Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
1 Tangkai Mawar


__ADS_3

"Ayo bertaruh dengan keyakinan kamu itu. Apakah Renata sudah benar-benar melupakan aku atau tidak."


Jefra semakin menajamkan tatapannya saat mendengar perkataan Davian. Apa Davian waras? Bisa-bisanya mengajak taruhan soal perasaan Renata.


"Aku sarankan untuk memutar matamu, mungkin kamu akan menemukan otak yang begitu bodoh di belakang sana," kata Jefra dengan dingin.


BRAK


Davian menggebrak meja bar dengan emosi yang meluap-luap, perkataan Jefra sudah berhasil mematik api perkelahian.


"Sialan!" umpat Davian seraya bangkit dari posisi duduknya, dan melayangkan kepalan tangan ke arah Jefra.


Namun, Jefra berhasil menangkis kepalan tangan Davian dengan memegangnya.


"Jika karma tidak cukup memukulmu, dengan senang hati aku akan melakukannya."


Jefra meremas kuat kepalan tangan Davian, hingga si empunya merasakan sakit seperti tulang jemari yang ingin remuk.


"Argh!" Davian berteriak kesakitan.


Kini mereka berdua menjadi tontonan menarik seisi Club.


"Dude, jangan ribut di sini, atau aku akan memanggil petugas keamanan," si Bartender mencoba melerai Jefra dan Davian.


Jefra tidak memperdulikan ucapan Bartender itu. Dia tidak bisa menahan diri lagi untuk memukul Davian.


Lalu Jefra menarik tangan Davian, dan mengarahkan salah satu lututnya ke perut Davian.


Duak


"Ugh!" rintih Davian hingga matanya melotot karena merasakan sakit pada perutnya.


"Kamu itu satu spesies dengan wanita yang bernama Gina. Seharusnya kamu nikahi saja wanita itu. Jangan mengharapkan Renata yang tidak mungkin bisa kamu gapai lagi," ujar Jefra setelah menjauhkan dirinya.


Davian jatuh terduduk dengan memegang perutnya, dia sudah kalah telak dengan Jefra.


"Kalau kamu masih beranggapan Renata masih mencintaimu, coba tanyakanlah padanya. Dan setelahnya, aku jamin kamu pasti akan menangis seperti perempuan."


Davian meludahkan darah yang keluar dari mulutnya, kemudian mendongak untuk menatap Jefra nyalang.


"Kamulah yang akan menangis seperti perempuan!"


Ya, Davian masih merasa percaya diri, dia benar-benar mengharapkan Renata yang mau kembali padanya.


"Kita lihat saja," pungkas Jefra.


Sedangkan Jefra akan membuktikan rasa kepercayaannya pada Renata. Dia percaya jika Renata tidak mungkin kembali pada Davian.


**

__ADS_1


Esoknya, di rumah sakit, tepatnya di ruang konsultasi Dokter Renata.


Ini adalah hari terakhir Ryo untuk konsultasi karena gangguan nyctophobia.


"Sekarang kalau di dalam keadaan gelap apa ada rasa takut di pikiranmu?" tanya Renata yang duduk di hadapan Ryo.


"Sudah jauh lebih baik," jawab Ryo.


Ketakutan ekstrim pada kegelapan yang memicu tanda-tanda kecemasan dan keputusasaan yang berlebihan. Kini Ryo sudah tidak lagi merasakannya berkat mendapatkan bimbingan konsultasi dan beberapa terapi dari Renata. Tentunya niat Ryo yang ingin sembuh juga berperan penting.


"Kalau begitu apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Renata seraya membalik kertas laporan perkembangan Ryo dalam setiap jadwal konsultasi.


"Aku sedang merasakan kram kaki dan sakit punggung," jawab Ryo yang justru ke luar topik.


Renata tertawa, "Itu sih karena Sindrom Couvade."


Sudah bukan rahasia jika Ryo sedang menggantikan Jelita merasakan gejala kehamilan.


"Sepertinya," ucap Ryo.


Calon Ayah muda itu memang sudah cukup terbiasa dengan keadaan anehnya akhir-akhir ini.


"Tampaknya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu memang sudah sembuh. Kurasa semua obatmu bisa dihentikan, dan jadwal konsultasi berikutnya sudah tidak ada lagi," jelas Renata dengan tersenyum.


"Ya."


