Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
31


__ADS_3

" Begitu yah, ternyata kamu adalah anak yang sangat berbakti, patut saja nona Ruksa menyukaimu. Bahkan berniat menjadikanmu putrinya. Wah aku jadi iri sama kamu. " Ungkap Mia seraya mencebikkan bibirnya, perasaannya menjadi tak menentu.


Di sisi lain, Ia bahagia jika bosnya sudah sembuh dari rasa patah hatinya dengan Bismo Sialan, tapi ia tak pernah menyangka dan tahu bahwa bosnya itu ternyata memiliki cinta pertama yang perasaanya masih bertahan hingga sekarang.


Sangat berbeda dengan dirinya yang tak pernah tahu apa arti cinta sesungguhnya.


Pernah ia mengutarakan perasaan sukanya pada Ismail, Namun pria itu menegaskan bahwa perasaan sukanya itu bukanlah rasa suka pada lawan jenis melainkan perasaan suka terhadap keluarga. Pria dingin itu juga berkata untuk jangan terlalu percaya sinetron, karena semua itu hanyalah palsu.


Lantas apa itu cinta?


Mia pun menjadi penasaran, seperti apa sosok cinta pertama bos nya itu? Namun satu hal yang membuatnya penasaran, dari mana perempuan ini tahu bahwa bosnya menyukai ayah dari perempuan ini?


" Ah itu, kamu tahu sendiri kan, bahwa bos mu adalah orang yang menabrak ku. "


Mia menganggukkan kepalanya.


" Awalnya kita biasa saja, pas dia ketemu dengan ayah ku. Beuh dari sana kita langsung akrab dan sudah jadi kayak pasangan ibu dan anak gt. " terangnya.


Di dalam hati, Ruksa hanya bisa mengutuk akan kemampuannya dalam mengarang cerita yang patut di beri angka nol. Ia yakin, wanita itu pasti sadar akan kebohongannya yang berlebihan itu.


Akan tetapi, Ruksa tak pernah menyangka bahwa perempuan itu begitu mudah di bohongi begitu saja.


Mia begitu serius mendengarkan perkataan Ruksa, tersirat wajah serius wanita itu. Membuat Ruksa merasa bersalah karena membohonginya. Sebab jika dirinya tak berbohong seperti itu, maka makhluk itu bakalan datang dan mengancam akan mencabut nyawanya, jika rahasia mereka terbongkar.


Karena tak ingin berbohong lebih banyak, Ruksa pun beralasan bahwa ayahnya sudah menyuruhnya untuk segera pulang. Akan tetapi sebelum dirinya pulang, Mia tiba-tiba meminta nomor ponselnya.


Dia berkata bahwa dirinya menginginkan sebuah teman, sebab selama ini dia tak pernah memiliki seseorang yang di namakan teman itu.


Hati Ruksa pun menjadi terenyuh, semua adalah salahnya karena mempekerjakannya terlalu padat dari pada yang lain.


Jika di pikir kembali, tak ada salahnya jika Mia berteman dengan Dania, sebab selisih umur keduanya hanya terpaut dua tahun saja. Akhirnya ia pun menyerahkan nomor telepon Dania pada wanita itu.

__ADS_1


Selama berada di tubuh Dania, ia mulai menyadari bahwa dirinya terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya hingga melupakan bahwa orang di sekitarnya perlu yang namanya istirahat.


Ia berjanji setelah tubuhnya kembali normal. Ia akan memberikan cuti pada semua karyawannya.


Sambil berjalan pulang, ia pun merogoh ponselnya dan bertukar pesan dengan Dania, menceritakan semua yang baru saja di alaminya tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


Begitu pula sebaliknya, Dania juga memberitahukan bahwa rapat saham itu di menangkan oleh Salim Anwar yang merupakan pemegang saham sebelumnya.


Karena pria itu hanya melakukan satu kesalahan, maka para dewan pun memaafkannya dan memberinya kesempatan kedua.


Tak hanya itu saja, Dania juga mengatakan bahwa kekasih Ayah Ruksa, diam-diam bermain belakang dengan salah satu paman Ruksa yaitu Randana Wisesa yang merupakan salah satu keluarga Wisesa yang sangat ingin menjatuhkan Bagaskara Wisesa.


