Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
61


__ADS_3

" Maaf, " Nisya berkata lalu langsung memukul bagian belakang tengkuk wanita itu dengan menggunakan gagang pel hingga membuat wanita paruh baya itu seketika tergeletak jatuh pingsan.


Tanpa membuang waktu, Nisya pun langsung menukar pakaiannya dengan wanita itu.


" Apa sudah selesai?! Kita tak punya banyak waktu. " Seru salah satu body guard.


" Iya sebentar, tanggung ini sudah mau keluar. Sabar kenapa sih? Kayak nggak pernah sembelit aja. " Timpal Nisya yang berusaha mengulur waktu.


Dengan cepat ia melucuti satu persatu pakaian wanita itu.


" Bisa di percepat?! Atau kita akan mendapat masalah. " Seru pria itu kembali


" Iya sabar, bawel banget sih. Iya ini tanggung udah mau keluar. "


Di saat dirinya tengah melucuti pakaian wanita itu, mendadak salah satu kancing baju wanita itu sulit di buka, membuat Nisya menjadi gemas sendiri.


Dari arah pintu mulai terdengar sebuah ketukan yang mulai curiga dengannya


Degup jantung Nisya pun semakin berdegup dengan sangat kencang. Ia pun semakin mempercepat pergerakan tangannya.


Tok! Tok! Tok.


" Kenapa lama sekali?! Cepat keluar atau kami akan mendobrak pintu. " Desak pria itu.


Dari belakang pintu, kedua pria itu saling bertukar pandang. Lalu menganggukkan kepala mereka secara bersamaan


Brak!!


Pintu kamar mandi pun terbuka secara paksa, Kedua pria itu pun langsung masuk ke dalam toilet dan mencari keberadaan Nisya.


Nisya yang sudah selesai pun berjalan keluar dengan santainya seraya membawa perlengkapan kebersihan.


" Tunggu! "


Langkah kaki Nisya pun terhenti, tanpa menoleh ia mengepalkan kedua tangannya, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya, tanpa sadar meneguk salivanya.

__ADS_1


Perlahan kedua pria itu mulai berjalan ke arahnya. Langkah kedua kaki itu semakin mendekat, membuat Nisya merasa sedang berada di dalam sebuah film horor yang biasanya ia tonton.


Ketika kedua pria itu mulai semakin mendekat, secara spontan, Nisya pun langsung membawa kedua kakinya berlari sekuat tenaga meninggalkan kedua pria itu.


Tentunya, kedua pria yang menyadari hal itu langsung mengejar, lalu salah satu mereka menelpon ke markas pusat tentang pelarian Nisya.


Meski kedua kakinya sudah mati rasa rasa, namun dengan sisa kekuatannya, ia terus berlari mengabaikan orang-orang yang berada di depannya.


Dia mendorong siapapun yang menghalangi jalannya, seketika lorong hotel pun menjadi ramai oleh teriakan orang-orang yang terkena imbas oleh kelakuan Nisya.


Karena dirinya berlari tanpa tentu arah, pada akhirnya Nisya pun mulai terpojok.


Karena tak ingin terjebak di sana lagi, ia pun mencoba peruntungan dengan secara acak memilih kamar untuk di jadikannya tempat bersembunyi.


Namun, dirinya sangat menyesal karena telah membuka pintu itu, sebab ia tak tahu petaka apa yang sudah menunggunya di depan.


Setelah masuk, Nisya pun mulai menyusuri kamar, dengan kondisi yang gelap temaram, namun dirinya tak peduli, ia mulai mencari meja telepon, berusaha meminta bantuan.


Akan tetapi, setelah berhasil menemukan telpon, Nisya pun langsung memasukkan beberapa angka yang ada di dalam otak nya, namun jari-jarinya tiba-tiba terhenti di udara, bulu kuduknya berdiri, perlahan ia menolehkan kepalanya, dan mendapati sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan lapar.


Tubuh Nisya pun ambruk ke lantai, tubuhnya gemetar hebat, ia tak pernah menyangka bahwa kamar yang dimasukinya ternyata merupakan kamar seekor harimau


Perlahan pria itu keluar dari balik selimutnya , dan tanpa aba-aba, menarik tangannya, dan membawa tubuhnya ke atas ranjang dan mulai melucuti pakaiannya.


