
"Kenapa laporan keuangan sangat berantakan seperti ini, Nohan?"
Jelita terlihat marah dan membanting berkas di meja sekretarisnya.
Nohan jadi keringat dingin dibuatnya. Oh, ayolah, dia sudah menjadi sekretaris Jelita cukup lama, tentu saja tahu apa yang akan Nona-nya itu lakukan jika sedang marah, belum saja meja kerjanya dijungkir balikkan oleh Jelita.
"I-itu adalah pekerjaan manajer keuangan yang baru mendapatkan promosi," ucap Nohan takut-takut.
Jelita terdiam sesaat, sepertinya dia tahu siapa manajer keuangan yang tidak berkompeten itu, dia adalah Davian, kekasih Renata.
"Apa pekerjaannya selalu seperti ini?" tanya Jelita dengan memincingkan mata.
"Ya, Nona. Dia bahkan sering terlambat dan pulang lebih awal," Jelas Nohan, bukan masalah cepu alias tukang mengadu tapi Nohan ingin cari aman saja.
Jelita menghela napas, jika bukan karena Renata dia juga tidak mungkin memberi promosi jabatan pada Davian.
"Panggil dia untuk ke ruanganku," ujar Jelita.
"Tapi, Nona. Davian sudah pulang 30 menit yang lalu," ucap Nohan apa adanya.
Jelita memijit pangkal hidungnya yang mendadak pening, padahal saat ini belum jam pulang kantor. Ingin sekali dia memecat Davian. Namun, Jelita tidak enak dengan Renata.
"Kalau begitu besok saja," final Jelita.
"Baik, Nona."
Kemudian Jelita berbalik untuk kembali masuk ke dalam ruangannya.
**
Jelita berjalan menelusuri koridor kantor dengan suara high heels yang menggema. Karyawan yang berpapasan dengannya membungkuk hormat dan menyapa, saat ini udah pukul 8 malam, tidak heran hanya beberapa karyawan yang masih ada di kantor untuk sekedar lembur.
Langkah kaki Jelita berhenti tatkala keluar gedung kantor, dia sedang menunggu Ryo yang berkata ingin menjemputnya.
Tidak lama kemudian senyum Jelita seketika terbit saat melihat mobil BMW hitam yang dia kenali tengah melaju ke arahnya, dan berhenti tepat di depannya.
Kaca jendela pintu belakang mobil terbuka ke bawah, menampakan wajah tampan Ryo yang tersenyum manis ke arahnya, "Hai, Nona. Perlu tumpangan?" tanyanya.
"Ya, bolehkah aku menumpang, Tuan?" Jelita tersenyum tidak kalah manisnya dengan Ryo.
"Oh, tentu saja boleh, asal kamu membayar dengan kiss," jawab Ryo sembari melongok ke depan sedikit dan menunjuk pipi sebelah kanannya.
Wajah Jelita merona seketika, "I-ini di tempat umum, jangan meminta yang aneh-aneh," ucapnya.
"Ayolah, lagi pula nggak ada orang," kata Ryo masih ingin meminta kiss.
Jelita melihat sekeliling, dan memang betul jika sedang tidak ada orang. Lalu dia segera mengecup pipi Ryo dengan gerakan yang cepat.
"Su-sudah."
Ryo tersenyum lebar setelahnya, dirinya yang tadinya lelah langsung segar kembali.
Kemudian Ryo membuka pintu mobil dan keluar, "Bayaran sudah diterima, silahkan masuk, Nona," ucapnya sembari mempersilahkan Jelita masuk mobil dengan gaya gentleman.
"Terima kasih," ucap Jelita terkekeh geli dengan kelakuan random suaminya.
__ADS_1
Kemudian Jelita masuk ke dalam mobil dan diikuti Ryo. Mobil BMW hitam itu pun melaju untuk membelah jalan raya pada malam hari.
"Bagaimana pekerjaanmu, sayang?" tanya Ryo memecah keheningan di dalam mobil.
Mood Jelita memburuk karena Ryo mengingatkan dirinya dengan Davian yang tidak berkompeten.
"Cerita saja," tukas Ryo saat melihat perubahan ekspresi istrinya.
"Sebenarnya bukan masalah besar," kata Jelita.
"Masalah apa memang?"
"Ini soal calon suami Renata yang bekerja di perusahaanku, cowok itu benar-benar nggak bisa diharapkan, pekerjaannya nggak ada yang benar," jelas Jelita mengeluarkan unek-uneknya.
