
Ryo memasuki kamar Jelita. Dan benar saja, Jelita sudah benar-benar pergi, semua barang-barang Jelita sudah tidak ada, lemari pun sudah kosong. Yang tersisa hanya tempat tidur yang masih meninggal wangi dari gadis itu.
Ryo mendudukkan bokongnya di bibir ranjang, "Jelita, kenapa kamu meninggalkan aku?" gumamnya dengan nada yang sumbang.
Rasa marah, sedih, sakit hati, kecewa, dan penyesalan berkumpul di hati Ryo. Dirinya sungguh terpukul dengan kenyataan jika Jelita pergi.
Ingin rasanya dia mencari keberadaan gadis tercintanya itu. Namun, dia tidak tahu menahu tentang di mana Jelita tinggal dan asal-usul Jelita yang sebenarnya.
"Aku memang nggak tahu apa-apa tentang dirinya," kepala Ryo mendadak pening.
Bagaimana bisa dia tidak tahu apapun tentang Jelita? Bertanya pada Ayahnya pun dia tidak mendapatkan informasi. Jelita seakan ditelan bumi.
Ryo menatap secarik kertas yang dia pegang, surat yang ditinggalkan Jelita. Dia memang belum sanggup untuk membacanya karena takut jika surat itu berisi umpatan dan makian. Jelita pasti sangat marah dan kecewa padanya karena sudah merenggut kesucian yang telah dijaga baik oleh gadis itu. Dan Ryo berpikir jika hal itu adalah alasan Jelita meninggalkan dirinya.
Dengan ragu Ryo membuka surat pemberian Jelita, dia sudah membulatkan tekat untuk membacanya. Mau bagaimanapun, ini adalah surat dari gadis tercintanya.
...Jangan mencariku....
...By : Jelita....
Singkat, padat, dan jelas. Itulah isi surat dari Jelita.
"Mak-maksudnya?"
Apakah ini karma karena kelakuannya dulu yang sering mencampakkan wanita? Dan kini Ryo merasa jika dirinyalah yang sedang dicampakkan oleh Jelita.
**
Di rumah mewah modern dengan desain futuristik yang berwarna abu-abu. Terdapat dinding roster yang memisahkan antara eksterior dengan halaman dalam rumah.
"Jelita! Yuhu!" teriakan yang begitu melengking bergema di bagian dalam rumah.
Renata, gadis berambut hitam panjang berjalan semakin dalam memasuki rumah.
"Nona Jelita sedang di kamar," ucap seorang maid yang berusia 20 tahunan.
"Ya, terima kasih," Renata tersenyum dan melanjutkan langkah kakinya untuk menaiki tangga, menuju kamar si nona muda keluarga Albirru.
Langkahnya berhenti di depan kamar dengan model 2 pintu yang terdapat ukiran-ukiran khas. Renata langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dia memang sudah terbiasa berbuat semaunya ketika berkunjung ke rumah sepupunya itu.
"OMG! Jelita, kenapa kamu masih tidur? Ini sudah pukul 1 siang," teriak Renata seraya membuka selimut yang menutupi tubuh jelita hingga seperti ulat bulu.
Jelita yang tadinya sedang bermimpi indah langsung terbangun paksa karena teriakan Renata yang seperti toa masjid. Tubuhnya pun terguling dengan paksa karena Renata yang menarik selimutnya, beruntung dia tidak jatuh dari ranjang.
__ADS_1
"Renata sialan, kamu mengganggu saja," sengit Jelita seraya bangkit terduduk. Dia benar-benar kesal dengan sepupunya itu.
Jika ditanya seperti apa penampilan Jelita saat ini. Jelita sudah tidak menyamar lagi, kini dia kembali ke sosok gadis yang sangat cantik meskipun baru saja bangun tidur.
"Ck," Renata berdecak karena tidak kalah kesalahannya dengan Jelita, tangannya bertolak pinggang, "Bukankah kamu yang lebih mengganggu aku karena sudah seenaknya menyuruhku datang ke sini? Dan kamu justru enak-enakan tidur," ucapnya sarkastik.
Ya, Jelita sendirilah yang meminta Renata untuk datang.
Dia membutuhkan sepupunya itu untuk berkeluh-kesah tentang apa yang dia rasakan sekarang. Namun, Renata sangat telat datangnya, padahal Jelita sudah menunggu Renata sejak pagi dan sampai berakhir tidur karena bosan menunggu.
"Aku sibuk, Jelita. Pasienku banyak," ujar Renata seakan tahu apa isi pikiran Jelita.