Nisya yang masih dengan keterkejutannya, tak bisa melawan, Ia terdiam tak berdaya, saat tersadar dirinya sudah tak lagi memakai baju, pada akhirnya keperawanannya menghilang begitu saja.


Sinar matahari, menyelusup masuk dari balik tirai, cahaya paginya sudah menggantikan malam. Nisya pun terbangun dari posisi tidur, lalu terduduk, ia kemudian menatap tubuhnya yang sudah tak tertutupi sehelai benang pun.


Nisya pun mendengus lalu berdecak kesal, padahal dirinya Sudah susah payah mempertahankan kesuciannya, tapi malah lepas begitu saja. Lalu apa arti perjuangannya selama ini?


Ia pun menolehkan kepalanya ke samping dan tak mendapati siapapun, hanya ada beberapa uang yang tertinggal di atas meja.


" Dasar pria brengsek! " umpatnya, di detik berikutnya ia pun beranjak turun dari atas ranjang lalu membawa kedua kakinya ke kamar mandi.


Akan tetapi, dirinya meringis kesakitan di bagian tubuh bawahnya, secara spontan, dari dalam mulutnya ia mengeluarkan kata-kata kasar.

__ADS_1


Meski dengan langkah tertatih-tatih dan terus merintih kesakitan dirinya berhasil membawa tubuhnya ke dalam kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, dirinya melihat sebuah kartu nama yang tergeletak di lantai, meski ragu. Namun ia mengambil kartu itu sebagai jaga-jaga jika ada sesuatu yang akan terjadi padanya di masa depannya.


Kedua matanya menyusuri tempat itu, dan menemukan pakaiannya yang sudah terkoyak, tak mungkin baginya keluar menggunakan pakaian itu, tatapannya pun beralih pada setumpuk uang yang berada di atas meja.


Meski semalam dirinya berhasil lolos dari para mucikari itu, akan tetapi, ia ragu bisa lolos kali ini.


Tapi jika dirinya tak lekas bergegas, takutnya mereka bisa menemukannya kembali, Namun jika dirinya membelikan semua uang itu untuk pakaian, lalu bagaimana caranya bertahan hidup nanti?


Di saat pikirannya tengah kacau, tiba-tiba pintu kamar hotel di ketuk oleh seseorang, dengan waspada ia berjalan mendekati pintu itu, dan mengintipnya dari dalam.


" Nona, apa kamu masih di dalam? " tanya seorang pelayan pria.


" Iya, ada apa? "


" Ini saya di suruh untuk mengantarkan pakaian baru untuk anda. "


Meski ragu, Nisya pun perlahan membuka pintu itu. Tanpa membiarkan pria itu melihat wajahnya ia pun mengambil pakaian itu dengan cepat


Tanpa membuang waktu, ia bergegas memakai pakaian itu ke tubuhnya.


Sebelum pergi, Nisya mematut dirinya di balik cermin, entah harus bahagia atau sedih, meski dirinya sangat cocok memakai midi dress berwarna merah muda itu, namun di wajahnya tak tersirat raut kebahagiaan sedikitpun, ia kembali menatap telpon itu dan mencoba menghubungi Ruslan


Namun di detik berikutnya, tiba-tiba hatinya menjadi ragu-ragu, bisakah pria itu membantunya? Karena jika di ingat kembali, orang tua dialah yang menjerumuskannya ke dalam kegelapan.


Pada akhirnya, ia pun memutuskan untuk tidak menghubungi pria itu dan berusaha berjuang seorang diri.


Selama satu bulan dirinya hidup bagaikan buronan, entah itu sebuah berkah atau nasib buruk? Dirinya tiba-tiba hamil.


Meski sudah mengira, namun ia tak pernah menduga bahwa perkiraannya benar, karena rasanya tak mungkin sebab dirinya baru melakukannya satu kali.


" Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menghampiri ayah si jabang bayi ini? " gumamnya.


Mendadak kepalanya menjadi nyeri. Sebab uang di sakunya mulai menipis dan dirinya tak bisa memenuhi kebutuhan si jabang bayi.

__ADS_1


Setelah menimbang-nimbang akhirnya dirinya memilih untuk menghampiri ayah si jabang bayi ini


__ADS_2