Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Peringatan


__ADS_3

Sepulangnya Gavin dan Kavin, ke dua pemuda itu baru pulang ke rumah masing-masing pada pukul 10 malam. Sungguh ke dua pemuda yang tidak ingat rumah.


"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Ryo saat minat Jelita bangkit dari posisi terduduk di sofa.


"Aku mau melihat Renata," jawab Jelita.


Ryo meraih tangan Jelita dan menariknya.


"A!" pekik Jelita saat dirinya terjatuh pada pangkuan Ryo.


"Di sini saja," cegah Ryo.


Ryo memeluk Jelita agar tidak bisa kemana-mana. Bisa gagal rencananya kalau dia membiarkan istrinya pergi melihat Renata.


"Ih, lepas," Jelita mencoba memberontak.


Oh, ayolah, tenaga Jelita begitu kuat, Ryo kewalahan dibuatnya. Namun, bukan Ryo namanya jika tidak tahu kelemahan istrinya itu.


"Hmmpp!"


Jelita terbelalak saat Ryo mencium bibirnya dengan gerakan yang cepat.


"Ryo..." lirih Jelita membuka mulutnya perlahan karena Ryo menggigit bibir bawahnya, membiarkan lidah Ryo berperang dalam rongga mulutnya.


Kini tenaga Jelita yang kuat itu tidak ada artinya lagi, dia bahkan merasa lemas karena ciuman Ryo yang begitu menuntut.


"Hmm."


Dan hingga akhirnya suara dehaman menganggu kegiatan mereka.


Ryo segera melepas tautan bibirnya, sedangkan Jelita merasa tremor saat kegeb ke dua kalinya. Jelita sangat malu sekali.


"Jefra?" Ryo menatap takjub Jefra yang sedang menggendong Renata yang tengah tidur dengan gaya bridal style.


Jefra bisa ke luar? Bukannya pintu kamar tamu masih terkunci? Kok bisa?


Jelita yang menunduk malu segera menengok untuk melihat arah tatapan Ryo, kemudian bernapas lega karena telah melihat Renata yang terlihat baik-baik saja.


"Tuan muda, aku akan mengantar Renata pulang," ucap Jefra meminta izin.


Ryo mengangguk perlahan tanpa berpikir.


Setelah mendapat persetujuan dari Ryo, Jefra segera melangkah ke luar rumah.


"Apa itu benar-benar Jefra?" tanya Ryo pada Jelita, dia seperti orang bingung.


"Ya," Jelita mengangguk, "Jefra dan Renata," ucapnya memperjelas.


"Ja-jadi itu benar-benar Jefra?" Ryo terlihat sangat terkejut.


"Ck, kamu kira tadi siapa?" sengit Jelita.


Sepertinya kelemotan suaminya itu kambuh, jelas-jelas yang barusan itu Jefra yang sedang menggendong Renata, kenapa juga Ryo masih bertanya bagai orang bodoh.

__ADS_1


"Kenapa dia bisa keluar?" tanya Ryo yang masih berekspresi terkejut.


Jelita mengangkat bahu acuh, lagi pula dia juga tidak tahu.


"Apa dia bisa menembus pintu?"


"Jangan ngawur," ujar Jelita seraya menyentil dahi Ryo pelan.


Ryo tidak tahu saja jika Jefra adalah ahlinya membobol pintu, terkecuali membobol perempuan.


**


Esoknya.


Hari Senin bisa juga di sebut hari ke dua pada pekan ini. Jelita sudah memulai aktifitas untuk bekerja di kantor sesudah libur di hari Minggu.


Terlihat Jelita yang tengah duduk di kursi kebanggaannya, memfokuskan dirinya pada layar komputer dan berkas-berkas penting yang berada di meja. Jelita berniat menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum mengambil cuti untuk berbulan madu.


Jelita sungguh menantikan waktu bulan madu keliling dunia bersama Ryo, itu pasti akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan.


Rings... Rings...


Bunyi telepon di atas meja mengalihkan atensi Jelita.


"Halo," ucap Jelita setelah mengangkat ganggang telepon kabel, dan menempelkannya pada telinga.


[Ada yang ingin memaksa bertemu dengan Nona] terdengar suara Nohan di ujung sana.


"Siapa?" alis Jelita terangkat karena penasaran dengan orang yang memaksa ingin bertemu dengannya.


Jelita menunggu kelanjutan perkataan Nohan.


