Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Morning Kiss


__ADS_3

Perkataan Jelita bukanlah ancaman belaka. Kini Ryo benar-benar disuruh tidur di luar kamar. Bahkan Jelita tidak memperdulikan rengekan Ryo yang meminta maaf ratusan kali. Istrinya itu tetap saja mengunci kamar rapat-rapat.


"Mommy cantik, bukain Daddy pintunya dong."


Ryo masih saja berusaha untuk membujuk Jelita. Namun, tetap sana nihil.


"Apa Tuan Muda ingin kami mendobrak pintunya?" tanya salah satu dari dua Bodyguard yang ada di belakang Ryo.


"Ck, Istriku akan tambah merajuk kalau seperti itu," Ryo berdecak.


Pada akhirnya Ryo pun pasrah dengan keadaan. Lalu Ryo beranjak untuk tidur di kamar tamu dengan langkah yang gontai.


Sesampainya di kamar kamar tamu, Ryo langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, beruntungnya ada beberapa baju ganti di kamar ini.


Sekitar 30 menit kemudian Ryo selesai dengan ritualnya, kemudian dia menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Karena lelah pemuda tampan itu pun tidur.


Tidak lama kemudian pintu kamar tamu terbuka dengan gerakan yang perlahan.


Kritt


Menampakan Jelita yang menyembulkan kepala untuk melihat ke arah ranjang, tepatnya ke arah sang Suami yang sedang tidur. Kaki telanjangnya melangkah pelan, lalu naik ke atas ranjang untuk bergabung dengan Ryo, memeluk Suaminya dari belakang.


Ryo terbangun dibuatnya, awalnya terkejut, tetapi langsung tersenyum karena tahu jika Jelita yang memeluknya. Ryo berbalik dan menciumi wajah Jelita.


"Mommy cantik sudah nggak merajuk lagi?"


"Siapa yang merajuk? Aku nggak merajuk," sangkal Jelita.


Jelita merasa malu dengan sikap kekanak-kanakan yang entah kenapa bisa muncul. Padahal dia tidak pernah seperti itu sebelumnya.


"Ya, ya, kamu nggak merajuk. Hanya habis merajuk saja," Ryo terkekeh.


"A-ayo tidur," ucap Jelita mencoba mengalihkan situasi.


"Jadi masih mau bilang kalau bisa tidur tanpa memelukku?" Ryo mengerling menggoda.


Jelita menelan saliva berat, tentu saja dia tidak bisa tidur tanpa memeluk Ryo. Buktinya dia datang menyusul Suaminya itu.


"Yasudah deh, jangan peluk aku, ya," ucap Ryo seraya melepaskan tangan Jelita yang melingkar di pinggangnya.


"Nggak mau, aku mau peluk," Jelita kembali melingkarkan tangannya pada pinggang kokoh Suaminya, bahkan lebih erat dari sebelumnya.


Ryo tergelak, Jelita benar-benar sangat lucu dan menggemaskan.


"Aku nggak akan bilang seperti itu lagi, jadi jangan larang aku memelukmu," cicit Jelita berkaca-kaca.


Sekarang Ryo gelagapan sendiri, dia hanya berniat menggoda Istrinya saja, tapi kenapa justru hampir membuat Jelita menangis?


Ryo langsung menarik tubuh Jelita untuk masuk ke dalam pelukannya, "Nggak apa-apa, kok. Kamu boleh memelukku sepuasnya. Jangan menangis, ya," ucapnya.

__ADS_1


Jelita mengangguk, "Ya."


Meskipun Jelita tidak mengalami gejala kehamilan karena Ryo yang menggantikannya, tapi dia tetap merasakan perubahan hormon dalam masa kehamilan trimester pertama, karena itu lebih cenderung lekas marah dan mudah merasa sedih.


Ryo memang harus lebih memahami Istrinya itu, karena kestabilan emosi wanita hamil juga sama pentingnya dengan kesehatan tubuh. Dia harus pertahankan emosi positif dari Jelita.


**


Terdengar kicauan burung-burung kecil yang seolah bernyanyi. Sinar matahari pagi yang melewati cela gorden berwarna biru tidak mengusik ke dua orang yang masih tidur pulas sambil berpelukan.


