Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
59


__ADS_3

" Nisya? Lo ngapain di sini?! Terus lo bawa bayi siapa? " tanya Ruslan dengan raut yang terkejutnya.


Akan tetapi, bukannya menjawab. Nisya yang dengan raut ketakutannya, meraih tangan Ruslan dan memintanya untuk menolongnya.


" Bentar, kalau gitu . ..


" Gue jelaskan nanti. " Sela Nisya, kepalanya menoleh kebelakang, di detik berikutnya kedua bola matanya terbeliak. " Pokoknya, tolongin gue dan anak gue. "


Ruslan pun hanya terdiam kebingungan.


" Ruslan!! " teriak Nisya. " Please. "


Walau dirinya masih tidak mengerti, Ruslan pun akhirnya membawa Nisya menghampiri sepeda motornya yang masih tergeletak di aspal.


" Itu dia! " Tiba-tiba seorang pria dengan stelan jas kantor berteriak, yang kemudian di ikuti oleh rekan-rekannya yang berada di belakang.


Nisya yang melihat hal tersebut, langsung mendesak Ruslan untuk segera bergegas.


Akan tetapi, kendaraanya berkata lain. Benda itu begitu sulit di hidupkan, sedangkan segerombolan pria itu mulai bermunculan dan berjalan ke arah mereka.


" Ruslan cepat! "


Melihat Nisya yang panik, membuat Ruslan pun ikut panik, " Ayolah Jalu, Lo nggak mau kan ayah lo ketangkep sama mereka. " Ucapnya.


Seakan mengerti apa yang di bicarakan tuannya, Sepeda itu pun akhirnya hidup di waktu yang tepat.


Keduanya pun berhasil meloloskan diri. Akan tetapi, itu semua bukan lah akhir, melainkan sebuah awal.


Layaknya sebuah film, Ruslan pun terpaksa melakukan aksi kejar-kejaran dengan para pria berjas itu yang mulai mengendarai kendaraan mobil.


Seketika, keringat panas dingin pun mulai membasahi seluruh tubuh Ruslan, namun ini bukan saatnya dirinya panik, sebab ini bukan pertama kalinya melakukan aksi kejar-kejaran seperti ini. Ia pun memikirkan bahwa dirinya sedang bermain seperti biasanya.


Anehnya hal itu mampu membuatnya tenang dan fokus melajukan kendaraannya untuk menghindari para pria asing itu.


Di jok belakang, tangan Nisya berpegang erat pada pinggang Ruslan. Memejamkan keduanya matanya seraya mendekap putrinya yang masih tertidur itu. Ia terus berdo'a dan berharap bahwa putrinya bisa selamat dan mendapatkan kehidupan yang layak untuk masa depan.


Selama aksi kejar-kejaran itu, salah satu dari mereka yang berada dalam sebuah mobil mulai menggunakan pistolnya dan menembakkannya ke arah Ruslan


Dengan lihai, Ruslan menghindari tembakan itu. Ia pun semakin membawa kendaraannya melaju dengan cepat, dengan mudahnya ia melewati setiap kendaraan mobil yang berada di depannya.


Namun tidak dengan mereka yang merasa pergerakkan Ruslan yang cukup sulit di ikuti, alhasil. Kecelakaan pun tak bisa di hindarkan.


Salah satu mobil rekan mereka terguling karena tertabrak sebuah truk pengangkut sampah. Mobil itu berguling dan pada akhirnya meledak.


Ruslan pun menyunggingkan bibirnya, sebab dirinya berhasil menumbangkan satu dari ketiga kendaraan pria berjas itu, kini masih tersisa dua. Kali ini dirinya mengarahkan sepeda motornya menuju ke tempat sebuah pasar malam.

__ADS_1


Orang-orang pun mulai berteriak ketakutan sembari berlarian mengindari kendaraan mobil yang menerobos masuk ke dalam pasar. Beberapa toko buah-buahan menjadi korban dan hancur lebur. Buah-buahan mereka berserakan di mana-mana.


Beberapa pedagang mulai mengumpat karena dagangan mereak menjadi rusak, bahkan hanya ada beberapa biji yang bisa mereka selamatkan. Apalagi mereka tak tahu harus meminta pertanggung jawaban itu pada siapa?


Saat berada di dalam pasar, terdapat sebuah tikungan tajam di sana, Ruslan yang. mengetahui hal tersebut langsung memanfaatkannya, ia pun menancapkan pedal gasnya dan berbelok dengan sempurna.


Namun berbeda dengan para pria itu, karena tempat itu yang sempit membuat mereka tak bisa berbelok dan pada akhirnya menabrak tembok.


Kini, tinggal satu kendaraan lagi yang tersisa. Ruslan yang belum kehabisan akal pun langsung membawa mereka kesebuah pabrik terbengkalai.


