Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
106


__ADS_3

Di dalam kamar, Ruksa tak berhenti berjalan mundar mandir dengan perasaan gelisah sembari mengigit ibu jarinya, menunggu kabar dari Dania.


Sebelumnya, Ruksa pernah bermimpi bahwa Ayahnya mendatanginya lalu meminta bantuannya, walau hanya sebatas mimpi, namun ia percaya bahwa Ayahnya benar-benar dalam masalah sekarang, karena mimpinya selalu ada benarnya. Terlebih lagi keberadaan pria itu tak bisa terdeteksi hingga sekarang.


Meski dirinya masih kesal dengan pernikahan itu, tapi bagaimana pun juga pria itu adalah Ayah kandungnya.


Ia hanya bisa berharap, bahwa insiden ini tidak ada kaitannya dengan Alexa, karena jika iya, ia terpaksa harus membunuh wanita itu, tak peduli, jika ia harua melakukannya di depan Ayahnya sekalipun.


Drrttt, drrrtt.


Tiba-tiba ponsel bergetar, kepalanya menoleh, lalu menyambar benda pipih itu yang ia letakkan di atas meja.


Seketika dahinya mengernyit, ketika melihat lokasi terakhir dari Ayahnya terlihat.

__ADS_1


" Bukankah ini hutan? Untuk apa dia ke sana? " gumamnya pada diri sendiri sembari berpikir, " Bukankah dia ingin mengurus bisnis penting? Memangnya ada bisnis apa dia di dalam hutan? "


Ruksa terdiam berpikir, mencoba menebak, apa kiranya bisnis yang di lakukan Ayahnya di dalam hutan dan dengan siapa?


" Dia tak mati konyol di patuk ular di sana kan? "


Hatchim!!


" Apa tuan kedinginan? " tanya Gantari, raut wajahnya langsung berubah menjadi cemas, ia memukul sel penjara, meminta mereka untuk membawa selimut tambahan.


Mendengar hal itu, tiba-tiba Gantari langsung bersujud memohon ampun atas kelalaiannya, andai saja dirinya bersikeras melarang untuk masuk, pasti hal ini tak akan terjadi.


" Bangunlah, lupakan saja, lagi pula aku juga bersalah karena terlalu bersikeras, dan juga aku tidak apa-apa, hanya saja hidung ku terasa gatal. " ungkapnya sembari menggosok hidungnya.

__ADS_1


Pembicaraan pun berakhir begitu saja, keduanya saling terdiam satu sama lain. dengan pikiran masing-masing.


Bagaskara terdiam menatap langit-langit yang gelap Seminggu telah berlalu, namun mereka masih terjebak di sana, di dalam ruang bawah tanah yang dingin dan lembab.


" Kemana perginya bocah itu? Kenapa dia masih belum sadar kalau Ayahnya di culik? " Gerutunya dengan kesal. Ia tak pernah menduga bahwa dirinya akan terjebak di tempat seperti ini. Jika bukan karena kesombongan yang ingin menghancurkan tempat ini, mungkin ia sekarang tak akan terjebak di tempat seperti ini.


Meski Bagaskara dan bawahannya harus terjebak di ruang bawah tanah selama satu minggu, dirinya masih belum tahu apa yang di inginkan mereka darinya.


Untuk pertama kalinya, ia tak bisa membaca pergerakan lawan, di dalam hati, ia memuji orang yang menculiknya. Terlebih lagi, orang itu sepertinya tahu cara pola pikirnya, dan mengetahui, langkah apa yang akan di ambilnya.


Setiap hari, salah satu dari mereka secara bergantian, akan memberinya makan sebanyak tiga kali sehari dengan menu yang berbeda. Tentunya Bagaskara tak menyentuh apalagi memakan makan itu. Ia lebih baik mati kelaparan dari pada mati memakan racun.


Meski begitu mereka tetap memberinya makan sesuai jadwal dengan porsi makan gang sudah di sesuaikan, tak peduli, makanan dalam piring itu habis atau tidak, mereka tetap menggantinya dengan yang baru setiap harinya.

__ADS_1


Hal ini semakin membuat Bagaskara penasaran, siapa dalang di balik ini semua ini?


__ADS_2