Jika benar seperti itu, maka tak aneh jika wanita itu begitu ingin di nikahi oleh ayahnya. Sepertinya Ruksa bisa menebak apa yang akan terjadi ke depannya?


.Dasar wanita picik, lihat saja akan ku buat dia menyesal. batin Ruksa.


Ia pun kembali memainkan keyboard ponselnya, mengetikkan sebuah pesan pada Dania, untuk memantau wanita picik itu.


Ruksa pun bernafas lega, bahwa Aldan sudah baik-baik saja. Ia juga yakin, pasti pamannya itu akan membawa cucunya pindah ke luar negeri.


Di saat dirinya bertukar pesan dengan Dania, tiba-tiba langkah kaki Ruksa terhenti sejenak, tat kala telinganya menangkap suara pukulan dari balik gang sempit nan gelap yang berada tepat di samping kananya.


Di tatapnya gang sempit itu, ia bisa melihat bahwa ada kurang lebih empat orang pria dewasa tengah memukuli seseorang.


" Bukan urusan ku. " gumamnya seraya kembali berjalan dan menjauh dari tempat itu.


Akan tetapi hati nuraninya berkata lain. Ia pun terdiam sejenak, mematung bagaikan boneka patung.


Haruskah ia menolongnya?


Tapi ia tak ingin, terus-terusan terlibat masalah dengan menggunakan tubuh Dania.

__ADS_1


Lagi pula jika dia mati sekali pun sama sekali bukan urusannya.


Setelah memikirkan banyak pertimbangan, Ruksa pun akhirnya memilih untuk membantunya, tentunya ia tak akan terjun langsung. Ia pun merogoh ponselnya di dalam saku seragamnya lalu memutar sirine polisi.


Dalam hitungan detik, aktivitas ke empat pria itu terhenti sejak, lalu kemudian lari terbirit-birit meninggalkan korbannya yang sudah terkapar lemas.


" Ternyata cara klasik ini masih berfungsi. " Ruksa pun berjalan menghampiri seseorang yang terkulai lemas di atas tanah itu.


Ia pun berdecak sayang melihat wajah pria itu yang sudah tak lagi berbentuk lagi, padahal. Jika di lihat lebih seksama lagi, pria itu memiliki wajah yang cukup tampan jika tak memiliki memar di wajahnya.


Setelah cukup lama menatapnya, entah kenapa Ruksa merasa bahwa wajah itu terlihat familiar? Namun anehnya ia tak ingat dengan jelas. Agaknya di mana ia melihat wajah itu?


Tangan Ruksa pun meraba baju jaket pria itu yang ternyata menyembunyikan sebuah seragam sekolah.


Di detik berikutnya kedua bola mata terbeliak melihat name tag anak laki-laki itu, entah itu sebuah kebetulan atau sebuah keberuntungan. Karena ia tak perlu repot-repot mencari Alvaro Rodrigo.


Tapi ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan kondisinya yang seperti ini. " Kuat nggak yah, gue bawa dia ke rumah sakit. " gumamnya seraya menatap tubuh pria semampai itu.


Untuk ukuran anak SMA, tubuh Alvaro cukup terbilang bongsor, apalagi kedua kakinya yang jenjang itu. Ruksa yakin bahwa dia akan tampak seperti rusa yang membawa jerapah.


" Wah, wah lihat siapa ini? Apa lo pacar dia? " Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari arah balik punggung Ruksa


Ruksa pun berbalik dan menyipitkan matanya, melihat ke empat pria tadi yang rupanya pura-pura pergi. Ia akui cara klasik nya ini memang tak bisa di gunakan lagi, hanya orang-orang bodoh yang mempercayainya.


Salah satu pria dengan luka di wajah pipi kananya berjalan sombong dengan membawa tongkat bisbol di tangannya. Pria itu menarik kerah seragam Ruksa hingga kedua kakinya harus berjinjit.


" Ternyata di balik muka lo yang jelek, lo punya body yang bagus juga. Gimana . . kalau kita. . .


Bugh!


Pria itu tertegun sejenak, dia melepaskan cengkraman pada baju Ruksa kemudian meringis kesakitan memegang alat vitalnya.

__ADS_1


" Siapa selanjutnya?. "


__ADS_2