Sebelum menghadapi mereka, Ruslan mengamankan Nisya dan bayi itu terlebih dahulu. Agar tidak terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


" Jangan pergi. " Pinta Nisya seraya meraih pergelangan tangan Rusln.


" Nggak bakalan, gue cuman mau ngurus mereka dulu. "


" Tapi .. .


" Percaya sama gue. "


Nisya pun menundukkan kepalanya ia pun perlahan melepas pegangan tangannya, " Berjanjilah, lo bakalan balik dan nggak bakalan ninggalin gue. '


" Iya gue janji. "


*


Di sebuah gang sempit nan gelap, Ruslan menunggu kedatangan mereka dengan kedua matanya yang tertutup.


Saat mereka tiba, Kedua mata Ruslan terbuka, tatapannya berubah menjadi tajam, layaknya seekor predator yang tengah menunggu mangsanya.


Ia pun menghidupkan lampu kendaraanya, Seketika, mereka yang menyadari pun langsung kembali mengejar Ruslan.


Salah satu bibir Ruslan terangkat sebelah membentuk sebuah senyuman iblis di wajahnya, ia lalu menutut mereka menyusuri bangunan itu dengan naik ke atas.


Saat berada di ujung jalan, Ruslan pun terus menancapkan gasnya, seketika dirinya di buat terbang bersama dengan kendaraan yang ia tumpangi.


Di sisi lain, Karena belum sempat menginjak rem, alhasil mereka pun ikut terjun dan akhirnya mobil yang mereka kendarai pun meledak. Berbeda dengan Ruslan yang mendarat dengan sempurna.


Di rasa sudah beres, Ruslan pun kembali menjemput Nisya.


" Kita ke rumah sakit dulu yah. " tawar Ruslan di selanya mengendarai sepeda motonya.


Namun, Nisya menggelengkan kepalanya, tangannya semakin erat memeluk tubuh Ruslan.


Seakan mengerti, Ruslan pun hanya diam, ia pun hanya bisa membawa wanita itu ke tempat di mana tak ada orang siapa pun di sana. Tak lupa ia pun memanggil seorang dukun beranak, karena ia takut jika terjadi pada mereka berdua.

__ADS_1


*


" Bagaimana Mak? Sudah selesai? " tanya Ruslan.


" Sudah Jang, Kalau begitu Mak pergi dulu yah. " timpal Si Mak.


" Mau dianter Mak? "


" Nggak perlu Jang, Mak bisa sendiri. "


" Kalau begitu terima kasih Mak. "


Nenek tua itu pun menganggukkan kepalanya lalu pergi. Sedangkan Ruslan memilih untuk kembali menghampiri Nisya, namun ia segera membalikkan tubuhnya ketika mendapati wanita itu tengah menyusui.


" Sorry. " kata itu pun langsung terlontar dari mulut Ruslan, rona di wajahnya langsung berubah menjadi merah merona.


Nisya pun seketika tergelak melihat raut malu dari wajah temannya itu, ia mengatakan bahwa dia tak perlu malu pada teman sendiri. Ia menambahkan dengan meledek pria itu. " Bukannya lo suka nonton bokep kan? "


" Iya itu kan beda lagi. "


" Jangan bilang kalau lo langsung honry liat gue yang lagi menyusui? " Goda Nisya.


" Ih sorry nggak yah, " sangkal Ruslan.


" Kenapa? Jangan bilang kalau lo lebih suka melihat batang. "


Merasa jengah. Ruslan yang tadinya memunggungi wanita itu, malah berbalik dan berjalan menghampiri wanita itu seraya menyentil dahinya.


" Bukan gitu, karena gue mengganggap lo cuman sebatas adek, nggak kurang dan nggak lebih. "


" Kayak lagi jualan aja lo. "


" Berisik tahu nggak. "


Nisya pun kembali tergelak, hingga menitikkan air matanya, di detik berikutnya ia menawarkan Ruslan untuk menggendong bayinya.


Namun Ruslan menolak karena takut, karena dari apa yang dipelajarinya, seorang bayi itu sangat lah rapuh. Jadi ia tak berani, takut jika terjadi apa-apa.


Nisya pun tersenyum, ia pun membujuk pria itu untuk mencobanya. Ia menambahkan bahwa dia tak perlu takut karena ada dirinya di sampingnya.


Setelah memikirkan banyak pertimbangan, Ruslan pun akhirnya mau. Degup jantungnya berpacu dengan cepat, perasaannya bercampur antara gugup sekaligus bahagia.


" Cantik banget. " pujinya


" Siapa dulu dong ibunya? " timpal Nisya seraya menepuk dadanya dengan bangga.

__ADS_1


__ADS_2