Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Hadiah


__ADS_3

Matahari sudah mulai menampakkan dirinya, awan kelabu yang sebelumnya berkumpul dan memuntahkan air hujan kini sudah tidak ada lagi.


Di sebuah gedung pencakar langit, jika memasuki lobi dapat dilihat tulisan JA Group terpampang jelas. Perusahan yang tidak lain adalah milik Jelita, perusahaan yang bergerak di bidang produksi sepeda salah satu terbesar di dunia.


"Nona, selamat datang kembali," ucap Nohan menyambut Jelita yang ingin memasuki ruangannya.


Jelita mengangguk, "Berikan aku laporan perusahaan selama aku cuti," perintahnya.


"Baik, Nona," patuh Nohan.


Kemudian Jelita kembali berjalan memasuki ruangannya.


Setelah membuka pintu Jelita menghirup dalam-dalam aroma ruangan kerjanya yang begitu dia rindukan, sejatinya dia adalah workaholic. Namun, sepertinya Jelita akan merubah pandangan hidupnya sekarang, karena dia sudah mempunyai suami yang teramat manja seperti Ryo.


Dertt Dertt


Pucuk dicinta ulam pun tiba, ada panggilan video dari sang suami tercinta. Jelita segera mengangkatnya setelah duduk di kursi kebanggaannya.


"Ya, suamiku," sapa Jelita.


Terlihat wajah tampan Ryo yang berbinar saat melihat Jelita, "Aku merindukanmu, sayang," ucapnya dengan nada manja.


Jelita tertawa geli. Bisa-bisanya Ryo mengatakan rindu, padahal baru tadi pagi mereka bertatap muka bahkan bermesraan.


"Apa kamu sudah sampai di kantor?" tanya Ryo kemudian.


"Sudah," jawab Jelita mengulum senyum, "Tapi aku datang terlambat gara-gara kamu," lanjutnya.


Ryo terkekeh, "Anggap saja itu adalah hadiah pagi hari dari suami ganteng kamu ini," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Jelita merona malu, ingatannya kembali ke saat pagi tadi, suaminya itu memang benar-benar ganas dan lebih parahnya lagi Jelita justru menikmatinya.


"Apa kamu nggak ada kelas?" tanya Jelita untuk mengalihkan pembicaraan.


"Nggak, Dosen nggak datang," jawab Ryo apa adanya.


Saat ini Ryo memang sedang berada di kampus. Dia merasa rindu pada Jelita karena gadis itu tidak menjadi Bodyguard lagi, padahal Ryo sudah terbiasa dengan kehadiran Jelita yang selalu mengikutinya ke manapun dia pergi.


"Oh, aku kira kamu sedang membolos."


"Tentu saja nggak," sangkal Ryo cepat, "Lagi pula sekarang aku sedang berusaha untuk segera wisuda, aku akan bersungguh-sungguh dalam belajar dan nggak mungkin membolos," sambungnya terlihat tidak terima dengan perkataan Jelita.


Ryo memang sudah berniat untuk menunjukkan jika dia pantas menjadi suami Jelita. Dia akan berusaha lulus untuk mendapatkan gelar MBA dan segera memimpin perusahaan keluarganya.


Jelita mengulum senyum, "Semangat, ya. Aku berharap jika kamu segera lulus," ucapnya.

__ADS_1


"Hanya semangat saja? Apa kamu nggak memberikan aku hadiah?"


"Hadiah? Lulus saja belum, tapi sudah meminta hadiah," Jelita tidak habis pikir dengan suaminya itu.


"Jadi kamu nggak mau memberi hadiah?"


Jelita jadi tidak enak hati melihat wajah tampan suaminya yang merengut, "Baiklah aku akan memberi hadiah," ucapnya pada akhirnya.


"Istriku memang yang terbaik," kaya Ryo terlihat senang.


"Jadi kamu mau hadiah apa?" tanya Jelita.


"Bayi," jawab Ryo tanpa berpikir.


"Ba-bayi?"


"Ya, bayi kita berdua."


Yang benar saja. Hadiah... bayi?


**


Setelah panggilan video berakhir, Ryo terlihat senyam-senyum sendiri karena Jelita bersedia memberikannya hadiah.


Seringai mesum langsung terbit di wajah Ryo. Jelita memang masih terlalu polos untuk mengerti maksud lain Ryo yang pada dasarnya berotak selangk*ngan.


