
Terlihat sebuah kamar yang sangat kacau. Itu adalah kamar Davian. Pemuda itu telah mengamuk habis-habisan. Barang pecah dan berserakan di mana-mana, serta banyak botol minuman keras yang sudah kandas isinya. Seperti kapal pecah.
"Apa apa ini, Davian?" tanya Gina yang sedang berkunjung ke rumah si pemuda.
Awalnya, niat Gina adalah untuk menanyakan perkembangan usaha Davian dalam mendekati Renata, tetapi justru dibuat terkejut dengan keadaan kamar yang seperti habis terkena angin topan. Begitu pula dengan keadaan si pemilik kamar yang tidak kalah kacau, seperti gembel yang tidak mempunyai semangat hidup. Benar-benar nelangsa.
Davian tidak menjawab, pemuda itu menatap kosong ke jendela.
Gina masuk lebih dalam ke kamar super berantakan itu. Dia tidak menyangka kalau pemuda yang awalnya dia kira sempurna dalam segala hal, nyatanya adalah seorang pecundang. Gina benar-benar menyesal telah memberikan malam pertamanya untuk Davian.
"Kamu kenapa, Davian? Apa ini karena Renata?" tanya Gina tepat sasaran.
Wajah Davian mengeras seketika, tatapannya juga menyorot tajam, "Jangan sebut namanya lagi."
Gina agak terkejut dengan respon yang diberikan Davian.
"Kenapa? Bukankah kamu berniat kembali pada Renata?"
"Persetan dengan kembali padanya! Dia bahkan sudah menikah dengan cowok bernama Jefra!" sentak Davian.
"Jadi kamu menyerah begitu saja?"
Gina sungguh menyayangkan ini. Jika Davian menyerah, tidak ada lagi yang akan menggangu hubungan Renata. Gina tidak suka itu, karena dia tidak ingin Renata bahagia sendirian tanpa berbagi dengannya.
"Berisik!" hardik Davian.
Pemuda itu bangkit, lalu menarik tangan Gina kasar, mengajak wanita itu keluar dari rumahnya.
"Pergi! Jangan menggangguku lagi, Jal*ng! Aku sangat muak melihatmu, karena kamulah penyebab hubunganku dan Renata hancur!"
Davian mendorong Gina ke luar.
"Kenapa kamu menyalahkan aku? Kamu juga salah, Davian!" seru Gina tidak terima jika hanya dia yang disalahkan. Menurutnya Davian lah yang bodoh karena gampang tergoda dengannya karena iming-iming kepuasan.
Davian menatap tajam Gina, yang membuat wanita itu menciut seketika, sejatinya Gina adalah wanita yang penakut. Apalagi, selama ini Davian tidak segan-segan main tangan jika sedang marah.
"Aku hanya nggak habis pikir, kenapa ada orang seperti kamu di dunia ini? Lihat saja, kamu nggak akan mendapatkan apapun. Aku nggak tahu kenapa kamu begitu sangat ingin memiliki apa yang dimiliki Renata. Entah itu teman, kekasih, bahkan suami. Hentikan pola pikirmu mulai sekarang. Jangan mengharapkan kebahagiaan dari terus-menerus merongrong Renata."
Gina mengepalkan tangan, "Jangan menghakimi aku! Kamu sendiri juga berkelakuan buruk!" hardiknya.
"Ya, dari dulu aku memang bukan cowok baik-baik, aku akui itu, tapi aku nggak semenjijikan kamu."
BRAK
Davian langsung menutup pintu dengan membantingnya kencang, tepat setelah mengatakan hal yang begitu pedas.
Kenyataannya, mereka memang sama-sama berkelakuan buruk dan menjijikkan. Namun, kenapa justru saling bertengkar? Ya, karena ego manusia memang lebih besar dari apapun. Ego adalah bagian tidak terpisahkan dari kepribadian manusia. Jadi tidak heran jika Davian dan Gina berusaha membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain, dari pada mengintropeksi diri. Mereka berdua tidak dapat mengendalikan ego mereka ke arah yang baik.
Anggap saja bebal.
**
Perasaan Gina sangatlah kesal saat ini, di dalam hati terus-menerus memaki Davian.
__ADS_1
Langkah kakinya terhenti di depan sebuah cafe es krim. Gina juga tidak tahu kenapa dia datang ke cafe es krim favoritnya dan Renata semenjak kuliah dulu. Dia ingat sekali saat Renata mentraktir es krim untuk menghiburnya setelah menghentikan aksi bunuh dirinya.
Jujur dia merindukan Renata saat itu.
Kemudian Gina masuk ke dalam, memesan es krim rasa stroberi, lalu mencari kursi yang kosong untuk duduk di sana.
"Aku nggak suka manis."
"Cobalah es krim rasa stroberi, pasti kamu akan menyukainya, aku juga sangat menyukai rasa stroberi, kalau sepupuku sangat menyukai rasa cokelat."
"Baiklah aku ingin mencoba es krim rasa stroberi."
