Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Penyerangan


__ADS_3

Dor


Dor


Keadaan menjadi menegangkan saat terdengar suara tembakan dari luar.


Jelita segera bangkit dan mencoba untuk tidak bersikap panik, dia menghawatirkan Ryo yang terlihat ketakutan, "Tarik napasmu dan hembusan perlahan," ujarnya pada Ryo.


Ryo mengangguk, dia mengikuti apa yang di perintahkan Jelita. Ya, dia harus melawan rasa takutnya ini, keadaan sedang tidak baik-baik saja, dia tidak boleh menjadi laki-laki yang lemah.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Jefra yang datang dengan bantuan senter ponsel.


"Kami nggak apa-apa," jawab Jelita, "Sebenarnya ada apa? Kenapa listrik mati dan ada suara tembakan di luar?" tanyanya.


"Ada penyerangan dari sekelompok mafia, orang-orang dari tuan Arthur sedang mengurusnya, sebaiknya kalian pergi dari sini," ujar Jefra.


Kekhawatiran dari Ayah Jelita bukanlah omong kosong belaka, beruntunglah Arthur sudah menyuruh orang-orangnya untuk memperketat pengawasan untuk Ryo dan Jelita.


"Apa ini ulah dari putra Delaney?" tanya Jelita.


"Ya, ini perbuatan Jason Delaney, dia berniat balas dendam dengan bekerja sama dengan mafia," jawab Jefra.


"Jadi yang mereka incar itu Ryo?" tanya Jelita.


"Benar, karena itu kalian pergilah dari sini," ucap Jefra.


"Baiklah," turut Jelita.


Kemudian Jefra mendekati Ryo, "Apa tuan muda masih takut dengan gelap?" tanyanya pada Ryo, dia memang tahu tentang nyctophobia yang diderita Ryo.


"Aku nggak takut," jawab Ryo, dia sudah lebih tenang dari pada sebelumnya, mekipun bibirnya masih agak bergetar.


Jelita menyeka keringat dari pelipis Ryo, "Ya, kamu pasti bisa melawan rasa takut itu," ucapnya memberi semangat.


"Kalau begitu bawalah ini," ujar Jefra seraya menyodorkan pistol pada Jelita.


Sebelum Jelita mengambil pistol itu Ryo segera mengambilnya, "Biar aku saja," ucapnya.


"Kamu bisa menggunakannya?" tanya Jelita menatap Ryo tidak yakin.


"Jangan remehkan aku," kata Ryo.


"Tuan muda memang bisa menggunakan pistol, aku yang mengajarinya," ujar Jefra. Saat di LA Jefra memang pernah mengajari Ryo menggunakan pistol, meskipun Ryo tidak jago bela diri seperti Jelita tapi pemuda itu cukup mahir menggunakan pistol.


Kemudian mereka bertiga berjalan keluar, Jefra berada di depan dengan pistol ditangannya, dia akan membuka jalan unjuk Ryo dan Jelita. Di suasana yang masih begitu gelap terdengar suara tembakan yang bersahut-sahutan, bunyi kaca jendela pecah dan barang-barang yang berjatuhan semakin memperburuk suasana.

__ADS_1


"Tenang saja, aku akan melindungi kamu, Jelita," ucap Ryo sembari mengandeng tangan Jelita.


Jelita berkedip beberapa kali, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Ryo, "Bukankah aku yang harus berkata seperti itu?" tanyanya.


Jelita dapat merasakan tangan Ryo yang agak gemetar dari tautan tangan mereka, beberapa pertanyaan berkecamuk dipikirannya. Bagaimana bisa orang yang masih merasa takut akan kegelapan berkata ingin melindunginya? Bukannya dia yang berstatus Bodyguard Ryo? Kenapa Ryo yang melindunginya?


"Mulai sekarang aku yang akan melindungi kamu," kilah Ryo tidak terbantahkan, dia memang serius mengatakannya. Sudah cukup dia dilindungi oleh orang yang berharga baginya, dia tidak mau kehilangan Jelita seperti dia kehilangan sang Ibu.


Jelita tersenyum meski tidak bisa dilihat Ryo karena gelap, tidak bisa dipungkiri jika hatinya menghangat, "Aku bukan cewek yang lemah, aku juga ingin melindungi kamu, kita bisa saling melindungi," ujarnya.


"Aku nggak mau dilindungi olehmu, Jelita," tolak Ryo, meskipun perkataan Jelita begitu manis tapi dia tidak mau Jika jelita mengalami hal yang buruk lagi, sudah cukup punggung gadis itu yang cedera.


"Lalu apa gunanya aku sebagai Bodyguard?" tanya Jelita dengan mengeryitkan dahi.


