Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Mengikuti Jefra


__ADS_3

Malam harinya.


Setelah melakukan tur keliling gunung Everest, mereka berlanjut menginap di hotel Yak & Yeti yang berada di Kathmandu dekat Everest Summit Lodge.


Dan di sinilah Jelita berada, di kamar hotel dengan suasana mewah, terdapat tv layar datar, minibar, dan penyejuk udara.


"Apa aku harus memakainya?" tanya Jelita pada dirinya sendiri.


Terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi, pertanda Ryo yang sedang mandi. Sedangkan Jelita yang sudah mandi duluan terlihat bimbang dengan apa yang akan dia pakai.


Dengan menguatkan tekatnya Jelita pun akhirnya menentukan pada pilihan untuk memakai linge-rie. Ya, sejak tadi dia memang bimbang karena hal itu. Sebenarnya dia malu untuk memakai baju transparan itu. Namun, Jelita teringat dengan Renata yang mengatakan jika Ryo pasti akan senang jika dia memakai linge-rie, karena beberapa hari ini Ryo sudah membuatnya senang maka giliran dirinya yang membuat suaminya itu senang.


"Bahkan Ryo sudah sering melihatku tanpa apapun sebelumnya, jadi aku nggak perlu malu," gumam Jelita meyakinkan dirinya sendiri.


Jelita segera mengganti kimono handuk yang dia pakai dengan lingerie berwarna merah, dia bahkan tidak menggunakan apapun lagi di baliknya. Kemudian dinyalakannya lilin aroma terapi dan menyemprotkan parfum beraroma vanila pada tubuhnya.


Cklek


Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, lalu Ryo keluar dari balik daun pintu dengan hanya menggunakan handuk yang melilit pada pinggangnya, tetesan air menetes dari ujung rambutnya yang basah dan merambat pada badan paripurna yang setengah terekspos.


Seketika Ryo membeku dan pupil matanya membesar tatkala melihat Jelita yang sedang berdiri dengan balutan baju transparan, serta keadaan kamar yang temaram dan tercium wangi vanila yang sangat dia sukai.


"Je-Jelita," Ryo menelan saliva dengan susah payah, mata hazel miliknya sudah membara karena jelalatan pada tubuh sensitif istrinya yang terlihat begitu jelas.


Apakah ini definisi dari memakai baju tapi te-lanjang? Oh, Ryo sangat menyukai itu.


"Sayang," Jelita tersenyum menggoda sembari berjalan dengan gerakan sensual ke arah Ryo.


'Sh-it,' umpat Ryo dalam hati.


Jelita begitu sexy sekali, apa istrinya itu sedang menggodanya?


Jemari lentik milik Jelita menelusuri perut kotak-kotak Ryo, lalu memberikan kecupan pada bagian otot da-da yang menggoda itu.


Ryo jadi panas dingin dibuatnya, tangannya bergerak memegang lembut ke dua pundak Jelita, "Kamu nakal, ya," desisnya.


Jelita mengangkat kepalanya untuk bisa melihat wajah tampan Ryo, "Tubuhmu dingin sekali, ayo kita berbagi kehangatan," bisiknya.


Tubuh Ryo memang terasa dingin karena sehabis mandi, belum lagi keadaan di luar yang bertemperatur rendah.


Ryo menyeringai, "Oh, apakah ini undangan untukku?" tanyanya.

__ADS_1


"Ya," jawab Jelita seraya mengalungkan tangannya pada leher Ryo.


Jantung Ryo terpompa dengan cepat, darahnya pun seakan mendidih karena li-bido yang sudah naik, dirinya tidak tahan dengan godaan yang Jelita berikan, ingin sekali dia memakan istrinya itu sekarang juga.


"Apa tamu kamu sudah pergi?" tanya Ryo.


Jelita mengangguk, "Dari kemarin sudah pergi," jawab Jelita.


"Kenapa nggak bilang sejak awal?" Ryo menarik pinggang Jelita, membuat tubuh ke duanya menempel dengan erat.


"Memangnya harus bilang?" Jelita dapat merasakan sesuatu yang keras menusuk perutnya, menandakan Ryo yang sudah siap bertempur.


Ryo jadi gemas dibuatnya, padahal sejak kemarin dirinya sudah menahan untuk tidak menyerang Jelita, karena dia mengira jika Jelita masih datang bulan. Istrinya itu benar-benar sudah menguji kesabaran.


Ke dua tangan Ryo bergerak ke belakang tubuh Jelita, meremas kuat bokong padat dan berisi milik Jelita untuk menyalurkan rasa gemasnya.


"Ryo," Jelita menatap sayu suaminya.