Tanpa sadar air mata Gina menetes saat mengingat kenangan bersama Renata dulu.
"Eh, kenapa aku menangis?"
Gina sungguh bingung dengan apa yang dirasakannya sekarang. Di satu sisi dia sangat merindukan kebersamaannya bersama Renata, dan di sisi lain sangat membenci Renata yang mengingkari perkataan yang ingin membagi kebahagiaan bersama.
"Aku ingin es krim rasa stroberi, Jef."
Deg
Itu suara Renata.
Gina refleks menengok ke arah suara itu. Dan benar saja, Renata dan Jefra sedang memesan es krim. Ternyata Renata masih sering datang ke tempat ini.
Di sisi Renata dan Jefra.
"Kamu mau apa, Jef?" tanya Renata.
"Ingin menggunakan cone manis, tawar, atau menggunakan cup?" tanya si pelayan yang seorang gadis muda dengan suara semanis madu, matanya sepenuhnya tertuju pada Jefra.
"Cone tawar," jawab Jefra, kemudian beralih pada Renata, "Kamu?"
"Aku cone manis."
"Baiklah, dua rasa stroberi," si pelayan menyodorkan es krim mereka masing-masing, dan mengedipkan mata pada Jefra.
Renata menatap sinis si pelayan yang terlihat tertarik dengan Suaminya. Lalu langsung mengapit lengan Jefra supaya si pelayan tahu siapa pemilik si pria tampan.
"Semuanya Rp. 38.000," ucap si pelayan konter es krim, keramahan tiba-tiba hilang dari suaranya.
Renata tersenyum penuh kemenangan.
Jefra menyodorkan lembaran berwarna biru pada si pelayan konter, "Ambil kembaliannya."
Kemudian pasutri baru itu berlalu meninggalkan cafe itu.
"Menyebalkan, kenapa tidak kamu tidak ambil saja kembaliannya?" Renata merengut.
"Sudah, tidak apa-apa, sayang," Jefra mengacak rambut Istrinya pelan.
"Huh, tapi dia genit padamu," gerutu Renata.
__ADS_1
"Genit? Aku tidak menyadarinya. Soalnya sejak tadi orang yang aku perhatikan hanyalah Renata seorang."
Sekejap Renata bungkam, dijilatnya es krim miliknya, wajahnya tersipu malu dan bibirnya berkedut ingin tersenyum. Hilanglah sudah rasa kesalnya.
"Apa masih sakit?" tanya Jefra kemudian.
"Apanya?" tanya Renata balik.
"Milikmu. Aku perhatikan cara jalanmu terlihat kurang nyaman."
Bertambah sudah rona merah di wajah Renata, bisa-bisanya Jefra membahas hal itu si tengah jalan seperti ini. Mekipun tidak ada yang mendengar, tapi tetap saja malu.
"Harusnya kamu istirahat di rumah, tapi justru mengajak pergi makan es krim," sambung Jefra.
"Hanya sakit sedikit."
Sebenarnya hanya sebagai alasan saja Renata mengajak Jefra untuk ke cafe es krim favoritnya itu. Padahal dia hanya ingin kabur dari godaan sang Ibu. Renata benar-benar malu tentang itu. Ingin rasanya dia kabur ke ujung dunia.
Raut mengkerut Jefra terlihat mengendur, "Untunglah."
Renata tersenyum karena rasa perhatian sang Suami. Tetapi senyumannya memudar saat Jefra melanjutkan perkataannya.
"Aku jadi bisa melakukanya lagi nanti malam."
Ternyata ada udah dibalik batu. Ada maksud tersembunyi di balik perkataan Jefra. Renata sampai dibuat tidak bisa berkata-kata.
Drett... Drett...
"Tunggu, aku angkat telepon dulu," kilah Jefra saat ponselnya bergetar, lalu mengambil ponselnya yang berada di kantung celana jeans yang dikenakannya.
Jefra berjalan menjauh dari Renata.
"Angkat telepon saja pakai menjauh segala," gumam Renata merengut.
Kemudian Renata kembali menikmati es krim stroberi miliknya yang tinggal setengah itu sembari menunggu Jefra. Cuaca panas seperti ini memang sangat nikmat saat memakan es krim.
Senyum Renata mengembang saat melihat ada anak perempuan yang sedang mengejar kupu-kupu, begitu imut. Dia jadi menginginkannya. Lalu menggeleng dengan pemikirannya itu. Tatapan Renata seketika berubah panik saat melihat anak kecil itu tengah menyebrang jalan raya, tanpa menyadari adanya mobil sedan yang melesat kencang. Ke mana orang tuanya?
Renata langsung berlari untuk menyelamatkan si anak perempuan.
Grep
Tin! Tin!
BRAKK
"Wanita itu tertabrak!"
"Astaga! Cepat telepon ambulance!"
Teriakan-teriakan histeris tidak luput dari pendengaran Jefra yang sedang berbicara di telepon. Seketika Jefra membatu.
"Renata!"
__ADS_1
_To Be Continued _