Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
51


__ADS_3

Setelah memakan waktu perjalanan selama satu jam, Bagaskara Wisesa pun akhirnya sampai di depan sebuah gedung pencakar langit, yang memiliki seratus lantai yang menjulang tinggi, serta memiliki setidaknya sepuluh lantai yang menggali bumi.


Tempat itu terletak di antara pesisir pantai yang memiliki panorama matahari terbenam paling indah di seluruh negeri X.


Di tambah, di lantai dasar gedung itu terdapat sebuah ruangan yang menyerupai aquarium raksasa yang terletak, tentunya tempat itu juga di lengkapi dengan sebuah bar restoran yang menyediakan makanan laut yang segar serta minuman cocktail yang melengkapi hidangan tersebut.


Gedung itu bernama Paradise yang merupakan salah satu bisnis properti milik keluarga Wisesa yang berbentuk sebuah hotel mewah berbintang lima yang memiliki fasilitas lengkap, dari tempat oleh raga hingga sebuah tempat perbelanjaan terlengkap yang memenuhi segala kebutuhan hidup.


Harga yang di taksir untuk menginap semalam di sana sekitar 25 juta permalam, itu pun dengan harga yang paling murah, sedangkan untuk kelas atas, perlu merogoh uang sekitar ratusan juta rupiah permalamnya.


Maka dari itu, keluarga Wisesa di nobatkan sebagai orang terkaya di negeri X dan orang yang paling berpengaruh no tiga di dunia.


Sebagian besar, kekayaan keluarga Wisesa di miliki oleh Bagaskara yang merupakan pendiri serta satu-satunya anggota yang berhasil membawa keluarga Wisesa menjadi keluarga yang paling berpengaruh dan disegani oleh banyak kalangan.


Di saat Bagaskara melangkahkan kakinya keluar dari kendaraannya.


Para karyawan eksekutif, saling berjajar menyambut kedatangannya dengan pakaian mewah nan rapih.


" Selamat datang Tuan besar. " ucap mereka secara bersamaan dengan tubuh yang membungkuk seratus delapan puluh derajat.


Di ikuti oleh Gantari dan anak buahnya, Bagaskara berjalan gagah menuju lift yang dikhususkan untuk orang VVIP seperti dirinya.


Ia pun menekan lantai paling bawah, di mana tempat itu merupakan tempat paling indah namun bisa membuat siapa pun ketakutan.


Sebab, tempat itu memperlihatkan sekelompok ikan hiu predator yang paling di takuti di lautan tengah berenang santai di dekat antara aquarium.


Tak perlu waktu lama baginya untuk bisa sampai ke lantai itu sebab, lift yang digunakannya, merupakan salah satu lift tercepat, yang kecepatannya hampir menyamai dengan Sebuah kilatan cahaya petir.


Di salah satu ruangan paling dasar, dda seebanyak sepuluh investor yang tengah risau menunggu kedatangan Bagaskara. Mereka saling beradu argumen tentang saham yang kian belum naik juga.


Ada yang mengatakan bahwa mereka harus menunggu lagi namun ada pula yang sudah tak bisa bersabar lagi, karena harga saham yang masih berada di bawah dan tak kunjung naik.

__ADS_1


Salah satu dari mereka terus mengeluarkan kata-kata umpatan, dan menyalahkan para pengelola yang tidak becus mengurus masalah itu dan membuat mereka harus menanggung kerugian yang tak seharusnya.


" Sebelum harga saham semakin turun, aku akan menarik semua aset saham ku hari ini juga. " Ucap investor satu. Kepalanya menoleh pada rekan-rekannya satu persatu seraya memainkan segelas minuman anggur yang berusia sekitar aatu abad uang lalu.


" Di antara kalian, siapa di antara kalian yang satu pikiran dengan diriku? " tamah investor itu.


Ke sembilan investor itu saling terdiam lalu berbisik antar satu sama lain. Di sisi lain mereka juga khawatir tapi di sisi lain mereka juga takut pada Bagaskara.


" Apa kalian tak takut jika uang kalian hilang? " tambahnya mengompori.


