
"Apa kamu suka dengan kejutan yang Ayah berikan?" tanya Xavier pada sang putra yang sedang duduk di hadapannya.
Tentu saja kejutan yang dimaksud Xavier adalah Jelita.
"Ck," Ryo berdecak kesal, "Ternyata Ayah sangat jago berakting," sindir Ryo.
Xavier terkekeh, "Apakah Ayah cocok menjadi aktor?" ucapnya merasa bangga dengan diri sendiri.
Ryo memutar bola matanya.
"Aku dengar kamu sempat ingin kabur, ya?" tanya Arthur yang duduk di hadapan Jelita.
Kini dua keluarga yang telah berhubungan menjadi besan itu sedang makan malam di sebuah restauran mewah bintang lima.
Ryo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Ya, aku kabur untuk mencari Jelita."
Ryo mencoba mengerem mulutnya supaya tidak keceplosan jika dia kabur karena ingin bertanggungjawab atas perbuatannya yang sudah menodai Jelita sebelum pada waktunya.
Arthur tersenyum tipis, "Apa kamu senang, sayang? Misi kamu untuk menaklukan si Casanova macam suamimu ini sudah berhasil," tuannya pada Jelita.
Jelita menggangguk malu-malu, "Ya, Papa," jawabnya.
"Aku adalah suami yang baik dan bertanggungjawab. Papa mertua tenang saja, aku nggak akan mengkhiyanati Jelita," ucap Ryo mencoba meyakinkan Arthur jika dia sudah tobat menjadi Casanova dan akan setia pada istri cantiknya.
"Memang harusnya seperti itu, aku membiarkan kamu menikah dengan Jelita adalah untuk membuatnya bahagia," ucap Arthur menyorot tajam menantunya, "Jangan kamu sakiti putriku, apalagi perasaannya."
"Aku berjanji akan hal itu," kata Ryo dengan tegas.
"Ya, aku pegang janjimu," ucap Arthur.
"Putraku pasti akan menepati janjinya, kamu tidak perlu khawatir, Arthur," sela Xavier mencoba meyakinkan Arthur akan putranya.
Xavier percaya jika Ryo akan bertanggungjawab penuh pada istrinya, kini sifat begajulan putranya tidak nampak lagi karena Jelita sudah membuat Ryo benar-benar menjadi lebih baik lagi. Dia sangat berterima kasih pada Jelita karena itu.
Ryo memang sangat beruntung karena sudah menikah dengan wanita yang tepat.
**
Sesudah makan malam, di dalam mobil.
"Apa kamu masih merasa sakit?" tanya Ryo pada Jelita yang duduk di sampingnya.
"Sedikit," jawab Jelita.
Ryo terlihat begitu khawatir karena gaya berjalan Jelita terlihat sangat kaku, bahkan Arthur sampai melototinya karena sudah membuat Jelita kesusahan berjalan.
__ADS_1
Padahal Ryo sempat menolak acara makan malam itu karena kondisi istrinya itu, tapi Jelita berkata jika tidak apa-apa. Jelita berkata jika ingin bertemu sang Ayah mertua sebelum kembali ke LA.
Besok pagi Xavier memang akan kembali lagi ke LA. Tidak halnya Ryo, Xavier akan selalu teringat mendiang istrinya jika terus berada di Indonesia, oleh karena itu dia menetap di LA.
"Apa kita akan kembali ke hotel lagi?" Jelita bertanya tujuan mereka setelah ini.
"Kita akan kembali ke rumahku. Ah, maksudku rumah kita berdua," jawab Ryo dengan cengiran lebar.
Pada akhirnya dia dapat membawa Jelita kembali ke rumahnya. Namun, bukan sebagai Bodyguardnya tapi sebagai Istrinya.
"Tapi, barang-barangku masih berada di kediaman Albirru," ucap Jelita.
Jelita sendiri senang karena akan kembali tinggal bersama Ryo.
"Kalau begitu kita ke kediaman Albirru dulu untuk mengambil barang-barang kamu, sayang," ujar Ryo memberi solusi.
"Baiklah," Jelita menurut.
"Jefra, putar arah," titah Ryo pada Jefra yang sedang menyetir mobil.
"Ya, tuan muda," patuh Jefra.
Mobil BMW hitam itu pun memutar arah untuk berganti tujuan.
