Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
70


__ADS_3

Karena Aldan baru saja keluar dari rumah sakit, ia pun meminta Ruksa untuk membelikan strawberry cake dengan teh boba.


Namun Ruksa menolaknya, karena ia tak mau menjadi babu untuk siapapun tanpa terkecuali.


Seketika raut wajah Aldan pun berubah jadi sedih, ia pun memutuskan untuk melewatkan makan siangnya dan memilih tidur di kelas.


Ruksa yang merasa tak tega dengan wajah memelas itu pun terpaksa menuruti permintaan Aldan, ia pun meminta laki-laki itu untuk menunggunya di kelas.


Aldan yang mendengar hal tersebut langsung berubah cerah, ia pun dengan patuh berjalan menuju ke kelas.


Karena akan memakan waktu cukup lama, Aldan pun memutuskan untuk membaca buku pelajaran yang sebelumnya tertinggal.


Di saat Aldan tengah fokus dengan buku pelajaran di tangannya, tiba-tiba Laila datang dan menyapa Aldan dengan senyuman cantik di wajahnya.


" Hai Aldan, kenalin gue Laila. " Sapanya seraya mengulurkan tangannya.


Aldan pun mendongakkan kepalanya, dahinya mengernyit, kalau tidak salah, perempuan di depannya adalah salah satu orang yang pernah mengusik temannya itu, ia pun mendengus lalu menundukkan kepalanya dan kembali fokus membaca buku di tangannya. Mengabaikan sapaan dan uluran tangan itu.


Merasa telah di abaikan, Laila pun menarik uluran tangannya itu, walau dirinya mendapat perlakuan dingin, tapi dia tak menyerah begitu saja, ia pun mencoba mengambil bangku milik Ruksa namun Aldan langsung merentangkan kakinya dengan sengaja.


Tapi Laila masih belum mau menyerah begitu saja. Ia pun akhirnya mengambil kursi yang berada di sebrang Aldan, kedua tangannya memangku dagunya, kedua matanya menatap pria di depannya dengan tatapan penuh cinta.


" Tahu nggak perbedaan pulpen sama nama kamu? " tanya Laila.


Namun, sekali lagi Aldan tak menggubris pertanyaan itu, dia memilih fokus dengan bukunya dan tak menganggap keberadaan dari perempuan yang berada di depannya.


" Kalau pulpen gunanya untuk menulis di kertas, tapi kalau nama kamu di gunakan untuk tertulis di hati aku. " sambung Laila dengan wajah tersipu.


Namun hening, tak ada suara apapun kecuali suara lembaran buku yang di pegang oleh Aldan, pria itu bagaikan di dimensi yang berbeda.


Laila pun tak habis akal, ia pun mencoba gombalan yang lainnya. tapi . .


Plak!!

__ADS_1


Tiba-tiba Aldan menepuk kedua tangannya tepat di depan wajah Laila, membuat wanita itu terlonjak kaget.


" Ada nyamuk, berisik, jangan ganggu gue. " Aldan berkata dengan nada dingin, ia kemudian kembali fokus dengan buku di tangannya sembari menunggu menu makan siangnya datang.


Laila pun mengerjapkan kedua matanya, namun di detik berikutnya, kedua sudutnya terangkat ke atas, ia semakin menyukai Aldan dan semakin menginginkannya.


Baginya pria dingin dan cuek merupakan tantangan tersendiri, semangat Laila pun semakin menggebu-gebu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mendapatkan Aldan bagaimana pun caranya.


Ia pun kembali memangku dagunya seraya memandang wajah dingin nan cuek dari Aldan, aura kharisma yang terpancar dari dalam tubuh pria itu membuat Laila semakin terlena.


Namun kebahagiaanya tak berlangsung lama sebab kedatangan Ruksa membuat kebahagiannya hancur total.


Berbeda dengan Aldan yang langsung berseri, ia pun langsung menyambar snack ringan berupa sepotong strawberry cake serta sebotol air putih.


" Loh kok air putih? Bukannya gue tadi gue pesan Boba yah? " Tanya Aldan yang merasa tak puas dengan pesanannya.


