Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Gangguan


__ADS_3

"A-apa aku bau mulut?" tanya Jelita takut-takut.


Ryo terkekeh, "Tentu saja nggak," jawabnya.


Oh, ayolah, padahal napas Jelita begitu wangi menurut Ryo. Begitu wangi sampai-sampai Ryo ketagihan untuk mencium istrinya itu.


Dengan gerakan cepat Ryo mengangkat tubuh Jelita dan mendudukkannya pada meja konter dapur, yang sudah dibersihkan sebelumnya.


Jelita memekik kecil dan refleks mencengkram lengan Ryo, bisa-bisanya Ryo dengan begitu mudahnya mengangkat tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan? turunkan aku," ucap Jelita meminta untuk diturunkan.


Tampak tidak acuh dengan ucapan Jelita, Ryo langsung membungkam mulut milik Jelita dengan mulutnya. Mencium dengan lembut.


Sepertinya Ryo sudah terpancing dengan ulah Jelita barusan, dia merasa kurang jika hanya mendapatkan tiupan di mulut.


Jelita terkesiap dan langsung memejamkan mata. Ryo mengambil kesempatan untuk menyusupkan lidahnya pada mulut Jelita yang terbuka, mengabsen deretan gigi putih nan rapi milik istrinya, dan membuat si empunya menggerang.


Perlahan-lahan tangannya merayap ke belakang tubuh Jelita dan menarik lepas ikatan apron. Ryo berhenti mencium Jelita untuk melepas apronĀ  itu, lalu kembali mencium istrinya dengan ganas.


Kemudian Ryo menggenggam rambut pendek Jelita, lalu menariknya pelan sehingga Jelita mendongak dan mempertontonkan lehernya pada Ryo. Ciuman Ryo pun turun menuju leher, menjilat dan menghisap, sembari mendengarkan suara des-sahan dari tenggorokan Jelita. Ryo berniat memberi banyak tanda pada leher putih yang tengah dia kuasai itu.


"Uh, Ry-Ryo, hen-hentikan..." protes Jelita, tapi justru tidak ada pergerakan untuk mendorong suaminya itu.


Terkadang hati dan pikiran memang tidak sejalan. Hati Jelita sangat menikmati apa yang tengah dilakukan Ryo, tapi pikirannya mencoba menolak karena saat ini mereka sedang berada di dapur.


Ryo mulai meremas salah satu gundukan kenyal milik Jelita, memainkannya dengan bertenaga.


"Go get a room, man."


Jelita segera mendorong tubuh Ryo karena mendengar ada orang lain yang sedang menonton mereka.


"Ka-kalian...?" Jelita benar-benar malu sekali saat ini, ingin rasanya dia mengubur dirinya hidup-hidup.


Ada Jefra, Gavin, Kavin, dan... Reva?


Ekpresi Reva terlihat marah saat melihat adegan live yang sungguh mengiris hatinya. Padahal dia tidak ada hak untuk marah. Berbeda dengan ke tiga pemuda yang tengah merona.


"Apa-apaan kalian datang ke rumah orang tanpa permisi," sentak Ryo menatap si ke tiga tamu yang tidak diundang itu.


Lalu beralih menatap Jefra, "Kenapa kamu membiarkan mereka masuk, Jefra?" omelnya.


"Maaf, tuan muda, mereka memaksa masuk," jawab Jefra.

__ADS_1


Jefra memang sudah mencoba mencegah ke tiga tamu yang tidak diundang itu. Tapi usahanya gagal, karena Gadis yang bernama Reva sangat berusaha keras untuk masuk.


"Bisa-bisanya kamu berbuat mesum di dapur, Ryo," celetuk Gavin, si pemilik suara yang menganggu Ryo dan Jelita tadi.


"Ini adalah rumahku, jadi terserah aku untuk berbuat apapun," sinis Ryo.


"R-Ryo, turunkan aku," cicit Jelita dengan pelan, posisinya memang masih duduk di meja konter dapur.


Dengan sigap Ryo menggendong Jelita untuk menurunkannya. Tidak lupa juga merapihkan penampilan istri cantiknya.


"Wow, apa dia Jelita?" tanya Kavin yang menatap Jelita kagum.


Bodyguard yang tadinya dianggap cupu dan jelek, ternyata adalah gadis yang begitu cantik. Bahkan Reva jauh di bawahnya. Pantas saja Ryo sampai cinta mati.


Jelita langsung bersembunyi di balik badan Ryo, dia masih sangat malu dengan kejadian tadi.