**
Ryo terlihat sedang meneliti kamar Jelita yang bernuansa hitam dan merah muda, istrinya memang benar-benar menyukai ke dua warna itu. Sedangkan si empunya kamar sedang membenahi barang-barang.
"Apa kamu ingin mengganti suasana kamar kita dengan warna hitam dan merah muda?" tanya Ryo tiba-tiba.
"Eh? Kamar kita?" Jelita menghentikan aktivitasnya dan menatap Ryo.
"Ya, kita kan sudah menikah, tentu saja kita akan tidur di kamar yang sama," jawab Ryo dengan entengnya.
Itu memanglah wajar bagi pasangan suami istri. Jelita hampir lupa soal itu, Ryo benar-benar akan menjadi guling untuknya. Wajah Jelita memerah karena pikirannya itu.
"Jadi, apa kamu ingin mengganti suasana kamar kita?" tanya Ryo sekali lagi, menyadarkan Jelita yang termenung.
"Ng-nggak perlu," tolak Jelita.
Jika mereka satu kamar, itu berarti dia akan tidur di kamar Ryo. Jelita tidak masalah dengan nuansa kamar Ryo yang maskulin.
Kemudian Jelita kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
"Imut sekali," ucap Ryo pelan.
__ADS_1
Ryo sedang menatap bingkai foto yang dia ambil dari meja rias. Dia melihat Arthur versi lebih muda yang sedang menggendong seorang anak perempuan dengan model rambut kuncir dua, dan ada paspoto berukuran kecil di pojok bingkai, seorang wanita berambut pendek yang memiliki warna seperti rambut Jelita.
'Apa ini Ibu mertua?' pikir Ryo.
Ryo sudah tahu jika selama ini Jelita sama sepertinya, sama-sama sudah kehilangan Ibu. Namun, hidupnya jauh lebih beruntung karena masih bisa mengenang wajah sang Ibu dan pernah merasakan kasih sayangnya sewaktu kecil. Sedangkan Jelita jangankan mendapat kasih sayang dari seorang Ibu, untuk mengenang sang Ibu saja hanya bisa melihat dari foto karena Jelita sudah ditinggal sang Ibu sejak dilahirkan.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Jelita yang tahu-tahu melongok dari belakang punggung Ryo.
Jelita sudah selesai mengemasi barang-barang yang akan dia bawa untuk pindah.
"Sedang melihat foto," jawab Ryo jujur.
Jelita melihat pigura foto yang sedang suaminya pegang, "Oh, aku hampir melupakan ini," ucapnya dan mengambil alih pigura foto itu, dia akan membawanya.
Lalu Jelita memasukan pigura foto itu ke dalam koper.
"Sayang," Ryo memeluk dari belakang tepat ketika Jelita menutup kembali koper.
Jelita tersenyum dan mengelus lengan suaminya, "Hmm?"
"Aku akan berusaha selalu membahagiakanmu, aku nggak akan memberikan akhir bahagia untukmu, tapi aku akan memberimu kebahagiaan tiada akhir," ujar Ryo dengan bersungguh-sungguh.
Ya, Ryo berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Jelita seumur hidupnya.
**
Pada waktu yang sama.
Renata memarkirkan mobilnya di parkiran kediaman Albirru. Sebelumnya dia sudah menghubungi Jelita jika akan berkunjung sekaligus mencurahkan kegalauannya pada sepupunya itu. Sampai saat ini dia masih memikirkan kesalahannya yang sudah tidur dengan pemuda asing.
Pintu mobil terbuka dan Renata keluar, lalu melangkah gontai untuk masuki rumah. Terlihat sekali jika dia sedang banyak pikiran.
Namun, langkahnya mendadak berhenti ketika melihat siluet yang sangat membuatnya terkejut.
Pemuda asing yang memenuhi pikirannya.
"Kamu cowok malam itu..."
"Hai, kucing nakal yang kabur," ucap Jefra dengan menyeringai samar.
Ya, siluet itu adalah Jefra.
Renata menelan saliva berat, 'Apa-apaan ini...? Kenapa aku bertemu dengannya lagi? Kenapa dia ada di sini?' batin Renata.
Padahal Renata meyakini jika dirinya tidak akan pernah bertemu dengan pemuda yang telah tidur dengannya itu.
__ADS_1
_To Be Continued_