Dertt


Dertt


Getaran dari ponsel yang berada di meja membuat si empunya terusik. Renata menggerakkan tangannya untuk mencari ponselnya. Namun, yang dia dapatkan bukanlah ponsel melainkan sebuah tonjolan berbentuk kotak yang terasa kekar saat dipegang. Seakan lupa dengan niat awal mencari ponsel, dengan masih memejamkan mata diraba-rabanya tonjolan yang ternyata ada 6 itu.


Seperti perut.


Tangan Renata semakin menjalar ke bawah.


Grep


Namun, ada tangan yang memegangnya untuk mencegah lebih ke bawah lagi.


"Renata, apa yang kamu lakukan, hmm?"


Terdengar suara berat yang begitu sexy, dan sedikit menggeram.


Tapi kenapa Renata kecewa karena masih berpakaian lengkap?


'Tunggu itu bukan masalahnya,' batin Renata merutuki pikirannya yang justru menjurus mesum.


"Ke-kenapa kamu ada di kamarku, Jef?" tanya Renata setelahnya.


Jefra speechless dibuatnya.


"Ayahku bisa menembak kamu kalah tahu jika kita tidur bersama. Cepatlah pergi dari sini," ujar Renata dengan ekspresi berubah panik.


"Apa kamu lupa kalau kita sudah menikah?"


"Eh?"


Renata masih loading.


"Kemarin kita sudah menikah," Jefra mencoba menyadarkan Renata.


Dan barulah Renata tersadar, "Maaf, aku lupa kalau sudah menikah."


Jefra tertawa pelan, ada-ada saja kelakuan Istrinya itu, "Makannya jangan meninggalkan Suami tidur duluan, jadinya lupa deh."

__ADS_1


Renata menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Maafkan aku, Jef."


"Kalau tidak mau memaafkan, bagaimana?" Sepertinya Jefra berniat jahil.


"Aku akan melakukan apa saja, jadi maafkan aku, ya," Dan Renata termakan kejahilan Jefra.


Mata Jefra berkilat saat mendengar perkataan Renata, "Melakukan apa saja?"


"Ya!" Renata mengangguk cepat.


"Morning kiss."


Renata tercekat, "A-apa?"


"Berikan aku morning kiss," ulang Jefra.


"Tapi, tapi..." bola mata Renata melihat ke kiri bawah, menandakan bahwa sedang gugup.


"Mau aku maafkan atau tidak?" Jefra menyeringai samar.


"Mau," cicit Renata.


"Lakukan."


Kemudian Jefra kembali pada posisi berbaring dan memejamkan mata. Menunggu morning kiss yang akan Renata berikan.


Sedangkan Renata menelan saliva kasar saat melihat bibir Jefra yang berwarna merah jambu, sedikit terbuka seakan memanggilnya untuk dicium.


Sebelumnya Renata menjilat bibirnya yang terasa kering. Lalu mendekatkan wajahnya, dengan jarak yang semakin menipis bibirnya menyentuh bibir Jefra dengan lembut. Jefra tersenyum saat merasakannya, dipegangnya tengkuk Renata agar memperdalam sentuhan bibir mereka.


Renata menggerang pelan saat Jefra mengemut bibir bagian bawahnya dengan pelan namun intens.


"Buka mulutmu," pinta Jefra disela-sela ciuman yang semakin menuntut.


Jefra mulai menyertakan lidahnya saat Renata membuka mulut, masuk ke dalam rongga mulut yang terasa hangat dan basah, lalu menjelajahinya.


Tangan Jefra bergerak mengangkat tubuh Renata untuk duduk di perutnya, berada di atasnya.


Mata ke duanya terpejam rapat, menikmati pertukaran saliva dan segala sesuatu yang mereka terima dari pasangan, di bagian mulut. Renata sampai dibuat kewalahan karena Jefra melu-mat dan menyesap bibirnya semakin cepat dan kencang. Benar-benar membuat Renata kehilangan akal.


Renata menjauhkan wajahnya karena merasa butuh bernapas, melepaskan tautan bibir mereka yang membuat benang saliva yang memanjang dan berakhir terlepas.


Mereka saling memandang setelahnya.


Ibu jari Jefra mengusap bibir bawah Renata yang terlihat mengkilat dan membengkak, lalu mencubit pelan bibir yang sudah menjadi candunya itu.


"Lagi," pinta Jefra dengan napas yang terdengar berat dan tatapan berkabut gai-rah.


Oh tidak, Renata tahu apa arti tatapan itu.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2