
Arga pov.
" Sial! Sial! Sialan! Kenapa malah jadi seperti ini?! Seharusnya dia mati di tangan ku! " umpatnya sembari membiarkan salah satu bawahannya merawat luka tembak di telapak tangannya dan juga bahunya. Namun, luka itu sangat dalam hingga membuatnya terus mengalami pendarahan yang cukup parah serta kehilangan darah yang cukup parah.
Meski begitu, Arga tak mempedulikan rasa sakit atau pun rasa pusing yang menderanya, karena yang ia pedulikan sekarang adalah kegagalan yang baru saja di alaminya, padahal rencananya sudah hampir sempurna bahkan tadi ia hanya membutuhkan satu tembakan saja untuk bisa menguasai kekayaan keluarga Wisesa, tapi ia tak pernah menduga bahwa wanita itu masih memiliki orang di belakangnya.
Terlepas dari kegagalannya mengambil nyawa Ruksa, ingatan Arga tentang sikap Ruksa yang tampak ketakutan melihat mayat dan darah berceceran bahkan hingga muntah membuat Arga mengerti kenapa orang-orang beranggapan bahwa wanita itu telah berubah menjadi Ruksa yang lain.
Memang benar, sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sikapnya yang terkenal dingin dan bengis itu.
' Mungkinkah wanita itu memiliki sebuah kelemahan? Melihat dari sikap dan tingkahnya, Apa mungkin dia memiliki kepribadian ganda? ' pikir Arga.
" Ada apa sayang? Apa ada sesuatu yang mengganggu mu? " Teresa kemudian datang mengambil posisi sang bawahan yang tengah mengobati Arga, dengan telaten ia mengambil sebuah jarum jahit untuk menutup luka yang Arga alami.
" Bukan apa-apa, hanya saja ada hama tak tahu diri yang menembak tangan ku? Bagaimana keadaan di dalam? " tanyanya dengan ramah.
" Seperti dugaan mu, Bagaskara sangat marah mengetahui kebenaran dan dia memukulinya hingga mati. "
__ADS_1
" Pria tua itu mati? "
" Lebih tepatnya dia sedang berada di ambang kematian? Apa kamu tidak apa-apa? Apa aku perlu memanggil ambulan? "
" Tidak, biarkan saja dia mati, lagi pula, itu adalah keinginannya mati di tangan Bagaskara, jadi biarkan saja. "
" Kamu tahu, orang akan mengira kalau kamu bukan anak kandung Chandra Wisesa. " ujar teresa setengah bercanda
" Aku tak peduli, lagi pula itu bukan nama aslinya, oh iya, apa kamu sudah memastikan bahwa Bagaskara tak akan bisa keluar dari ruangan itu? "
" Kamu tenang saja, aku sudah mengurusnya dengan baik. "
Setelah selesai, Arga menarik tubuh sang kekasih ke dalam pelukannya dan mengecup bibirnya dengan lembut, kemudian salah satu tangannya mengelus perut sang kekasih lalu berkata bahwa dirinya berjanji akan membalas dendam dan merebut posisi Bagaskara untuk Putra mereka kelak, ia akan memastikan bahwa putra mereka yang akan menjadi pemimpin Wisesa selanjutnya.
Namun untuk sekarang, dirinya harus segera membuat Bagaskara untuk menandatangi dokumen pengalihan kekuasaan sebelum Ruksa masuk dan mengacaukan semuanya.
" Tuan, ada kabar buruk! " Salah satu bawahan Arga tiba-tiba datang dengan raut wajah yang sulit di artikan.
__ADS_1
" Ada apa? "
" Sepertinya Daniel telah bergabung dan membantu Nona Ruksa, dan sekarang mereka sedang menerobos masuk ke dalam! "
" Apa?!!! "
Raut wajah Arga pun berubah menjadi pucat kedua tangannya mengepal, ia kemudian bangkit dari posisi duduknya lalu menendang kaki pria di depannya hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
" Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk menjauhkan Daniel dari Ruksa! "
" Maafkan saya tuan, tapi semua ini karena anaknya Ruslan, karena tanpa sepengetahuan saya, gadis itu telah meminta bantuan Daniel sebelum insiden runtuhnya kastil Nyonya dan dia juga penyebab utama hancurnya kastil Nyonya. "
" Maksud mu Dania? " Sela Teresa.
" Betul, Nyonya. "
" Sayang, kamu mengenalnya? "
__ADS_1
" Cukup kenal, karena dia juga yang membuat anak kesayangan ku berubah dan membuatnya mati dengan tragis. "
Mendengar hal tersebut, Arga pun semakin marah, Kedua tangannya semakin mengepal kuat dengan kedua bola mata yang melotot marah, ia kemudian membanting semua barang yang ada di sekitarnya hingga hancur berantakan, ia bersumpah akan membunuh gadis itu dengan kedua tangannya.