
Besoknya, di Laut Mati, Yordania.
Perairan paling asin di dunia yang memiliki air biru cermerlang, terdapat clistal garam yang menonjol keluar dan bukit-bukit berwarna keemasan di sekitarnya.
Terlihat Jelita dan Renata yang sudah memakai bikini. Sedangkan Ryo dan Jefra hanya menggunakan celana renang, mempertontonkan perut kotak-kotak yang memanjakan mata para kaum hawa.
"Kalau mandi lumpur di sini akan membuat kecoa dan semut terpeleset saat berjalan di atas permukaan kulit," kata Renata yang melihat banyak orang yang sedang mandi lumpur.
Kandungan lumpur di Laut Mati memang berkhasiat untuk kesehatan kulit karena kaya akan mineral.
"Wah," Ryo berbinar mendengarnya, "Sayang, sini aku lumuri tubuhmu dengan lumpur, kulitmu pasti akan semakin halus," ucapnya pada Jelita.
"A-apa?"
Sebelum Jelita melayangkan protes, tangannya sudah ditarik Ryo untuk ke bibir pantai.
Kenapa jadi Ryo yang bersemangat? Oh, tentu saja karena kemesuman pemuda itu. Ryo membayangkan jika dialah yang menjadi kecoak atau semut yang akan terpeleset jika menyentuh kulit Jelita.
Kemudian Ryo mengambil lumpur dan mulai melumuri tubuh Jelita dengan telaten.
"Terlepas dari keindahan Laut Mati, di sinilah tempat di azabnya kaum Nabi Luth," ucap Jelita tiba-tiba.
"Ya-yang benar?" seketika Ryo berhenti dari aktivitasnya.
"Ya, bahkan bagi agama Kristen, Laut Mati adalah bekas pemukiman kaum Sod-om dan Go-mora yang dimusnahkan."
"Kenapa sejarahnya menyeramkan sekali? Kalau begitu kita nggak usah datang ke sini," ungkap Ryo yang baru tahu akan hal itu, bulu kuduk miliknya sampai berdiri karena merinding.
"Namun, secara geologi, ada retakan yang timbul pada sungai Yordan pada puluhan juta tahun yang lalu, kemudian sepanjang retakan membentuk danau yang memiliki kandungan mineral yang tinggi. Laut Mati menjadi sangat fenomenal karena airnya dapat membuat semua benda mengapung dan tidak akan tenggelam karena konsentrasi garam mencapai 34 persen," jelas Jelita.
"Luar biasa," puji Ryo karena penjelasan Jelita.
"Ya, Laut Mati memang terkenal indah," ucap Jelita menanggapi pujian Ryo.
Ryo berbinar menatap istrinya, "Bukan. Itu memang luar biasa juga, tapi kamu yang luar biasa karena tahu banyak tentang itu. Bagaimana bisa kamu mengetahui semua itu? Apa kamu belajar dulu sebelum datang ke sini?"
"Mana mungkin aku belajar dulu, aku mengetahui itu dari sebuah buku yang pernah aku baca," kilah Jelita, tapi terlihat senang karena dipuji sang suami.
Jelita memang sering membaca buku, tidak hanya buku bisnis tapi banyak buku lainnya.
"Apa kamu mau berenang?" tanya Ryo kemudian.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan mandi lumpurnya?"
Ryo membuat Jelita heran, padahal tadi suaminya itu semangat sekali menyuruhnya mandi lumpur.
"Nggak usah, tanpa itu kulitmu sudah selembut pantat bayi," Ryo terkekeh.
Jelita sweatdrop mendengarnya, bisa-bisanya kulitnya disamakan dengan pantat bayi.
Ketika ke duanya ingin berjalan menuju laut, kaki Jelita terpeleset karena lumpur yang begitu licin.
Sett
"Hati-hati dong," Ryo dengan sigap menarik Jelita pada pelukannya.
Jelita tertawa setelah tersadar dari rasa kaget, "Kalau jatuh di genangan lumpur nggak akan sakit, jangan khawatir."
"Baiklah," Ryo terlihat masih khawatir, "Masalahnya jantungku lemah saat kamu kenapa-kenapa, jadi aku mohon berhati-hatilah."
