Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
80


__ADS_3

Dania pov


Sebelumnya.


Di dalam apartemen, Dania terus berjalan bolak balik, menunggu jawaban dari Ruksa, namun seberapa keras ia menunggu balasan, balasan itu tak kunjung datang juga, membuat Dania sedikit kesal dan bosan, untuk menghilangkan kebosanan, ia pun memilih menghidupkan televisi besarnya dan menonton sebuah acara reality show yang sering ditontonnya bersama ayahnya di kala senggang.


Ting tong


Suara bel pintu rumahnya, membuat kegiatannya sedikit terusik, tapi juga sedikit bertanya-tanya, pasalnya dirinya tak memesan makanan, dan juga seingatnya, jika itu Ismail maka pria itu akan menghubunginya terlebih dahulu.


Apa mungkin itu adalah Ayah Ruksa? Atau jangan-jangan pria yang tadi siang.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Dania berjalan menghampiri pintu


Namun di detik berikutnya, tubuhnya menegang, ketika mendapati sosok Bismo yang berdiri tepat di depan pintu seraya menenteng dua plastik yang berada di kedua tangannya.


Dania yang masih mengingat kejadian itu, membuatnya menjadi takut serta trauma, ia kemudian menyesal karena meminta Ismail untuk membiarkannya untuk sendirian.


Harusnya ia menghubungi pria itu? Tapi Dania tiba-tiba merasa tak enak karena terus-terusan mengganggu kehidupan pria itu, karena ia yakin pria itu juga memiliki kehidupannya sendiri.


" Okeh Dania, tenang, jangan panik. Kamu pasti bisa, abaikan saja pria itu dan sekarang lebih baik kamu pergi tidur saja. " ujarnya pada diri sendiri untuk menenangkan diri.


Perlahan, Dania berjalan menuju kamar tidurnya, tak lupa mematikan tv terlebih dahulu. Seakan membuat telinganya menjadi tuli, ia mengabaikan bel pintu yang terus berbunyi tanpa henti.


Menjelang pagi, hidung Dania tiba-tiba mencium aroma masakan yang begitu lezat dan menggugah selera.


Krubuk ~


Karena mencium aroma yang enak, membuat perutnya berbunyi, menandakan bahwa perutnya memintanya untuk segera di isi.

__ADS_1


Tapi dirinya tiba-tiba merasa heran, tak biasanya Ismail membuat makanan sepagi ini, kedua tangannya mengucek kedua kelopak matanya untuk memastikan apakan dirinya tak salah lihat.


Namun seberapa banyak dirinya mengucek kedua matanay hasilnya tetap sama. Jam masih menunjukan pukul 06:00 pagi


Karena penasaran, Dania pun beranjak turun dari ranjang, lalu berjalan menghampiri sumber aroma tersebut. Tapi seluruh tubuhnya tiba-tiba membantu ketika melihat Bismo dengan sebuah celemek di tubuhnya tengah berkutat di dapur seorang diri.


Dania yang semalam mengira bahwa pria itu telah pergi karena bosan dan jenuh. Tapi nyatanya, dirinya salah besar. Rupanya Bismo sama sekali tidak pergi malah sebaliknya, karena tahu kode sandi apartemennya membuat pria itu leluasa masuk ke dalam apartemennya, malah tanpa di sadari pria itu telah tidur di ranjang yang sama semalam.


" Oh apa aku membangunkan mu? " tanya Bismo yang menyadari keberadaan Dania, dia kemudian merapihkan diri dengan mencuci kedua tangannya lalu menghampiri kekasihnya, berniat memberi pelukan juga ciuman pagi.


Akan tetapi . . .


" Akhhh!! Jangan mendekat! " teriak Dania tiba-tiba seraya menghunuskan pisau pada Bismo yang di ambilnya secara sembarangan.


Bismo yang melihat tindakan dari sang kekasih sangat terkejut, ia pun mundur beberapa langkah seraya mengangkat kedua tangannya ke atas


" Wow, tenangkan dirimu Sayang, aku ini Bismo, kekasih mu. " ujarnya


" Sayang dengarkan penjelasan ku dulu, aku tahu kamu marah sama aku karena photo itu kan? Dengar semua itu hanya editan, percayalah padaku bahwa aku sangat setia pada mu, jadi mana mungkin aku menduakan mu. " ungkap Bismo


" Nggak, aku mohon kamu cepat pergi dari rumah ini sekarang juga. "


" Sayang. . .