"Jaga matamu saat melihat istri orang, Kavin," sengit Ryo tidak suka dengan tatapan kagum Kavin pada Jelita.


Kavin hanya cengengesan tanpa ada rasa takut pada Ryo.


"Buat apa cantik jika dia adalah seorang pembohong," ucap Reva tiba-tiba.


Seketika semuanya terdiam karena ucapan Reva yang terdengar menyindir.


"Apa maksudmu?" Jelita keluar dari persembunyiannya, dia menatap datar Reva yang sedang menatapnya benci.


Jelita tersenyum miring, "Lantas kamu sebut apa dirimu sendiri? Wanita yang menghalalkan semua cara untuk mengejar seorang laki-laki, dan pada akhirnya justru tidur dengan seorang petugas cleaning servis," ucapnya.


Reva membeku di tempat, dia tidak menyangka jika Jelita berbalik memojokkan dirinya.


"Reva, jadi kamu..." Kavin menatap Reva tidak percaya.


Sedangkan Gavin dan Ryo menatap Reva jijik, lalu Jefra masih berekspresi datar.


"Nggak! Aku nggak melakukan itu!" bantah Reva mencoba membela dirinya sendiri, meskipun itu percuma.


"Lihatlah siapa yang berbohong sekarang?" tanya Jelita dengan retoris, yang membuat Reva semakin merasa terpojok.


Tangan terkepal karena merasa murka. Reva melangkah cepat ke arah Jelita, lalu melayangkan tangannya berniat menampar pipi wanita yang sangat dibencinya itu.


Namun, sebelum tangan itu berhasil menampar, Ryo dengan sigap menghalaunya.


"Siapa dirimu yang berani menyakiti istriku," Ryo menatap tajam Reva, wajahnya mengeras.

__ADS_1


Tentu saja Ryo tidak tinggal diam.


"Sa-sakit," rintih Reva yang merasakan sakit pada pergelangan tangannya yang dicengkeram kuat oleh Ryo.


"Mau aku patahkan tanganmu ini, ha?" hardik Ryo, semakin menguatkan cengramannya.


"Akh!" pekik Reva.


Jelita mengelus punggung belakang Ryo agar suaminya tenang. Ryo pun langsung menghentakkan tangan Reva.


Reva memegang pergelangan tangannya yang memerah, "Kamu akan menyesal karena sudah membela cewek pembohong itu, Ryo!" serunya.


"Cukup, Reva!" instruksi Kavin yang sejak tadi menyimak, seharusnya dia memang tidak membiarkan Reva untuk ikut datang berkunjung ke rumah Ryo.


Reva menatap Kavin tidak percaya, pemuda bule itu sudah benar-benar tidak memperdulikan dirinya, kemana sosok Kavin yang selalu membelanya?


Pada kenyataannya, semua orang di sini memang tidak ada yang membelanya.


Dengan perasaan yang membuncah Reva berbalik pergi. Jika dia terus berada di sini, yang ada hanya semakin mempermalukan dirinya sendiri.


'Awas saja kamu, Jelita. Aku akan membalas ini semua,' pikir Reva dengan rahang yang mengeras.


"Kamu nggak mengejarnya, Kavin?" tanya Gavin sepeninggalnya kepergian Reva.


Kavin mengangkat bahu terlihat cuek, "Untuk apa?"


"Tumben kamu nggak membelanya," ucap Ryo yang merasa heran dengan sikap Kavin.


"Karena aku sudah nggak mau menjadi cowok bodoh lagi," kata Kavin dengan lugas.


"Bagus, bro. Lebih baik memang menjadi jomblo happy dari pada selalu mengemis cinta pada cewek," celetuk Gavin sembari merangkul Kavin.


Gavin sendiri juga dulu pernah merasakan mengemis cinta pada wanita yang tidak pernah meliriknya sama sekali.


"Pada saatnya kita memang harus berhenti berjuang demi mempertahankan harga diri," lanjut Gavin.


Kavin hanya mengangguk, dia memang sudah membulatkan tekat untuk melupakan cinta bertepuk sebelah tangannya.


"Ngomong-ngomong, untuk apa kalian datang ke rumahku?" tanya Ryo dengan aura yang tidak bersahabat.


"Kita hanya ingin berkunjung saja," jawab Gavin dengan mengangkat dua jadinya membentuk peace.


"Pergilah, aku nggak membutuhkan kunjungan kalian," ucap Ryo sebal.

__ADS_1


Ryo hanya ingin menghabiskan waktu liburnya dengan istri tercinta. Namun, kenapa ada saja gangguannya?


_To Be Continued_


__ADS_2