
Sebelumnya memang ada banyak laporan masuk ke kantor polisi.
Laporan tersebut mengatakan bahwa adanya sebuah perjudian yang melibatkan para siswa dan siswi dari berbagai sekolah.
Akan tetapi, para korban tak ingat di mana tempat pasti kejadian tersebut, hanya bermodalkan bekas luka di tubuh mereka membuat para pihak kepolisian bingung harus menanganinya.
Pasalnya, bisa jadi itu kekerasan yang di lakukan oleh orang tua atau pun dari pihak preman. Karena sangat tak mungkin, jika para siswa menengah atas melakukan perbuatan itu.
Pada akhirnya mereka hanya menganggap sebagai kekerasan dalam keluarga saja, hingga seorang siswa yang tak ingin di sebutkan namanya, memberi mereka sebuah video yang di ambil dari kamera tersembunyi yang di pasang menyerupai kancing baju.
Setelah mendapat cukup bukti, para pihak polisi pun akhirnya turun tangan menangani kasus tersebut. Namun sayangnya mereka selalu menemukan jalan buntu.
Tak hanya itu saja, bahkan dari pihak polisi selalu saja ada korban yang berjatuhan. Hingga pada akhirnya tak ada siapapun yang mau menangani kasus tersebut.
Hingga kemudian, sebuah panggilan dari Darian yang mengatakan bahwa di gedung tua yang berada di belakang sekolahnya tengah terjadi sebuah judi manusia.
Seakan menemukan titik terang, mereka pun tak melewatkan kesempatan itu. Terlebih lagi info itu berasal dari orang yang tak perlu di ragukan lagi akan kebenarannya.
Penggerebegan itu layaknya sebuah film action yang selalu di tayangkan di televisi.
Dengan peralatan lengkap, mereka menangkap semua tersangka tanpa melewatkan satu pun.
" Kalau begitu, paman pergi dulu. Titip salam pada ayah mu. " ujar pria tua itu seraya menepuk lembut bahu Darian
Dengan sopan, Darian pun menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. " Tentu, akan aku sampaikan. Kalau begitu hati-hati paman dan terima kasih karena sudah mau datang. "
Pria berusia empat puluh awal itu tiba-tiba tergelak, dan mengatakan bahwa dirinyalah yang seharusnya berterima kasih karena sudah memberitahukannya.
" Jika di masa depan ada sesuatu yang terjadi padamu, maka jangan sungkan untuk meminta bantuan paman, tak peduli itu siang atau pun malam. Paman akan menjadi orang pertama yang akan menyelamatkan mu. " ungkap pria itu.
Kedua sudut bibir Darian terangkat ke atas sebagai jawaban, ia pun kembali menundukkan kepalanya seraya berkata terima kasih
__ADS_1
Di sisi lain, Ruksa yang berdiri di samping Darian hanya bisa mematung bak sebuah boneka kayu.
Otaknya masih memproses percakapan antara kepala polisi itu dengan Darian yang masih berdiri di sampingnya.
" Tunggu, Lo kenal dia?!"
Darian pun menolehkan kepalanya dengan wajah netralnya, ia pun menjelaskan bahwa dirinya sangat mengenal kepala polisi itu, sebab beliau merupakan bawahan langsung dari ayahnya, tak hanya itu saja bahkan keluarga mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Tubuh Ruksa pun di buat linglung, mendadak otaknya menjadi sulit berpikir dengan jernih.
" Kalau boleh tahu, nama kepanjangan lo apa? " tanyanya
" Darian Prawira. Kenapa bertanya? "
Seketika tubuh Ruksa kembali mematung, ia tak pernah mengira bahwa laki-laki di depannya merupakan putra dari Raynar Prawira yang merupakan seorang Jendral dari kepolisian.
Di dunia mafia, Raynar Prawira sangat menjunjung tinggi rasa keadilan, sikapnya yang begitu tegas, tanpa pandang bulu membuatnya begitu disegani, membuat banyak orang merasa enggan berurusan dengan pria itu. Termasuk dari keluarga Wisesa.
