Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Minder


__ADS_3

"Ryo, kalau lagi makan nggak boleh tiduran," ucap Jelita.


Kini Ryo sedang memakan Croissant sembari tiduran di sofa dengan berbantal paha milik Jelita.


"Kalau sambil tengkurap nggak apa-apa?" Ryo nyengir dengan konyolnya.


"Itu sama aja," jawab Jelita memutar bola matanya.


Kemudian Ryo bangkit dari posisinya dan duduk di sebelah Jelita, "Ayo kita tidur," ajaknya sambil merengek.


Jelita terlihat masih sibuk dengan laptopnya. Sejak tadi Ryo memang sengaja mengganggu istrinya agar tidak mengabaikannya, padahal saat ini sudah pukul 11 malam tapi Jelita justru sibuk sendiri.


"Sebentar, aku masih ada pekerjaan," jawab Jelita yang masih menggerakkan jari-jarinya di keyboard laptop.


Banyak sekali pekerjaan yang harus Jelita selesaikan karena akibat terlalu lama cuti, mulai besok dia akan kembali menjadi CEO, tentu saja karena dirinya sudah tidak menyamar menjadi Bodyguard lagi.


Ryo melihat layar laptop yang menampilkan diagram kenaikan omset perusahaan, tatapannya terlihat iri karena Jelita lebih memilih memperhatin benda itu dari pada memperhatikan dirinya, "Jadi istriku ini adalah seorang CEO?" tanyanya.


"Ya," jawab Jelita tanpa mengalihkan fokusnya.


Entah kenapa Ryo menjadi minder seketika, dia tidak yakin jika dirinya benar-benar pantas untuk menjadi suami Jelita yang begitu sempurna dari segi manapun. Sejatinya dia hanyalah pemuda brandal yang baru tobat akhir-akhir ini.


Karena menyadari Ryo yang mendadak diam Jelita mengalihkan tatapannya untuk melihat ke samping, "Kenapa melamun?" tanyanya dengan mengelus kepala Ryo sayang.


Ryo langsung tersadar, "Nggak kenapa-kenapa, kok," bantahnya sambil tersenyum.


Namun, Jelita yang melihat Ryo tersenyum setengah menyadari jika ada yang tengah menganggu pikiran suaminya itu.


"Kamu nggak bisa berbohong padaku, suamiku," kilah Jelita.


Sepertinya Jelita sudah mulai belajar memanggil suami.


Ryo terdiam sesaat, dia memang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan sesuatu pada istrinya, "Aku hanya sedang kurang percaya diri saja," jawanya.


"Kurang percaya diri?" tanya Jelita masih belum mengerti.


"Aku merasa mempunyai banyak kekurangan, aku nggak percaya diri menjadi suamimu," ucap Ryo jujur akan perasaannya.


Jelita mengulum senyum, "Kenapa harus nggak percaya diri? Suamiku itu tampan, bertanggung jawab dengan keputusannya, sudah melakukan sesuatu yang luar biasa karena berhasil berubah menjadi lebih baik, dan sangat mencintai aku juga," ucapnya seraya menyandarkan kepalanya pada bahu Ryo.


Ryo kembali menunjukan senyum penuhnya, wajahnya memerah karena mendengar pujian dari Jelita, dipuji istri ternyata begitu besar efeknya bagi seorang suami, karena istri adalah bagian dari diri seorang suami yang selalu dibutuhkan.


"Terima kasih," ucap Ryo sembari mengecup pucuk kepala Jelita.


"Ya," Jelita mengangguk.

__ADS_1


Kemudian Ryo memegang pinggul Jelita dengan ke dua tangannya dan memindahkan Jelita untuk duduk di pangkuannya.


Jelita hampir memekik karena perbuatan suaminya yang tiba-tiba, "R-Ryo tu-turunkan aku, aku harus melanjutkan pekerjaanku" pinta Jelita gugup.


Bisa-bisanya Ryo dengan begitu mudahnya mengangkatnya untuk dipangku, jantung Jelita jadi doki-doki dibuatnya.


"No," Ryo menolak permintaan Jelita, "Aku nggak melarangmu untuk bekerja, tapi aku melarangmu memforsir diri dalam bekerja, sayang."


Sepulangnya di rumah Jelita langsung bergelut dengan laptopnya hingga saat ini, dirinya memang seolah lupa waktu ketika sedang bekerja. Itu memang kebiasaannya sejak lama.


Jelita merengut, padahal pekerjaannya itu tinggal sedikit lagi selesai.


"Menurutlah pada suamimu ini, sayang," ucap Ryo lagi.


"Baiklah."


Pada akhirnya Jelita menurut meskipun setengah hati.