"Apa?" tanya Ryo dengan mengerling nakal, "Mau cium?"


Jelita tidak menjawab, tapi justru berjinjit dan menarik kepala Ryo untuk berinisiatif memulai ciuman duluan, melu-mat bibir yang terasa dingin itu sembari memberikan elusan pada rahang tegas suaminya.


Ryo tersenyum senang di sela ciuman yang diberikan Jelita, ternyata istrinya bisa menjadi agresif, lalu Ryo mulai melu-mat balik bibir milik Jelita, membalas dengan menggebu-gebu.


Dengan bibir yang masih bertaut, Ryo mengangkat tubuh mungil istrinya untuk membawanya ke ranjang, dan menidurkan Jelita dengan perlahan.


Kemudian Ryo menjauhkan wajahnya untuk membuka handuk yang melilit pinggangnya.


Brett


Jelita terkejut saat Ryo merobek linge-rie yang dia kenakan dengan begitu mudahnya.


"Aku suka kamu yang memakai baju sexy, tapi aku lebih menyukai kamu yang tanpa sehelai bena-ngpun," ucap Ryo dengan suara yang serak.


Wajah Jelita merona merah, suaminya itu benar-benar mesum.


"Ryo," cicit Jelita saat mereka sudah sama-sama polos seperti bayi yang baru lahir.


Tubuh Jelita sontak bergelinjang saat Ryo mulai memainkan ke dua bukit besarnya, meremas, mengecup, menghisap, bahkan menggigit. Suara merdunya pun tidak bisa ditahan lagi, lolos dengan begitu indahnya.


Permainan mereka semakin panas saat senjata kebanggaan Ryo memasuki sarangnya, dan Ryo mulai memompa dengan gerakan yang lambat dan lama-kelamaan menjadi cepat.

__ADS_1


"Oh, Jelita, sayangku."


Malam yang tadinya dingin, kini menjadi begitu erotis dan panas bagi mereka berdua.


**


Pada waktu yang sama.


Terlihat Renata yang baru saja keluar dari sebuah minimarket tidak jauh dari hotel, ada kopi panas di tangannya dan kantung plastik berisikan macam-macam snack.


Karena merasa bosan Renata pergi ke minimarket sekaligus ingin melihat pemandangan malam Kathmandu, kota terbesar di Nepal. Padahal dirinya ingin mengajak Jefra untuk menemaninya, tapi pemuda itu tidak merespon ketika Renata mengetuk pintu kamar hotel Jefra, saat ditelepon pun tidak menjawab.


"Katanya ingin mengenal lebih dekat tapi malah nggak ada di saat dibutuhkan," gumam Renata cemberut.


Renata mulai melangkahkan kakinya, merapatkan mantel yang dia kenakan saat udara dingin menusuk kulitnya. Kemudian menyeruput kopi panas yang tadi dia beli, rasa panas dari kopi lumayan membuat hangat tubuhnya.


Namun, langkahnya mendadak berhenti saat melihat siluet pemuda yang dia kenal.


"Jefra?"


Ya, itu Jefra, pemuda berperawakan tinggi yang ingin menikahinya sebentar lagi, seketika wajah Renata merona karena mengingat itu.


"Mau ke mana dia malam-malam begini?"


Renata segera mengikuti Jefra dari belakang karena merasa penasara, dengan susah payah Renata mengikuti langkah lebar si pemuda, bahkan dia sampai harus berlari kecil.


Jefra berbelok menuju perumahan penduduk dan itu semakin membuat Renata heran, tetapi saat Renata berbelok Jefra sudah tidak terlihat lagi.


"Cepat sekali jalannya, apa dia seorang ninja yang tiba-tiba menghilang?"


Renata memutuskan menyerah untuk mengejar Jefra, lalu mengistirahatkan dirinya sejenak karena merasa lelah, bersandar pada palang yang terbuat dari beton.


Menyesap kembali kopi miliknya yang sudah tidak panas lagi, setelahnya menghembuskan napas yang mengeluarkan asap putih karena udara dingin, "Kira-kira ke mana, ya?" gumamnya yang masih penasaran ke mana Jefra pergi.


Renata termangu setelahnya, memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak dipikirkannya itu. Cukup lama Renata termangu dan membuatnya mengantuk tiba-tiba, sepertinya kopi yang tadi dia minum tidak berefek pada rasa kantuknya, kelopak mata yang terasa berat menutup dengan perlahan.


Sett


"Eh?"


Sontak Renata membuka kembali kelopak matanya karena merasakan dirinya terjatuh ke belakang, dia baru menyadari jika palang yang menjadi sandarannya adalah pembatas jurang di belakangnya.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2