Ruksa pun mendengus seraya berkacak pinggang. " Lo tuh masih sakit! Masih syukur gue masih mau beliin lo strawberry cake, jadi jangan banyak ngomong dan makan tuh kue, sebelum gue berubah pikiran. " finalnya


Seketika Aldan pun bungkam tak berani melawan, ia pun dengan patuh menikmati sepotong strawberry cake itu dengan khidmat. Meski tak ada teh boba sebagai pelengkap. Namun dirinya begitu ingin menangis, sudah beberapa hari ini dirinya tak bisa memakan makanan manis itu, rasanya semua energi yang pernah hilang itu akhirnya kembali ke dalam raganya.


Ia kemudian menarik kursi di samping Aldan dengan santainya, hingga tiba-tiba dirinya dibuat terkejut dengan keberadaan Laila yang tengah melotot ke arahnya.


' Sejak kapan ini anak ada di sini? ' batin Ruksa kembali


Kedua matanya mengerjap beberapa kali, lalu memutuskan untuk memalingkan wajahnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Meski dirinya sudah memalingkan wajah, namun ia masih bisa merasakan tatapan dingin yang menusuk tengkuknya.


Ruksa pun mencoba mengalihkan perhatiannya, namun ponselnya tiba-tiba bergetar, ia pun merogoh ponselnya dari dalam saku depannya, dan melihat isi ponselnya.Terdapat beberapa pesan masuk dari Dania.


Dahi Ruksa pun mengernyit, pasalnya tak biasanya gadis itu mengirim pesan sebanyak itu padanya.


Isi pesan itu berupa, bahwa Dania sedang mencoba membuntuti Alexa sejak pagi buta, tapi tak ada gerak gerik aneh dari wanita itu, wanita itu hanya menghabiskan waktunya bersama teman-temannya, seperti mengunjungi kafe langganannya , yang kemudian di sambung dengan berbelanja bersama.

__ADS_1


Dania mengira bahwa perempuan itu pasti sudah menyadari rencana mereka, maka dari itu sepertinya dia memutuskan untuk tidak berhubungan dengan pria itu untuk sementara waktu.


Ruksa pun terdiam, tangannya memutar ponsel di tangannya seraya berpikir, bagaimana caranya agar wanita itu menunjukkan kebusukannya?


Tenyata wanita itu cukup picik juga, tapi bagaimana bisa dia menyadari bahwa dirinya sedang di intai? Tak mungkinkan jika Ayahnya yang membocorkannya sendiri. Tapi rasanya tak mungkin sebab meski pria tua itu gemar bermain wanita, namun dia tak pernah mengingkari janji.


Atau Jangan-jangan perempuan itu menaruh penyadap di ponsel Ayahnya, jika benar begitu, ini sangatlah gawat.


" Oh iya, besok gue mau yang kayak ini lagi yah. " Aldan berkata.


Di sisi Laila, Melihat sebuah peluang, ia pun mencoba menawarkan diri, tapi lagi-lagi Aldan tak menggubris perkataan perempuan yang berada di depannya. laki-laki itu sungguh tak mengganggap keberadaannya sama sekali.


Sedangkan di sisi Aldan, merasa di abaikan, ia kemudian menolehkan kepalanya dan mendapati Ruksa yang termenung. " Lo kenapa? " tanya Aldan seraya melambaikan satu tangannya di depan wajah perempuan itu, hingga akhirnya ia pun mendapat respon.


" Bukan urusan lo. " timpal Ruksa.


" Kalau lo butuh bantuan, gue siap bantu kok. "


" Nggak butuh. "


" Yakin? "


" Seratus persen yakin. "


" Ngomong-ngomong, mau gue anterin pulang. "


" Boleh. "


Keduanya pun kembali bercakap-cakap secara random hingga bel berakhirnya istirahat pun terdengar, dan mereka pun menyudahi percakapan itu.


Di sisi lain, kedua tangan Laila mengepal dengan erat, ia merasa bahwa harga dirinya telah hancur, bagaimana bisa mereka tak menganggap keberadaanya sama sekali?


Semuanya adalah salah Dania, jika saja wanita itu tak menggoda Aldan lebih dulu, ia pasti sudah mendapatkan Aldan sejak awal.

__ADS_1


Iyah benar, semuanya gara-gara Dania, jika saja dia tak ada pasti temannya akan bersama dengan Mikael, dan tentunya ia tak perlu berpisah dengan sang kekasih dan membuatnya merasa kesepian seperti ini.


__ADS_2