sosok Ayahnya yang selalu memaksakan kehendak seorang anak dengan keegoisannya, namun tanpa sadar dirinya malah sudah menjadi sosok Ayah yang mirip dengan Ayahnya sendiri yang mementingkan ego dari pada perasaan sang Anak.
Memang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
" Sorry, gue malah curhat kayak gini. Lo pasti boring kan dengerin curhatan gue " ungkapnya tiba-tiba
Dania yang sejak tadi menjadi pendengar setia, langsung menggelengkan kepalanya, ia berkata bahwa dirinya tidak bosan sama sekali.
" Oh iya.. .
" Pesanannya Tuan, Nyonya. " Tiba-tiba seorang waiters datang membawakan pesanan mereka yang kemudian di letakkan dan di susun rapih di atas meja, memotong percakapan antara kedua orang itu.
" Tadi kamu mau ngomong apa? " Tanya Dania
Kedua bola mata Arga mengerjap, seketika pertanyaan yang ada di dalam kepalanya hilang begitu saja. Ia mendengus, betapa jeleknya ingatannya ini.
" Aromanya enak. " celetuknya tanpa pikir panjang.
Dania yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya dan menyetujui bahwa Aromanya benar-benar sangat enak dan mengundang cacing di perutnya bergejolak.
__ADS_1
" Terima kasih atas traktirannya, kalau bisa sering-sering yah. " ucap Arga.
" Sama-sama, kalau begitu saya pergi dahulu. " Dania pun pamit undur diri memasuki kendaraannya meninggalkan Arga seorang diri di depan restoran.