"Good girl."


Ryo segera menutup laptop milik Jelita karena takut jika istrinya itu berubah pikiran.


Kemudian seringai samar terbit pada bibirnya, "Apa istriku lelah?" tanyanya.


"Mau aku pijat?" tanya Ryo lagi


Jelita memang lelah tapi dia tahu arti dari pijat yang suaminya itu maksud saat usapan tangan Ryo yang semakin naik dan menelusup ke bagian bawah dress yang dia pakai. Saat ini Jelita memang sedang menggunakan dress pendek.


"Ah," des-ah Jelita saat merasakan ibu jari Ryo mengusap intinya yang masih terbalut celana da-lam, lalu memijitnya dengan cara seduktif.


"Ry-Ryo, ki-kita masih di ruang tamu," ujar Jelita dengan sudah payah.


Dia khawatir jika ada salah satu Bodyguard yang memergoki mereka, jangan lupakan banyak Bodyguard yang sedang berjaga di setiap sudut rumah.


"Memang kenapa? Aku hanya sedang memijit kamu saja," ucap Ryo dengan tanpa dosanya.


Kini jarinya menelusup ke pinggir celana da-lam dan membelai sesuatu yang ternyata sudah basah itu.


"Apa ini? Kamu mengompol?" tanya Ryo berniat meledek.


Jelita jadi malu dibuatnya, tentu saja dia tidak mengompol, salahkan saja Ryo yang memberikan rangsa-ngan pada tubuh sensitifnya.


"Aku nggak mengom—ahh," Jelita tidak sanggup melanjutkan bantahan karena Ryo memasukan 2 jari pada dirinya.


Ryo memainkan 2 jarinya in out dan menggunakan ibu jarinya untuk menggesek tonjolan kecil ditengahnya, lalu tangan satunya meremas da-da milik Jelita yang membusung seolah menggoda.

__ADS_1


Jelita melenguh, dia meremas lengan Ryo. Napasnya yang memberat bisa dirasakan Ryo, lalu dia mulai mencumbui basah leher jenjang Jelita, mencumbu hingga ke wajah dan berakhir mencium bibir menggoda sang isteri.


Bibir mulai melu-mat. Jelita tidak menolak, justru dia membalasnya. Saling mengecap dan membangunkan gai-rah.


Ryo menghentikan gerakan jarinya, dia mengangkat ke dua kaki Jelita hingga melingkar pinggangnya. Mereka masih terus berciuman saat Ryo mengangkat Jelita menuju ke kamar.


**


Pagi hari yang berawan, langit tertutup sepenuhnya dengan awan kelabu, rintik air tiba-tiba berjatuhan dan menjadi deras. Suasana terenak untuk bermalas-malasan di kasur, apa lagi dengan berpelukan dengan pasangan di balik selimut yang tebal.


Jelita terbangun, dan menyadari bahwa lengan Ryo tengah memeluk tubuh polosnya.


Kemudian dia menatap wajah tidur suaminya yang terlihat damai. Tentu saja damai, karena semalam Ryo habis menggempur habis-habisan Jelita. Niat awal melarang Jelita untuk tidak memforsir diri dalam bekerja, tapi justru dialah tersangka yang paling membuat Jelita kelelahan.


Ryo semakin memeluk Jelita dengan erat karena suhu udara yang dingin karena hujan, dan menyebabkan tubuh polos mereka semakin menempel dengan ketat.


"Ahh," lenguh Jelita saat merasakan jika miliknya dan milik Ryo masih menyatu dibawah sana, masih tertancap dengan sempurna.


"Ry-Ryo," Jelita mencoba membangunkan Ryo.


Ryo membuka matanya, mengerjab beberapa kali dan tersenyum saat melihat wajah cantik istrinya.


"Hai," sapa Ryo mengecup bibir Jelita sekilas.


"H-hai," jawab Jelita mencoba membalas tersenyum, "Ryo, ke-keluarkan milikmu."


"Eh?" Ryo seakan baru tersadar.


Bukannya melepas Ryo justru merubah posisinya menjadi menindihi tubuh jelita dengan tangan yang berada di atas kepala istrinya.


"Ka-kamu mau apa?" tanya Jelita mendelik.


Jangan bilang jika Ryo akan melakukannya lagi.


"Menurutmu?" Ryo justru bertanya balik dengan menerbitkan seringai mesumnya.


Glek


Jelita menelan saliva kasar.


"Nggak apa-apa, ya... kalau kita terlambat," ucap Ryo sebelum mencium bibir Jelita.


Dan pagi itu mereka kembali melakukan kegiatan yang iya-iya. Sepertinya mereka akan terlambat untuk melakukan aktivitas hari ini.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2