" Wow, Caca apa kamu lakukan?! "


Tiba-tiba Daniel datang, kedua bolanya terbeliak ketika melihat teman kecilnya memegang sebuah pisau tajam dan mengarahkannya pada pria asing yang tak di kenalnya, sebagai insting seorang laki-laki, ia pun berdiri di depannya lalu mengambil pisau itu dari tangan temannya.


" Siapa kamu? Sedang apa kamu di sini? Siapa yang menyuruh mu ? " Tanya Daniel secara beruntun seraya menghunuskan pisau yang di ambilnya dari Dania.

__ADS_1


Namun bukannya takut, Bismo malah berdecak kesal, ia terkekeh seraya berkacak pinggang. " Seharusnya aku yang bertanya, siapa kamu? Dan kenapa kamu memegang tangan kekasih ku seperti itu? "


Daniel pun tersentak, ia pun teringat akan pembicaraannya dengan Ayah Ruksa kemarin. " Oh jadi kamu Bismo. " mendengus. " Kamu tanya siapa aku? Aku adalah calon suaminya. " jawabnya secara gamblang.


Bismo yang mendengar hal tersebut tergelak seraya mengatai Daniel yang suka berbicara omong kosong, bagaimana bisa pria itu mengaku sebagai calon suami dari sang kekasih sedangkan dirinya masih menyandang status pacar.


" Terserah pada mu jika kamu tak mempercayainya, aku hanya memberitahu mu itu saja. Mulai hari ini dan seterusnya jangan biarkan aku melihat mu mengganggu calon istri ku. "


Seketika, tawa Bismo pun terhenti, wajahnya berubah menjadi suram, dengan kilatan amarah di balik kedua bola matanya, kedua langkah kakinya berjalan menghampiri dua orang yang berada di depannya , tapi tiba-tiba ponselnya bergetar, membuat langkahnya terhenti, tangannya merogoh benda pipih yang berada di saku celananya.


Di ambilnya benda itu dan menaruhnya di daun telinganya, di detik berikutnya dahinya mengernyit ketika mendengar suara yang berada di seberang sana


Meski dirinya masih membutuhkan jawaban yang pasti, tapi karena panggilan yang tak bisa di abaikan begitu saja, maka Bismo pun terpaksa memutuskan untuk pergi dari sana dengan perasaan marah dan juga kesal.


Setelah kepergian Bismo, Dania pun mendorong Daniel menjauh darinya, tanpa berkata-kata ia berjalan masuk ke dalam kamar.


Daniel yang melihat tersebut hanya terdiam, karena menyadari akan kesalahannya, ia kemudian mengutuk bibirnya yang berkata yang tidak-tidak.


Selang beberapa jam kemudian, Dania pun keluar dari kamar tidurnya dengan pakaian santai, dirinya mengenakan celana jeans hitam yang di padukan dengan hoodie berwarna putih abu-abu serta sepatu kasual berwarna putih. Tanpa berkata apapun, dirinya terus berjalan tanpa arah tujuan dengan Daniel yang setia mengikutinya dari belakang.


Tanpa sadar, kedua langkah kakinya membawa dirinya ke sebuah tempat belanja yang ternyata jaraknya cukup dekat dengan apartemennya.


Saat hendak menuju tempat permainan, tiba-tiba dirinya menabrak seorang remaja hingga tersungkur, Dania awalnya ingin membantu namun hal itu tidak terjadi karena dirinya sangat terkejut melihat Fajri di depannya, ia bahkan menghiraukan ucapan dari Daniel.


Kepalanya mendongkak dan mendapati Ruksa dan juga Ayahnya yang tengah menatapnya dengan tatapan terkejut.


' A-ayah ' batin Dania


Sejak dulu, Dania selalu berpikir bagaimana jika dirinya bertemu dengan sang Ayah tapi dengan dirinya yang berada di dalam tubuh Ruksa? Lalu bagaimana seharusnya dirinya bereaksi? Apakah dirinya harus menyapa lebih dulu atau menunggu sampai pria itu menyapa dirinya?

__ADS_1


Namun belum sempat dirinya memutuskan pilihan itu, tiba-tiba pria itu terlihat gelisah lalu mengajak Fajri dan juga Ruksa pergi, seakan-akan dia tak ingin menemui sosoknya itu


Dania pun hanya mematung bak sebuah boneka kayu. " Aku salah apa? "


__ADS_2