[Wanita bernama Revalia]


Revalia? Untuk apa Reva menemuinya? Terlebih lagi menemuinya di kantor.


"Usir saja."


Bagi Jelita tidak ada gunanya bertemu dengan Reva, waktunya terlalu berharga untuk itu.


[Tapi wanita itu terus saja memaksa, dia berkata ingin menunggu Nona di lobi]


Jelita menghembuskan napas kasar, "Suruh petugas keamanan menyeretnya ke luar," titahnya.


[Baik, Nona]


Kemudian panggilan berakhir, Jelita kembali meletakkan gagang telepon pada tempatnya.


"Apa dia sedang mencari masalah denganku?"


Jika benar, Jelita tidak mungkin tinggal diam. Jangan lupakan jika Jelita memiliki senjata untuk menyerang Reva.


**

__ADS_1


Pukul 12 siang, waktunya makan siang.


Kaki jenjang dengan high heels 5 cm melangkah keluar dari lift. Jelita melangkah dengan Nohan yang mengikutinya dari belakang. Jadwalnya pada saat ini adalah makan siang bersama kolega bisnisnya. Dia memang benar-benar sibuk, pada jam istirahat pun masih saja harus bekerja.


Karena setiap menit dan setiap jam begitu berharga bagi Jelita, because time is money.


"Jelita!"


Jelita menghentikan langkahnya saat ingin memasuki mobil yang sudah Nohan bukakan pintunya, lalu berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.


Reva.


Meskipun sudah diusir ternyata Reva masih saja bersikeras menunggunya di luar gedung kantor, benar-benar keras kepala.


Jelita menatap datar Reva. Sebenarnya ada kepentingan apa Reva dengannya?


"Ayo kita bicara," ucap Reva.


Reva meneliti penampilan Jelita dari atas ke bawah, Jelita tampil menawan dengam blouse berwarna putih dan outfit one set berupa suit dan mini skirt warna cream. Reva mendadak jadi insecure, padahal Reva sudah dandan habis-habisan hanya untuk tidak mau kalah saing dengan Jelita. Namun, tetap saja dirinya kalah telak.


Jelita melirik jam tangan yang melingkar manis pada pergelangan tangannya, dia masih mempunyai waktu 15 menit.


"Bicara saja," ujar Jelita kemudian.


"Apa sopan seorang CEO perusahaan ternama mengajak seseorang berbicara sambil berdiri dan di tempat panas seperti ini?" kata Reva yang justru bertingkah ngelunjak.


Padahal Jelita sudah berbaik hari meluangkan waktunya. Lagi pula yang mengajak bicara duluan kan Reva sendiri.


"Kalau nggak cepat bicara aku akan segera pergi," ujar Jelita yang tidak menggubris perkataan Reva.


Ada gurat kekesalan di wajah bermakeup tebal Reva, dia menganggap jika Jelita begitu sombong, "Baiklah aku nggak berbasa-basi lagi," kilahnya.


Sepertinya Jelita tahu arah dari maksud kedatangan Reva.


"Apa ini tentang Ryo?" tanya Jelita.


"Aku akan berterus terang padamu, Jelita. Aku mencintai Ryo, dan aku akan merebutnya darimu," ucap Reva dengan tatapan serius.


Jelita menatap Reva, perkataan gadis itu bukanlah main-main, dia serius.


"Kenapa kamu mengatakan itu? Aku dan Ryo sudah menikah, apa kamu berniat merusak rumah tangga kami?" tanya Jelita dengan memincingkan mata.


"Kurasa kamu pernah dengar kalau cinta itu buta. Lantas kenapa jika kalian sudah menikah? Aku hanya merebut apa yang seharusnya menjadi milikku," jawab Reva.


"Lalu apa kamu pikir jika Ryo akan dengan mudahnya kamu rebut?" tanya Jelita, dia mencoba menahan amarah di hatinya.


"Aku akan mengusahakan itu," ucap Reva bersungguh-sungguh.


"Aku datang ke sini hanya untuk memperingati kamu, aku nggak ingin kamu terkejut kalau Ryo tiba-tiba akan mencampakkan kamu demi diriku, karena aku tidak akan pernah menyerah, akan aku pastikan Ryo berpaling padaku," sambung Reva dengan percaya diri.


"Kalau kamu mampu, lakukan saja," tukas Jelita dengan tatapan tajam.


Jelita mengeraskan wajahnya. Apa Reva sedang mengajaknya perang?

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2