
Di tempat lain, di sebuah Rumah sakit, Bagaskara terduduk di samping ranjang adiknya yang masih terlelap dalam tidurnya, tangannya menggenggam tangan sang adik, kedua matanya menatap wajah itu dengan rasa penyesalan.
Jika saja, bukan karena menyelamatkannya, mungkin pria itu tak akan dalam kondisi yang begitu buruk seperti ini, terlebih lagi Aldan, cucu dari Chandra itu ikut tak sadarkan diri karena serpihan kaca yang menancap di tubuhnya.
Berkat kejadian dari ledakan itu, Arga Wisesa putra dari Chandra, akhirnya pulang dan memutuskan untuk merawat Ayah dan juga Anaknya, pria itu tampak sedih dan juga menyesal karena pernah menelantarkan mereka berdua hanya demi cinta sesaat nya.
Selaku Om dari Arga, Bagaskara senang, akhirnya pria itu akhirnya sadar, bahwa Ayah dan Anaknya masih membutuhkannya di sisi mereka.
Akan tetapi, karena dirinya, Chandra mau pun Ruksa tak bisa memimpin perusahan untuk sementara waktu, dengan berat hati, Bagaskara meminta laki-laki itu untuk memimpin selama salah satu dari mereka sembuh. Baik secara fisik mau pun mental
Raut wajah Arga seketika berubah jadi masam, sejak dulu dirinya sangat tak tertarik sama sekali dengan bisnis keluarga Wisesa, dirinya lebih suka berkreasi dari pada menjalankan bisinis.
Maka dari itu, ia kemudian menggunakan orientasi seksualnya sebagai alasan. Ia bahkan berpura-pura menyukai sesama jenis agar ayahnya berhenti menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya sama sekali.
Dan cara ini berhasil, hingga dirinya tak sengaja menghamili seorang gadis. Mungkin pada saat itu dirinya sangat egois dan kekanak-kanakan, dari pada bertanggung jawab, dirinya lebih memilih menjadi seorang pecundang dan seorang pengecut yang tidak berguna.
__ADS_1
Hingga, seiring berjalannya waktu, anak itu lahir dan tumbuh dewasa, wajahnya sangat mirip dengannya, tapi karena takut ayahnya akan menggunakan cara itu untuk membuatnya kembali.
Ia sekali menjadi seorang pecundang brengsek yang menelantarkan Anaknya sendiri.
Meski sulit, tapi ia menjalankannya dengan sangat baik, meski pun sebenarnya, terkadang dirinya ingin melihat wajah anaknya sendiri
Kendati begitu, meski Arga selalu bersikap dingin pada putranya, namun jauh di dalam hatinya, ia juga menyayanginya, sebab bagaimana pun Aldan adalah darah dagingnya sendiri, tai sayangnya ia tak bisa menunjukan hal itu pada Ayah nya.
Saat pertama kali, dirinya mendengar bahwa anaknya masuk ke rumah sakit akibat bulliying, Arga tak langsung percaya, ia mengira, bahwa semua itu adalah akal-akalan daru Ayahnya.
Namun siapa sangka, bahwa semuanya benar.
Meski begitu, ia tetap tidak ingin mengambil perusahaan itu meski pun untuk sementara waktu.
" Om tahu, kalau kamu tak ingin melakukannya, tapi bisakah kamu membantu Om sekali ini saja? lagi pula Ayah mu juga pasti senang mendengarnya, Tunggulah sampai Ruksa pulih, bagaimana? "
__ADS_1
" Tapi Om . .. .
Tiba-tiba Gantari masuk ke dalam kamar dan membisikkan sesuatu
" Meski sulit, tapi Om Tak punya banyak pilihan lain. " tutur Bagaskara sembari berjalan meninggalkan Arga bersama dengan sang Ayah
Di taman rumah sakit.
" Tuan. " ucap Gantari.
" Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan kembaran anak itu? "Tanya Bagaskara.
" Maaf tuan, kami belum menemukannya, tapi kami berhasil menemukan dalang dari ledakan kemarin. "
Bagaskara kemudian menoleh ke samping dan Gantari pun langsung menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat padanya.
__ADS_1
" Apa kamu yakin dia adalah orangnya? " tanya Bagaskara.
Gantari pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, ia mengatakan bahwa wanita itu terekam dari berbagai kamera CCTV, tapi dia tidak bertindak sendiri, sebab wanita itu tertangkap dengan beberapa remaja di sekitarnya