Namun Ruksa tak pernah menyangka bahwa Darian merupakan salah satu putra dari pria Raynar Prawira.
Ya ampun kemana saja dirinya selama ini, jika tahu begini seharusnya ia mengajaknya dari kemarin-kemarin. Dan menyelesaikannya hanya dengan satu jari.
Kedua bola mata Ruksa pun mulai memperhatikan setiap siswa yang tertangkap itu dan menyadari bahwa tak ada Roland atau pun para pemimpin geng yang di lihatnya waktu lalu.
Yang polisi tangkap hanyalah para kacungnya saja. Ruksa pun mengigiti jari telunjuknya seraya berpikir. Mungkinkah mereka tahu tentang penyergapan itu? Tapi mana mungkin? Bahkan dirinya saja tak tahu akan penyergapan itu. Ataukah Roland yang sengaja membiarkannya?
Kepalanya menoleh dan menatap laki-laki di sampingnya. Tapi di detik berikutnya, Ruksa menggelengkan kepalanya.
Sepertinya itu tidak mungkin.
Di sampingnya, Darian yang menyadari sikap tak biasa dari wanita di sampingnya, hanya bisa mengerutkan dahinya. Salah satu tangannya menepuk bahu wanita itu sehingga dia pun tersadar.
__ADS_1
" Kenapa kamu bengong? Ayo pergi, aku akan mengantar mu pulang. " Darian berkata seraya membawa langkah kakinya pergi.
" Tunggu? Apa ini sudah selesai? Tak ada baku hantam atau gimana gitu? "
Langkah kaki Darian pun terhenti, tubuhnya berbalik dan menatap Ruksa dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Jika ada cara yang mudah mengapa harus memilih jalan yang sulit? " menghela nafas. " Inilah salah satu alasan ku tak menyukai mu berdekatan dengan EL, karena aku tak ingin otaknya menjadi bodoh seperti mu. " Sarkasnya. " Jika saja EL tak menaruh perhatian padamu, mungkin aku tak akan melakukan ini bersama mu. "
Akan tetapi Ruksa tak peduli dengan hinaan itu, yang ia pedulikan sekarang adalah kenapa ini semua berjalan sangat lancar sekali? Awalnya ia berpikir akan ada setidaknya dua atau tiga baku hantam yang seharusnya terjadi ketika mereka ketahuan.
Namun ini malah terlihat seperti tengah menonton saja, cukup dengan satu jari, dirinya hanya perlu menunggu dan membiarkan para polisi yang membereskannya.
Giliran anak bos aja grecep, tapi kalau itu gue, gue yakin nggak bakal satu pun dari mereka yang bakalan datang. ' Batin Ruksa .
" Tapi bagaimana dengan mereka yang belum tertangkap? "
" Itu sudah bukan urusan kita, biarkan orang dewasa yang mengaturnya. Aish sudahlah, jangan membahasnya lagi, lebih baik kita pulang ke rumah, karena besok kita harus kembali ke sekolah. " ungkapnya lalu kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda.
Namun, langkah kakinya kembali terhenti, " karena aku sudah menyelesaikan permintaan mu, maka tak ada alasan lagi buat mu untuk kalah dari Roland. " ujarnya dengan nada memperingatkan.
Tanpa membuang waktu, Darian pun menarik tangan Ruksa, membawanya pergi ke depan gerbang sekolah
Entah siapa yang membawanya? Namun di dekat pos satpam, terparkir sepeda motor milik Darian, tapi tak ada sepeda usang milik Ruksa
" Tunggu, bagaimana dengan sepeda gue? Kok nggak ada sih?. "
" Tentu saja sepeda usang itu masih di sana. Kamu gak perlu khawatir, lagi pula tak ada siapapun yang menginginkannya benda rongsokan itu, bahkan untuk seorang gembel sekalipun. "
" Heh, meskipun begitu, itu sepeda bagaikan legend bagi gue, pokoknya gue nggak mau balik sebelum sepeda gue ada di sini. "
" Terserah. " Darian berkata acuh tak acuh, seraya meninggalkan Ruksa yang mematung tak percaya akan sikapnya itu.
__ADS_1