Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Diagnosa Hamil


__ADS_3

Rumah sakit, di sinilah Jelita saat ini.


Jelita sangat panik saat mendapati Ryo dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba tumbang.


"Bagaimana keadaan suamiku, Dok?" tanya Jelita pada seorang pria yang baru saja keluar dari UGD tempat Ryo di rawat.


"Dia hanya mengalami perubahan hormon, kadar testosteron yang tidak seimbang," jawab Dokter menjelaskan kondisi Ryo.


"A-apa? Kenapa bisa begitu?" tanya Jelita terlihat terkejut.


Yang Jelita tahu, testosteron adalah hormon reproduksi bagi laki-laki. Lantas apa hubungannya dengan sakit perut yang dialami Ryo? Padahal Jelita kira suaminya keracunan makanan.


Si Dokter tersenyum, "Kondisi ini sering disebut Sindrom Couvade."


"Sindrom Couvade?"


"Bisa di sebut juga kehamilan simpatik yang terjadi ketika Ayah mengalami gejala yang sangat mirip dengan tanda kehamilan yang dialami istrinya," jelas Dokter.


Refleks Jelita memang perut, jantungnya berdebar, "Jadi aku..."


"Kalau soal itu coba periksa ke Dokter Spesialis Kandungan untuk lebih akurat," saran Dokter.


"Ba-baik, Dok."


"Sebenarnya gejala ini bukan gangguan fisik atau mental yang diakui secara medis. Kehamilan simpatik umumnya hanya bersifat sementara dan tidak serius. Meski begitu, kondisi ini bisa saja membuat tidak nyaman saat melakukan aktivitas. Gejala ini akan benar-benar hilang dengan sendirinya atau saat anak lahir. Jadi tidak perlu terlalu khawatir."


Di luar dugaan. Kehamilan simpatik? Jadi itu adalah penyebab keanehan dari suaminya. Jelita baru tahu jika ada hal seperti itu.


**


Setelahnya, Jelita mendatangi Dokter Sepesial Kandungan untuk mengetahui kebenaran hasil pemeriksaan tersebut, apa benar-benar hamil atau tidak.


Pemeriksaan kandungan untuk pertama kali berlangsung cukup lama. Dokter bertanya mengenai kondisi Jelita, juga melakukan pengecekan medis. Lalu Jelita memberi tahu Dokter jika dia memang telat datang bulan, dia pikir itu hanya karena efek terlalu memikirkan pekerjaan kantor.


Dan hasilnya sungguh mencengangkan.


"Nona positif hamil 3 minggu," ucap Dokter memberi diagnosa.


Deg!


Meski sudah diberitahu sebelumnya, tapi Jelita masih terkejut mendengarnya. Kristal bening menetes dari pelupuk matanya. Jelita benar-benar bahagia hingga menangis, dirinya dan Ryo akan memiliki bayi.


"Yang seperti ukuran kepala pin ini adalah si kecil," jelas Dokter serasa menunjuk layar monitor hasil USG.


Meskipun masih awal, janin sudah terlihat berkembang.


Kemudian Dokter mulai memberi nasihat pada Jelita untuk menjaga kehamilannya agar tetap sehat, serta memberi tahu hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan saat hamil muda.


"Jagalah kesehatanmu, jagalah nutrisi makananmu, karena pertumbuhan bayi tergantung pada kesehatan masa-masa kehamilan," ujar Dokter.


"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Jelita tersenyum manis.


Tangan Jelita bergerak untuk mengelus perutnya yang masih rata, dia berharap jika bayinya selalu sehat.

__ADS_1


**


Ryo mencoba membuka ke dua matanya. Bola mata hazel yang begitu memikat mulai nampak dan mulai memfokuskan apa yang pertama kali dilihat.


Ruangan serba putih dan bau obat yang sangat menyengat.


Ryo mencoba bangkit untuk duduk. Tidak lama kemudian dia menatap horor punggung tangannya yang sedang diinfus.


"A-apa aku habis disuntik?" wajah Ryo yang memang sudah pucat jadi bertambah pucat.


Sepertinya dia memang benar-benar takut disuntik. Beruntungnya dia disuntik dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan tentunya tidak merasakan apapun.


"Untunglah," Ryo bernapas dengan lega.


Cklek


Pintu kamar rawat Ryo terbuka, menampakan Jelita yang selalu terlihat cantik di mata Ryo. Istrinya itu memang wanita tercantik sedunia. Oh, jangan lupa Ibunya juga.