"Hentikan senyuman yang seperti om-om pedofil itu," celetuk Gavin yang tahu-tahu sudah duduk di sebelah Ryo.


"Ck, suka-suka dong," decak Ryo kesal karena kesenangannya diganggu.


Gavin menatap aneh Ryo, "Aku kira kamu akan hilang semangat hidup karena sudah menikah dengan cewek yang nggak kamu cintai," ucapnya.


Dia memang belum tahu jika gadis yang menikah dengan Ryo adalah Jelita.


"Siapa bilang? Aku bahkan merasa jika sudah menjadi cowok terbahagia di dunia."


Ryo merentangkan tangannya lebar seolah membentuk dunia yang luas, Gavin yang duduk di sebelahnya hampir saja terjatuh karena ulahnya.


"Jadi kamu sudah melupakan Jelita dan dengan cepatnya berpaling pada istrimu?" tanya Gavin.


Dia menatap tidak percaya Ryo, ada rasa marah karena sifat Ryo yang tidak berpendirian. Bilang mencintai Jelita tapi justru senang menikah dengan gadis cantik.


"Apa karena istrimu sangat cantik dan kamu dengan mudahnya melupakan Jelita?" sambung Gavin.


"Yang aku nikahi itu Jelita," ucap Ryo dengan menatap Gavin datar.

__ADS_1


"Hah?"


"Apa maksudnya?" tanya Reva yang tahu-tahu datang.


Reva menguping semua obrolan antara Ryo dan Gavin. Dia terlihat begitu terkejut saat mendengar ucapan Ryo yang mengatakan jika Jelita yang menikah dengan Ryo, padahal jelas-jelas Reva tahu dan menyaksikan secara langsung jika gadis yang Ryo nikahi bukanlah Jelita


Gadis yang menikah dengan Ryo sangatlah luar biasa cantik, mana mungkin jika gadis itu adalah Jelita yang cupu dan Jelek.


"Apa maksudmu, Ryo? Jangan bercanda di saat serius seperti ini," ujar Gavin juga tidak kalah terkejutnya.


"Aku nggak bercanda, aku memang menikah dengan Jelita," sengit Ryo.


"Ng-nggak mungkin..." Reva terlihat tidak bisa menerima kenyataan.


"Jelita sengaja menyamar menjadi Bodyguard untuk merubahku menjadi lebih baik. Jelita adalah cewek yang dijodohkan denganku," jelas Ryo pada intinya saja.


"What!" pekik Gavin heboh.


Sedangkan Reva mengeraskan wajahnya, dia sangat tidak terima dengan kenyataan ini. Jelita yang sangat dibencinya justru adalah gadis yang menikah dengan Ryo, padahal Reva sudah cukup senang karena mengira jika Jelita sudah kabur entah kemana.


"Nggak usah teriak juga kali," sengit Ryo dengan menutup telinganya.


"Aku hanya terkejut saja," ucap Gavin.


Ryo mengangguk maklum. Ya, itu memang cukup mengejutkan.


"Bukankah Jelita sudah membohongi kita semua? Pembohong akan tetap jadi pembohong. Jelita sudah menipumu, Ryo. Nggak sepantasnya kamu memaafkannya begitu saja," kata Reva setelah mengendalikan amarahnya.


Ryo menatap Reva tanpa ekpresi, "Ya, perkataan kamu memang benar," ucapnya.


Reva tersenyum karena menyangka Ryo mendengarkannya. Namun, senyumannya tidak bertahan lama saat mendengar perkataan Ryo selanjutnya.


"Tapi aku nggak pernah merasa jika telah ditipu Jelita, perasaan yang dia berikan padaku begitu tulus dan nggak ada kepalsuan, dia hanya merubah penampilannya saja, dan untuk penampilannya yang sekarang adalah sebuah keberuntungan lebih bagiku."


Reva mengepalkan tinjunya karena perkataan Ryo yang sungguh tidak dia harapkan sebelumnya.


"Kamu benar, Ryo. Seharusnya kamu justru berterima kasih pada Jelita, karena dialah yang sudah membuatmu tobat dari ke jametan," celetuk Gavin.


"Sialan, dari dulu aku memang bukan jamet," kesal Ryo karena tidak terima dirinya dibilang jamet.


Gavin justru tertawa tanpa dosa karena melihat Ryo yang kesal.


Sedangkan Reva tanpa berkata apapun dia berbalik pergi, keluar dari kelas.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2