Pria itu juga menambahkan, bahwa keluarga Wisesa sudah tak seperti dulu, terutama putrinya Ruksa Wisesa.Yang belakang ini mulai tersebar sebuah berita bahwa dia hampir mati terkubur, yang terjadi belum lama ini.


Padahal sebelumnya, wanita itu sangat kuat dan tak pernah kenal takut. Bahkan, saking kuat dan berpengaruhnya ia juga, sama-sama disegani seperti ayahnya.


Tapi pasca kecelakaan itu, wanita itu berubah menjadi sangat lemah, dan terlihat mudah terintimidasi. Bahkan turunnya saham juga berkat kesalahan Ruksa yang bermain dengan seorang gadis SMA.


" Jadi, apa kalian pikir, putriku bukan manusia? " Bagaskara berkata secara tiba-tiba.


" Kenapa kalian diam? Bukankah kalian tadi sangat menikmati membicarakan putriku? " ucapnya seraya terduduk di atas kursi. " Tapi aku akui, putri ku memang terlihat sedang berbeda dari sebelumnya, namun, jika perlu kalian ingat. Jika bukan kerja keras putriku, uang kalian tak akan mengalir hingga sekarang. " tambahnya.


Bagaskara pun memangku dagunya dengan kedua tangannya di atas meja, seraya menatap mereka satu persatu dengan tatapan dingin. Membuat para investor itu semakin ketakutan di buatnya.


" Kenapa? Apa kalian tidak lelah berdiri seperti itu? " Bagaskara kembali berkata.


Kesepuluh investor itu saling bertukar pandang lalu menelan saliva mereka secara bersamaan. Di detik berikutnya mereka pun menarik kursi lalu terduduk di tempat mereka masing-masing dengan tubuh yang gemetar.


" Jadi, kalian ingin menarik saham? "


Hening


" Hey santai saja, kenapa kalian begitu tegang sekali? " Tanya Bagaskara. Kedua matanya menatap mereka satu persatu, dan menyadari akan satu hal.

__ADS_1


Ia pun menolehkan kepalanya pada Gantari dan mengatakan untuk membawa kudapan.


Gantari pun menganggukkan kepalanya, dan menyuruh bawahannya untuk membawakan kudapan sesuai perintah.


Tak lama kemudian, seorang pelayan pun datang dan membawa sebuah makanan pembuka berupa Soup



Para ke sepuluh investor itu kembali saling bertukar pandang, sesekali menatap makanan soup yang berada di depan mereka.


" Makanlah, aku buatkan khusus untuk kalian. " Bagaskara kembali berkata.


Tanpa menaruh curiga, mereka pun menyantap soup itu secara bersamaan.


Tak berselang lama, salah satu investor itu berteriak ketika mendapati sebuah jari telunjuk di atas sendok makanannya, tubuhnya terjatuh dari atas kursi.


Alhasil, peristiwa itu mengundang keterkejutan pada yang lainnya, mereka pun ikut menatap isi mangkuk itu yang sama-sama terdapat sebuah jari tangan.


Seketika, mereka pun memuntahkan semua isi perut mereka.


" Kenapa? Bukankah kalian sangat menikmatinya tadi. " Ungkap Bagaskara, " Sama hal nya dengan uang yang kalian sudah makan selama ini, hanya sebuah kesalahan. Kalian langsung melupakan kenikmatan yang kalian nikmati sebelumnya. " ungkapnya seraya berjongkok menyamakan tingginya,


" Jadi, apa kalian bersungguh-sungguh ingin menarik saham? "


" Te-tentu saja tidak, ka-kami hanya bercanda. " timpal investor satu.


Salah satu sudut bibir Bagaskara terangkat ke atas, hingga membentuk sebuah seringaian, ia pun bangkit dari posisi jongkoknya lalu pergi meninggalkan ruangan itu yang kemudian di ikuti oleh Gantari.


Ia juga menyuruh para bawahannya untuk memusnahkan sisanya.


Setelah selesai menyelesaikan permasalahannya Bagaskara pun berjalan keluar namun ia tak sengaja bertemu dengan adiknya Candra Wisesa, yang merupakan kakek dari Aldan.

__ADS_1


__ADS_2