"Kamu sudah bangun?" tanya Jelita retorik.


Wanita cantik itu memberikan kecupan di kening Ryo yang tertutup poni.


"Kamu sangat membuatku khawatir," sambung Jelita.


"Tenang saja, aku baik-baik saja kok," Ryo tersenyum lebar untuk meyakinkan jika dia baik-baik saja.


Jelita memincingkan mata, "Kamu itu sampai masuk ke UGD, nggak mungkin baik-baik saja."


"Masuk UGD? Padahal aku hanya sakit perut saja."


"Itu bukan sakit perut biasa."


Perkataan Jelita membuat Ryo was-was, "Memangnya ada apa denganku?" tanyanya.


Jelita berekspresi sedih, dan itu membuat Ryo berpikir yang tidak-tidak.


"Apa sakitku parah?"


Jelita menunduk, tangannya meremas satu sama lain.


"Kamu menderita penyakit yang nggak ada obatnya."


Tubuh Ryo menegang, lidahnya mendadak keluh, pupil matanya melebar, dan ekspresinya berubah pias.


"A-apa?"


"Bahkan penyakitmu sangatlah langkah dan nggak masuk akal," ucap Jelita.


Wanita cantik itu benar-benar mendramatisir.


"Ka-kamu bohong, kan?" Ryo menggeleng kaku.


"Aku nggak bohong," jawab Jelita.

__ADS_1


Ryo meremas rambutnya, merasa tidak sanggup untuk menerima penyakit yang Jelita katanya. Padahal dia ingin bersama Jelita sama tua nanti. Apa sekarang hanya tinggal harapan?


Jelita meraih tangan Ryo agar tidak meremas rambut lagi. Lalu mendekatkan diri pada telinga milik Ryo.


"Jangan khawatir. Penyakit itu akan sembuh setelah bayi kita lahir," bisik Jelita.


"Eh?" Ryo masih terlihat loading.


"Aku hamil, suamiku."


"Hamil?" beo Ryo.


"Ya, sekarang kamu adalah calon Ayah!"


Jelita tersenyum hingga menyipitkan ke dua matanya.


Seketika mata hazel Ryo berkilat senang.


"Sial! Kamu benar-benar membuatku terkejut. Jantungku hampir saja berhenti berdetak karena ulah kamu!"


Ryo menarik Jelita untuk dia peluk dengan erat, lalu mencium pucuk kepala Jelita bertubi-tubi.


"Oh, sayangku. Terima kasih, terima kasih, terima kasih..."


Hati Ryo bergemuruh karena begitu bahagia, dia mengucapkan 'terima kasih' berkali-kali pada Jelita yang sudah memberikan hal terindah.


"Aku sangat senang sekali!"


"Aku juga," Jelita tersenyum simpul.


Kehamilan memang adalah momen yang menyenangkan bagi sepasang suami dan istri.


"Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu," ucap Ryo.


Jelita melepas pelukan Ryo, lalu menatap wajah tampan suaminya itu, "Mau sampai kapan kamu berterima kasih?"


"Sampai seribu kali!" seru Ryo dengan riang.


Jelita terkekeh, "Nggak usah sampai segitunya juga."


Ryo menangkup ke dua pipi Jelita dengan ke dua tangan, mengusap pipi tembam yang kemerahan itu dengan ibu jari.


"Bahkan seribu kata terima kasih nggak cukup untuk mengungkapkan perasaanku ini. Saat bersamamu, kebahagiaan selalu terjadi begitu saja. Aku beruntung bisa kenal, apalagi sampai memiliki kamu di hidupku, Jelita," ungkap Ryo dengan sepenuh hati.


"Jadi kamu bahagia bersamaku?" tanya Jelita.


"Ya, sayang," jawab Ryo lugas.


"Seperti aku juga bahagia bersamamu, Ryo," ucap Jelita sembari mengelus rahang tegas suaminya.


Kebahagian yang merekah rasakan bukanlah kebahagian yang berasal dari kesenangan sementara. Namun, kebahagiaan yang memiliki makna, nilai dan tujuan. Pada dasarnya kebahagiaan itu sederhana, apalagi jika bersama dengan orang yang dicintai.


Mereka berdua saling menatap dan tersenyum bersama.

__ADS_1


Kecupan manis Ryo berikan pada kening Jelita, lalu turun ke pipi dan ke bibir, memberikan rasa hangat dan penuh kasih sayang.


_To Be Continued_


__ADS_2