Jefra yang sedang menyetir mobil langsung tertarik menguping pembicaraan Ryo dan Jelita karena mendengar nama Renata disebut. Jefra seharian ini memang mengikuti manapun Ryo pergi sebagai Bodyguard.
"Pecat saja," ujar Ryo dengan santainya.
"Aku nggak bisa semudah itu memecatnya, aku nggak enak dengan Renata..."
Jelita mulai menceritakan tentang permintaan Renata padanya dan kelakuan Davian saat bekerja.
"Kamu bisa-bisanya menuruti permintaan Dokter Renata, perusahaan kamu akan mengalami masalah besar bahkan kemerosotan jika kamu masih saja mempertahankan karyawan seperti Davian," ujar Ryo.
Jelita terdiam untuk memikirkan apa yang dikatakan Ryo.
"Pikirkan baik-baik, sayang. Jangan mempertahankan satu orang yang akan merugikan kamu dan berakhir mengorbankan banyak orang yang menguntungkan kamu," sambung Ryo.
"Ya, kamu benar, suamiku," ucap Jelita yang sadar dengan kesalahannya untuk mempertahankan Davian.
**
Pukul 12.00 malam, di kamar Renata.
Terlihat Renata yang sedang mengeringkan rambut hitamnya yang basah karena habis mandi dengan hair dryer.
Setelahnya dia terduduk di bibir ranjang dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Renata mencari aplikasi pesan pada ponselnya dan memencet icon berwarna hijau, lalu menggulirkan layar untuk mencari riwayat pesan dengan si calon suami.
Renata menghela napas saat pesan terakhir belum mendapatkan balasan dari Davian.
Entah ada apa dengan Davian akhir-akhir ini, semakin dekat dengan hari pernikahan justru semakin membuat kekasihnya itu menjauh.
"Apakah dia bersungguh-sungguh akan menikahi aku?" gumam Renata dengan tersenyum getir.
Drett Drett
Seketika Renata berbinar karena mengira Davian yang menghubunginya, tapi ekspresinya berubah kecut saat melihat nomer asing lah yang tengah menghubungi.
"Halo," sapa Renata saat mengangkat panggilan telepon.
Sebenarnya Renata sangat malas untuk mengangkatnya, tapi dia harus mengenyampingkan rasa malasnya karena kemungkinan jika yang tengah meneleponnya itu adalah salah satu pasiennya. Sebagai Dokter dia memang harus siap siaga, meskipun pada tengah malam seperti ini.
Namun, tidak ada jawaban dari ujung sana.
"Halo, dengan Dokter Renata, siapa ini?"
__ADS_1
Renata mengerutkan dahinya karena masih tidak mendapatkan jawaban apapun.
Sepertinya orang iseng.
"Jika ingin iseng sebaiknya lain waktu saja, aku sedang mempunyai beban pikiran yang begitu besar untuk meladeni keisengan kamu itu," ujar Renata dengan nada kesal.
[Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan, Renata?]
Deg
'Suara ini...'
"Ka-kamu siapa?" tanya Renata mendadak gugup.
[Apa kamu tidak mengingat aku?]
Renata menelan saliva berat, 'Nggak mungkin dia kan,' batinnya.
"Aku nggak tahu siapa kamu," Renata mencoba menyangkal.
[Apakah aku harus mengungkit malam itu supaya kamu mengingat aku?]
'Sialan.'
"...Je-Jefra?"
[Ya, ini aku.]
Seketika jantung Renata terpompa dengan cepat.
"Kamu tahu dari mana nomer ponselku?"
[Itu tidak penting, Renata. Kamu tidak perlu tahu.]
"Ta-tapi—"
[Sebaiknya kamu jawab yang aku tanyakan tadi.]
"Memangnya apa yang kamu tanyakan tadi?" tanya Renata karena lupa.
[Kamu sedang memikirkan apa?]
"Aku nggak sedang memikirkan apa-apa," sangkal Renata.
[Jangan berbohong pada calon suamimu, Renata.]
"Ca-calon suami?"
Bukannya calon suaminya itu Davian? Kenapa Jefra mengaku-ngaku?
[Ya, Bukankah kamu akan menikahi aku?]
Renata mengigit bibir bawahnya, dia tidak mungkin menuruti keinginan Jefra. Namun, kenapa Jefra percaya diri sekali dengan menyebut dirinya calon suami?
"Maaf, Jefra. Aku nggak bisa menikah denganmu karena aku akan menikah dengan orang lain."
__ADS_1
_To Be Continued_