
Di setiap pertemuan pasti akan ada namanya perpisahan, sama halnya dengan Ruslan yang harus berpisah dengan sang ibu. Meski rasa rindu di dalam hatinya belum terbayarkan semuanya, akan tetapi dirinya tak bisa memikirkan egonya sendiri. Ia pun terpaksa harus melihat ibu terkasihnya pergi bersama sang adik menuju rumah mereka yang dulu
" Apa kamu sungguh tak bisa ikut bersama kami? Jika kamu terlalu takut pada Ayahmu, biar Bunda yang berbicara langsung padanya, bagaimana? "
Namun, seberapa keras ibunya membujuk, Ruslan tetap menolaknya dengan halus.
" Tapi kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian saat itu? Kenapa keluarga kita menjadi seperti ini?, bukankah sebelumnya keluarga kita baik-baik saja? " tanya sang ibu beruntun. " Ruslan tolong katakan pada Bunda mu ini."
" Benar apa yang di katakan oleh Bunda kak, sebenarnya apa yang membuat mu harus menetap di sini, apa karena seorang perempuan? " Menghela nafas. " Kak, ada banyak jutaan wanita di dunia ini yang lebih cantik dan lebih menarik dari pada dia, sebenarnya apa istimewanya dia sih? Hanya karena dia menolong kakak sekali, bukan berarti lo harus berkorban kayak gini. " ungkap Rusdi.
" Lebih baik tutup mulut lo, sebelum gue potong lidah lo. Karena lo nggak tahu apa-apa tentang gue. " ujar Ruslan.
" Makanya gue nanya sama lo karena gue nggak tahu apa-apa. "
Ruslan pun terdiam, perdebatan mereka mengundang banyak tanya semua orang yang berlalu lalang, menjadikan mereka pusat perhatian.
Namun bukannya menjawab, Ruslan malah membuang wajahnya lalu pergi, sang ibu yang meraih tangannya langsung dihempaskan begitu saja, membuat sang Adik, Rusdi menjadi marah dan mencoba memukul wajah kakaknya. Akan tetapi hal tersebut langsung di cegah oleh sang ibu yang tak ingin melihat kedua putranya berkelahi terlebih lagi ini adalah tempat umum.
Entah ini sebuah karma karena sikap kasarnya terhadap sang ibu, dirinya terus mengalami kemalangan, dari seseorang tak di kenal yang menusuknya, dan yang paling buruk putrinya sedang merajuk padanya sekarang dan dirinya tak tahu harus berbuat apa.
Di sisi lain. Ruksa yang tiba-tiba merasa bersalah hanya bisa memeluk kepalanya di taman rumah sakit. Kepalanya menunduk menatap rumput yang berada di antara kedua kakinya seraya terus menyalahkan sikapnya yang di nilai terlalu berlebihan.
" Boleh aku duduk? "
Tubuh Ruksa sedikit tersentak, kepalanya menoleh dan mendapati Aldan yang tengah berdiri di sampingnya seraya membawa tiang infusnya.
__ADS_1
" Ah, tentu silahkan. Lagi pula ini milik umum. " ujar Ruksa seraya menggeser pantatnya, memberi ruang untuk Aldan duduk.
Laki-laki itu pun terduduk di samping Ruksa, keduanya saling terdiam cukup lama hingga . . .
" Aku dengar . .
" Santai saja, nggak perlu sungkan. " sela Ruksa.
Aldan pun menoleh sebentar, lalu kembali menatap orang yang berlalu lalang di depan mereka.
" Gue dengar, lo yang pertama kali nemuin gue. " ujar Aldan. " Kenapa? Seharusnya lo biarin gue mati saat itu, karena gue merasa kalau hidup gue itu sudah nggak ada gunanya. " Tambahnya.
" Terkadang gue suka heran, ada ratusan orang yang berjuang demi hidup mereka, entah itu berjuang melawan penyakit, atau pun berjuang demi sesuap nasi. " terang Ruksa. " Seharusnya lo bersyukur hidup di keluarga berada, banyak di luar sana yang merasa iri dengan kehidupan lo. "
Tiba-tiba Aldan terkekeh, tatapannya menjadi gelap, ia mengatakan bahwa orang lain tak perlu iri terhadap hidupnya, sebab baginya, kehidupannya sangatlah suram, dan di penuhi dengan rasa kesepian.