Jelita tertegun sesaat, dia pikir seorang suami harus membuat dirinya merasa dicintai, tetapi Jelita telah membuktikan bahwa Ryo jauh lebih dari itu. Suaminya itu kerap memberikan perhatian kecil yang begitu manis, dan membuat dirinya merasa menjadi wanita yang begitu istimewa.
"Tempat ini memang begitu indah. Namun, hal yang terindah yang pernah aku lihat di dunia ini sudah menjadi milikku," ucap Jelita menatap mata hazel Ryo.
Ryo terkejut mendengar ucapan istrinya, lalu tersenyum sembari mengelus pipi Jelita yang memerah dengan punggung tangannya.
Ryo dan Jelita memang sudah dibutakan cinta.
Kemudian ke duanya mendekatkan wajah, sedikit demi sedikit mengikis jarak di antara bibir mereka.
Namun.
"Hmm," suara dehaman mengentikan.
Jelita segera mendorong Ryo dan melihat si pelaku dehaman, sedangkan Ryo menunjukkan ekspresi kesal.
"Re-Renata," kata Jelita terbata-bata.
"Bukankah tempat ini terlalu ramai untuk berciuman?" tanya Renata tanpa ada rasa bersalah.
Oh, ayolah, Jelita malu sekali. Rasanya ingin menggali lubang di pasir pantai dan mengubur diri di sana. Bisa-bisanya Jelita terbawa suasana.
**
__ADS_1
Mata elang Jefra menatap sekeliling, mengawasi keadaan sekitar, memeriksa apakah ada orang yang menunjukkan gerak-gerik mencurigakan.
Selama perjalanan belum ada tanda-tanda akan adanya penyerang dari Jason dan para mafia, ini sangat aneh. Apa benar-benar akan ada penyerangan? Apa ada kekeliruan dari informasi yang David berikan?
Jefra memfokuskan tatapannya pada seorang wanita berbikini sexy yang sedang menatapnya, seolah memberikan isyarat agar Jefra menghampiri.
Kemudian Jefra melihat tempat di mana ada Ryo, Jelita, dan Renata yang sedang bermain lumpur. Ke tiganya terlihat asik, jadi tidak masalah jika Jefra pergi untuk menghampiri si wanita berbikini.
"Kenapa kamu di sini, Vivi?" tanya Jefra yang sudah berada di hadapan Vivi, si wanita asing berambut blonde.
"Ck," Vivi berdecak kesal, "Lambat sekali, kenapa tidak cepat datang saat aku memberikan isyarat?" sengitnya.
"Aku sedang menyamar, bodoh," ucap Jefra datar.
"Hais, dasar balok es," ejek Vivi, "Aku ke sini ingin memberikan informasi baru."
Sama halnya dengan David, Vivi adalah rekan dari misi yang sedang Jefra lakukan.
"Jason akan melakukan penyerangan di negara terakhir yang akan kalian kunjungi, dia sudah mempersiapkan semuanya di sana," ucap Vivi seraya mendekatkan dirinya pada Jefra, agak berbisik.
Sepertinya karena penyadapan yang sebelumnya berhasil dilakukan, membuat Jason mengetahui negara mana yang akan menjadi kunjungan terakhir dari honeymoon Ryo dan Jelita.
Jefra mengangguk paham, "Baiklah," jawabnya.
Kemudian Vivi menepuk pundak Jefra pelan, mata biru miliknya menatap sekilas ke arah belakang Jefra, "Kalau begitu aku pergi dulu."
Lalu wanita itu berbalik pergi, berjalan berlenggak-lenggok dan menjadi pusat perhatian para lelaki.
'Harusnya kamu lebih menjaga kekasihmu itu, David,' batin Jefra menggeleng pelan.
Jefra berniat kembali ke tempat semula. Namun, dia dibuat terkejut saat melihat Renata yang sudah berada di belakangnya.
Sejak kapan Renata ada di situ? Apa Renata mendengar apa yang tadi dia bicarakan dengan Vivi? Kenapa Vivi tidak memberitahu jika ada Renata di belakangnya?
"Jefra, apa yang sedang kamu lakukan dengan wanita asing tadi?" tanya Renata menyelidiki.
Jefra tidak tahu jika ada kilat api cemburu pada mata Renata.
"Apa kamu sedang menggoda wanita itu?" tanya Renata lagi.
_To Be Continued_
__ADS_1
Laut Mati.