
Pada akhirnya Arga menerima tawaran pekerjaan dari gadis itu dengan mengedarkan Narkoba yang di kelolanya, ia terpaksa melakukan itu karena hutang besar yang ditanggungnya sekaligus ia harus membiayai hidup ibunya, tentunya hal ini di lakukan tanpa sepengetahuan Ayahnya.
Beruntung, pria itu masih belum curiga dengan aktivitas yang dilakukannya. Jika pria tua itu tahu, Arga yakin, kepalanya pasti tak akan berada di tubuhnya lagi.
Namun, sepandai-pandainya ia menyembunyikan mayat, pada akhirnya, baunya bisa tercium.
Karena nilainya yang semakin menurun, membuat pria itu perlahan menaruh curiga dan Arga sendiri menyadarinya.
Perasaan takut pun menyelimuti perasaanya, ia takut ketahuan.
Ia kemudian menceritakan hal tersebut pada wanita itu, namun, wanita itu malah menyuruhnya berbohong, dengan mengatakan bahwa dirinya tengah berkencan dengan seorang laki-laki, dan orang itu adalah orang yang sangat dicintainya.
Mulut Arga menganga lebar mendengar ide gila itu, bagaimana bisa wanita itu berpikir seperti itu, apa dia sudah gila? Kenapa harus berbohong seperti itu?
" Bagaimana kalau dia tak percaya? Jika dia percaya pun, hal itu tak menjamin jika aku tak di kurung, mungkin dia akan memanggil pendeta dan melakukan pengusiran setan terhadapku. " celetuknya dengan wajah frustasi.
" Bwahahaha. " Tiba-tiba wanita itu tergelak, dia berkata, ini pertama kalinya, iamendengar, bahwa orientasi seksual yang menyimpang, bisa di luruskan dengan cara pengusiran setan.
" Kamu tenang saja, katakan saja apa yang baru saja aku katakan, sisanya biar aku yang urus. " ujar wanita itu.
" Baiklah kalau begitu. Terima kasih. " Ucap Arga sembari tersenyum, awalnya ia mengira bahwa wanita di depannya ini sudah gila, tapi setelah mengenalnya beberapa hari, ternyata dia baik dan juga perhatian. Rasanya, dirinya telah menemukan seorang teman lama.
__ADS_1
*
" Dari mana saja kamu, kenapa baru pulang? Apa kamu tak punya mata untuk melihat jam? "
Arga yang baru pulang terkejut melihat sosok Ayahnya yang tengah terduduk di atas atas sofa, meski sudah menduganya, tapi ia tetap saja merasa terkejut.
" Bukankah, aku sudah bilang sebelumnya, bahwa aku ada les tambahan. "
Kedua mata Chandra menatap putranya dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Di tatap seperti itu, membuat Arga secara spontan meneguk salivanya.
" Lalu, apa ini? Kenapa kamu pergi ke bar? Dan juga siapa pria ini? " tanyanya
Kedua bola matanya terbeliak, ketika melihat photo-photo itu, sejak kapan? Mungkinkah wanita itu sudah menyiapkannya sejak awal?
" Kenapa diam? Ayah tanya siapa dia? Jika kamu tidak mengatakannya maka jangan salahkan Ayah jika. . ..
" Jangan sentuh dia. " Sela Arga.
" Coba kamu ulangi. "
__ADS_1
" Aku bilang, jangan sentuh dia satu helai benang pun, jika tidak, aku akan bunuh diri. "
" Kamu, berani mengancam Ayah. "
" Kenapa tidak? Aku sudah bosan hidup dalam genggaman mu, ini saatnya aku bebas. '
Plak!
" Apa kamu sudah gila?! Tinggalkan dia, atau tinggalkan rumah ini. " finalnya.
Arga mendengus, tangannya memegangi pipinya yang terasa panas, ada darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Kedua matanya menatap tak percaya pada Ayahnya, lalu memutuskan untuk pergi dari rumah.
Sejak saat itu, dirinya tak lagi pulang, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Arga mulai terbiasa menghasilkan uang dengan tangannya sendiri. Ia senang, akhirnya ia bisa hidup dengan keringatnya sendiri.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, ketika rekan timnya yang seorang gay memiliki perasaan terhadapnya lalu menjebaknya untuk berhubungan badan.
Tapi beruntung, saat itu Dewa langit masih menyayanginya, namun sebagai balasannya ia malah tak sengaja meniduri seorang wanita yang tak di kenal.
Karena panik, ia hanya bisa menuntun wanita itu untuk menemui Ayahnya jika terjadi sesuatu, sedangkan dirinya memilih untuk menjadi pengecut saja dengan pergi keluar negeri seorang diri tanpa membawa serta ibunya. Lagi pula ia sudah meninggalkan banyak uang untuk ibunya, supaya dia bisa memulai hidupnya dengan mandiri.
__ADS_1