Ruksa yang mendengar hal tersebut, langsung menepis pemikiran tersebut, baginya tak ada namanya anak terkutuk atau pun anak haram yang sering di katakan oleh orang terhadap bayi yang hasil dari hubungan gelap atau pun ketidak kesengajaan, baginya Itu semua karena kebodohan para calon orang tua yang tidak berpikir matang-matang, lagi pula seorang anak tahu apa? Mereka terlahir karena sudah takdir, semuanya sudah di tentukan sejak di dalam kandungan.
" Setidaknya ada kakek lo yang benar-benar sayang, meski di jarang memiliki waktu luang buat lo, bukan berarti dia tidak sayang, hanya saja ada banyak kebutuhan yang harus dia penuhi, percaya lah kalau semua itu demi kebaikan lo. "
Dahi Aldan seketika mengernyit, menatap Ruksa dengan tatapan penuh tanda tanya.
Sadar tengah di tatap, Ruksa pun berdeham, ia menjelaskan bahwa ia tahu semua itu dari sepupunya.
" Maksud lo Kak Ruksa? Kok gue baru tahu kalau dia punya temen seorang anak SMA? "
__ADS_1
" Emangnya kenapa? Lagi pula dia masih terlihat cantik dan muda kok. "
" Bukannya begitu, setahu gue, dia bukan tipe banyak temen. Dia juga terlihat sulit untuk di dekati. " timpal Aldan membenarkan.
Ruksa pun sedikit terkejut, tenyata laki-laki itu sering memperhatikannya selama ini.
" Mau berteman? " Ajak Ruksa tiba-tiba, tangannya terulur ke depan.
Aldan pun terdiam sejenak, menatap wajah perempuan di sampingnya. Entah kenapa? Sejak awal ia merasa nyaman jika berada di dekatnya, rasanya asing namun terasa akrab, padahal dia merupakan seorang pemilih yang tak mudah akrab dan nyaman seseorang.
Apa mungkin dirinya sedang jatuh cinta? Tapi rasanya berbeda dengan gambaran yang sering ia baca dan tonton.
" Kenapa? Nggak mau? " tanya Ruksa yang menyadarkannya dari lamunan.
" Bukannya begitu. . . Okeh, mulai sekarang kita berteman. ngomong-ngomong kenalin gue Aldan. " timpalnya seraya menerima uluran tangan itu,
" Dania. "
Keduanya pun terkekeh secara bersamaan, lalu kembali menatap orang-orang yang berlalu lalang.
Di dalam hati, Ruksa yang merasa senang, tenyata sepupunya itu tak sesulit yang dipikirkannya. Lagi pula bukan hal buruk jika nanti Dania memiliki teman seperti Aldan, dia yakin keduanya pasti bisa saling memaklumi.
" Oh iya, boleh nanya nggak? Kenapa lo nggak ngelawan mereka sih? Kan lo cowok. "
Aldan pun menolehkan kepalanya, ia terdiam sejenak lalu mengatakan bahwa dirinya bukannya tidak mampu melawan orang-orang yang mengganggunya selama ini, sebab kakeknya melatihnya dengan keras, hanya saja dia ingin melihat bagaimana jika Ayahnya tahu kalau anaknya ini di rundung dan di larikan ke rumah sakit. Sedikitnya ia berharap pria itu akan datang dan melihatnya walau pun hanya sedetik saja. Tapi nyatanya pria itu tak pernah datang sekalipun. Membuatnya harus menelan kecewa.
__ADS_1
Di dalam otak pria itu, Aldan menyadari bahwa hanya ada pacar prianya saja yang memiliki paras tampan namun manis. Berbeda dengan dirinya yang seperti butiran debu kala di mata Ayahnya itu. Aldan menyadari bahwa dirinya memang bukan anak yang di inginkan, namun apa itu adalah kesalahannya karena sudah terlahir di muka bumi ini?