Pada akhirnya Ryo bisa menghilangkan trauma masa lalunya. Dia sudah bisa mengenali dan melihat lingkungan sekitarnya di saat gelap dengan baik.


Kemudian jadwal konsultasi Ryo berakhir. Setelah mengucapkan terima kasih pada Renata, Ryo langsung pergi. Sepertinya dia ingin langsung memberi tahu kesembuhannya pada Jelita.


Renata sendiri juga merasa senang karena kesembuhan Ryo. Sangat melegakan karena tanggungjawabnya sebagai Psikiater Ryo sudah berhasil dengan baik. Hal yang sangat membanggakan dari seorang Psikiater yakni kesembuhan pasiennya.


Selanjutnya, Renata melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah memasuki jam makan siang.


"Sebaiknya aku makan dulu, aku nggak boleh jatuh sakit," gumam Renata seraya melepas jas putih kebanggaannya, dan meletakan di sandaran kursi.


Ya, tidak lucu jika Renata jatuh sakit saat hari pernikahan.


Lalu Renata berjalan untuk keluar dari ruangannya. Tangannya terulur ke arah kenop pintu.


Cklek


Mata Renata membulat saat melihat Davian berdiri di depan pintu, dengan membawa 1 tangkai mawar merah.


Mawar merah?


'Jangan bilang kalau 15 tangkai mawar merah kemarin dari Davian,' pikir Renata dengan tidak percaya.


Kenapa Davian datang mengganggunya? Padahal Renata sudah sangat merelakan pemuda itu untuk Gina.

__ADS_1


Dengan cepat Renata merubah ekspresi terkejutnya menjadi datar, dia mengabaikan bunga mawar yang disodorkan Davian untuknya, tidak memiliki minat untuk menerimanya.


"Apa kamu sudah nggak menyukai bunga mawar lagi?" tanya Davian tersenyum kecut.


"Nggak," jawab Renata singkat.


"Benarkah? Padahal 1 tangkai bunga mawar ini mewakili perasaanku."


Renata mengerutkan kening, merasa heran dengan perkataan Davian.


"Sebenarnya apa maumu?" tanya Renata dengan tatapan tidak suka.


Davian membeku sesaat karena tatap Renata yang sudah berbeda. Dulu, Renata selalu menatapnya penuh binar cinta dan kagum. Kemana perginya tatapan itu? Davian sangat merindukannya.


"Ayo kita bicara di──"


"Nggak."


Renata memotong perkataan Davian yang ingin mengajaknya berbicara di tempat lain.


"Bicara saja di sini," sambung Renata.


"Tapi aku──"


"Cepatlah bicara. Aku harus makan siang bersama calon Suamiku."


Renata memotong perkataan Davian lagi, sengaja menekan kata 'calon Suamiku'. Padahal dia akan makan siang bersama Indy.


Dengan hati yang memar dan ego yang kempes, dengan jiwa yang sedih dan kepala yang menunduk. Davian sungguh sangat tidak rela jika Renata menyebut 'calon Suami' pada laki-laki lain, harusnya kata-kata itu untuknya.


"Renata."


Dulu, saat Davian memanggil nama Renata dengan lembut, gadis itu pasti akan merona. Namun, hal itu juga sudah tidak berlaku lagi.


"Apa?"


Justru Renata menjawab dengan ketus.


"Renata, aku sudah mengkhianati kepercayaanmu, sudah membuatmu kecewa dan sedih, tapi aku ingin mengatakan bahwa aku masih sangat mencintaimu. Aku mohon, maafkan aku. Kembalilah padaku, mari kita tetap bersama. Aku berjanji ke padamu untuk hubungan kita yang bebas dari air mata, kebohongan, dan pengkhianatan."


Davian memberikan tatapan yang begitu tulus, dia berharap jika Renata akan luluh.


Di sisi lain.


Tepatnya di balik tembok yang tidak jauh dari tempat Renata dan Davian berbicara. Jefra sedang menyembunyikan diri, dengan menunjukkan ekspresinya tidak terbaca.


Jefra memang tidak dapat mendengar apa yang sedang ke dua orang itu bicarakan. Tetapi, sorot mata Jefra menggelap ketika Renata mengambil bunga mawar yang Davian berikan.


Setelahnya Jefra melangkah untuk meninggalkan tempat itu. Pikiran dan hatinya memburuk.

__ADS_1


Apa ini? Renata tidak sungguhan menerima Davian kembali, bukan?


_To Be Continued_


__ADS_2