"Kamu itu hanya Bodyguard pajangan," jawab Ryo asal.


Pelipis Jelita berkedut kesal, setelah memberikan kata-kata yang membuatnya senang kini Ryo dengan mudahnya menghancurkan kesenangannya.


Dor


Dor


Jefra dan Ryo menembak dua orang berpakaian hitam yang menghadang. Beberapa mafia sepertinya sudah berhasil masuk ke dalam rumah, jumlah mereka memang tidaklah sedikit. Orang-orang suruhan Arthur cukup kewalahan dibuatnya.


Jelita dan Ryo menurut, mereka berdua berjalan mengendap untuk sampai ke pintu, keadaan gelap memudahkan mereka keluar.


Tuk


Sebuah moncong pistol tiba-tiba saja menempel di kening Ryo, "Senang bertemu denganmu, boy," ucap siempunya pistol.


"Jason," geram Ryo, dia memang mengenal Jason, siapa yang tidak kenal dengan anak bungsu dari saingan bisnis keluarga sendiri?


Ryo segera menyembunyikan Jelita di belakang tubuhnya. Sedangkan Jelita terlihat khawatir dengan Ryo, dia mengeratkan genggaman tangannya.


Jason menyeringai, "Apa kamu terkejut?" tanyanya, di belakangnya ada beberapa mafia yang juga menyodorkan pistol pada Ryo.


"Aku kira kamu sudah tewas bersama keluarga kamu itu," ucap Ryo tersenyum miring.


"Keparat," maki Jason marah, "Jangan sebut keluargaku dengan mulut kotormu itu, aku datang ke sini untuk mengambil nyawamu untuk membalaskan dendam kematian keluargaku."


Ryo mengeryit, "Apa maksudmu?"


Dia memang tidak tahu tenang pembantaian keluarga Delaney yang dilakukan ayahnya.


"Keluarga Januartha yang sudah membunuh semua keluargaku," sengit Jason.

__ADS_1


Ryo terkejut mendengarnya, "Jangan asal bicara," ucapnya menyangkal.


Jika keluarga Januartha yang melakukannya, berarti Ayahnya yang sudah membunuh semua keluarga Delaney, dia tidak percaya itu, bagi Ryo sang Ayah tidak mungkin bertindak sekejam itu.


Jason tersenyum mengejek, "Dasar orang bodoh yang nggak tahu apa-apa, atau kamu juga nggak tahu jika kematian Ibumu adalah akibat sabotase dari keluarga Delaney?" ucapnya justru membocorkan semuanya.


Badan Ryo menegang seketika, rahangnya mengeras, kenapa dia baru mengetahuinya? Kenapa ayahnya tidak memberitahu tentang kebenaran atas kematian sang Ibu? Apa dia terlalu bersenang-senang selama ini sampai baru tahu tentang itu?


"Kuatkan dirimu, tuan muda," bisik Jelita seakan memberi kekuatan bagi Ryo.


Ryo pun mencoba meredam rasa emosi dan terpukulnya, sekarang dia harus berpikir jernih untuk bisa keluar dari situasi berbahaya. Dia harus bisa menyelamatkan dirinya dan melindungi Jelita bagaimanapun caranya.


Ryo mengepalkan tinjunya dan langsung mengarahkannya pada rahang bawah Jason.


Bugh


"Arg!" rintih Jason.


Setelah itu Ryo mengambil pistol dari tangan Jason dan mengunci tangan pemuda itu ke belakang, "Mundur! Atau aku akan melubangi kepalanya!" serunya dengan berbalik menempelkan moncong pistol pada pelipis Jason.


Jason yang sedang disandera langsung ketakutan, "Kalian mundur," titahnya pada para mafia yang hendak menembak Ryo.


Para mafia pun menurut, mereka mundur.


"Buang senjata kalian," perintah Ryo.


Perintah Ryo segera dituruti, para mafia segera membuang senjata api mereka. Keselamatan pemimpin mereka adalah nomor satu.


"Jelita, ayo kita pergi," ucap Ryo pada Jelita.


"Ya," jawab Jelita yang awalnya tertegun karena aksi Ryo, dia tidak menyangkah jika Ryo bisa membalikan keadaan terjepit tadi, ternyata pemuda itu cukup bisa diandalkan.


Mereka berdua segera menuju mobil yang berada di parkiran, kemudian masuk ke dalam mobil setelah Ryo mendorong Jason hingga tersungkur.


Jelita langsung menancap gas.


Dor


Dor


Para mafia menembaki mobil hitam yang sudah melesat pergi, berharap bisa mengenai ban atau kaca mobil yang dinaiki Jelita dan Ryo.


"Bang-sat! Kejar mereka!" teriak Jason berang.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2