"Aku tahu pekerjaanmu itu hanya duduk-duduk saja, jangan mencari alasan," sinis Jelita.
"Hais, aku nggak alasan," kilah Renata memutar bola matanya.
Jelita memincingkan mata karena masih tidak percaya.
"Sudahlah, ada apa kamu menyuruhku datang ke sini? Apa kamu sudah nggak menyamar menjadi Bodyguard lagi?" tanya Renata mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sejujurnya memang benar jika dia hanya mencari alasan atas keterlambatannya itu, alasan sebenarnya adalah dia habis hangout dengan teman-temannya.
Jelita terdiam sesaat, dia agak ragu untuk bercerita pada Renata.
"Aku kabur," ucap Jelita setelah meyakinkan dirinya untuk bercerita dengan Renata.
"Kabur?" Renata mengeryit masih tidak paham.
"Aku kabur dari rumah Ryo, aku malu pada Ryo yang sudah melihat tu-tubuh te-telanjangku," wajah Jelita terlihat memerah.
Renata melongo mendengar perkataan Jelita, dia masih loading untuk memahami apa yang telah terjadi di antara Jelita dan Ryo.
"Jadi kamu dan Ryo sudah melakukan itu?" tanya Renata membutuhkan klarifikasi.
Jelita mengangguk.
"Dan kamu pergi karena Ryo sudah melihat kamu yang te-lanjang bulat?" tanya Renata lagi.
"Stop bertanya!" seru Jelita yang menutup wajahnya dengan bantal yang dia ambil dari sampingnya, "Jangan membuatku semakin malu, Renata," cicitnya.
Renata menatap tidak percaya Jelita, sepupunya yang polos kini sudah tidak pera-wan lagi, betapa bejatnya Ryo yang sudah memaksa Jelita.
"Kurang ajar! Apa kamu ingin aku memberi pelajaran pada Ryo yang sudah memaksamu? Tunggu..."
__ADS_1
Renata baru menyadari sesuatu, bahwa ada yang salah di sini.
"Kamu yang jago gelud kenapa bisa dipaksa Ryo?" sambungnya dengan tatapan menyelidik.
"Ryo nggak memaksa aku, tapi aku yang menawarkan diri," ucap Jelita sembari membenamkan wajahnya pada bantal yang dia peluk.
"What!" pekik Renata.
Jelita menutup ke dua telinganya karena pekikan Renata yang begitu kencang, bahkan para maid yang berada di luar kamar Jelita sampai kaget mendengarnya.
"Jelita, bagaimana bisa kamu menawarkan dirimu untuk Ryo?" tanya Renata setelahnya.
"Semalam Ryo terlihat tersiksa karena seseorang sudah menjebaknya dengan obat perang-sang, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menolong Ryo dari rasa tersiksanya," jawab Jelita.
Renata kembali melongo, "Padahal kamu bisa menghilangkan efek obat itu dengan cara menyiram Ryo dengan air dingin," ucapnya.
Jelita membelalakkan matanya, "Apa bisa seperti itu?" tanyanya.
"Tentu saja bisa," Renata jadi geregetan sendiri.
Jelita memang sangat pintar. Tidak, sepupunya itu genius. Namun, kenapa soal seperti ini saja Jelita tidak tahu? Sebenarnya tidak heran karena di pikiran Jelita hanya soal nilai saham dan skill berbisnis saja. Sejak kecil Jelita hanya belajar dan belajar saja, bahkan untuk bergaul dan mencari teman saja Jelita tidak melakukan itu, karena itulah hanya Renata yang menjadi teman satu-satunya Jelita.
"Ta-tapi aku sudah melakukan itu dengan Ryo," ucap Jelita.
"Apa sekarang kamu menyesal?" tanya Renata.
Jelita menggeleng tanpa berpikir, "Aku hanya malu saja," katanya.
"Kamu harus membiasakan itu, Jelita. Hilangkan rasa malumu. Lagi pula kalian akan menikah, pasti Ryo akan lebih sering melihatmu tanpa pakaian," nasihat Renata.
Jelita mengangguk kaku, nasihat Renata memang benar.
"Tapi, Renata."
"Apa lagi?" tanya Renata mengangkat satu alisnya.
"Apakah wajar jika aku berdarah saat melakukan itu?"
"Hah?" Renata hampir tersedak salivanya sendiri karena pertanyaan Jelita.
"Aku sedang nggak sakit, kan?" tanya Jelita lagi.
_To Be Continued_
__ADS_1