
Di sebuah ruangan yang dipenuhi rak-rak berisikan buku, bau buku menjadi sensasi tersendiri.
Sesuai dengan permintaan Ryo, kini Jelita sudah tidak bekerja lagi. Meskipun merasa bosan di rumah, tetapi dia harus menuruti apa yang dikatakan Suaminya, lagi pula ini demi kebaikannya dan si kedua jagoan kecil.
Selama di rumah, Jelita bisa membaca beberapa buku di perpustakaan pribadi, dia baru menyadari jika di rumah Suaminya ini ada perpustakaan yang memiliki buku-buku yang lengkap. Membaca buku sembari mendengarkan lagu klasik tidak terlalu buruk, cukup bisa menghilangkan kebosanan sampai Suaminya pulang. Jika ada Ryo dia tidak mungkin merasa bosan lagi.
Jelita duduk di hamparan permadani berwarna cokelat kehitaman, berbulu tebal nan lembut. Calon Ibu muda itu menempelkan earphone pada sisi kanan dan kiri perut. Earphone yang sudah terhubung dengan ponselnya, yang sedang memutar lagu klasik dengan volume tidak terlalu kencang. Serta tatapannya fokus pada buku tebal yang sedang dibaca.
Saking fokusnya Jelita tidak menyadari jika pintu terbuka, menampakan Ryo yang masih mengenakan stelan jas kerja. Ryo menghela nafas lega karena sudah berhasil menemukan Istri cantiknya itu. Kemudian melangkah pelan untuk mendekat.
"Mommy," panggil Ryo dengan nada yang manja.
Jelita agak terkejut dengan sentuhan lembut pada pipinya saat Ryo mengecupnya sekilas.
"Ah, kamu sudah pulang?" tanya Jelita retorik.
Kecupan Ryo beralih pada perut buncit Jelita, "Hai, jagoan, hari ini kalian nggak membuat Mommy kesulitan kan?"
Jelita tersenyum karena tingkah Ryo yang manis itu. Dia dapat merasakan tendangan halus dari si bayi, seolah-olah menjawab perkataan Daddy-nya.
"Mereka nggak nakal kok, Dad," jawab Jelita.
"Oh, pintar sekali," Ryo mengelus sayang perut buncit Istrinya.
Jelita tertawa dibuatnya.
"Aku tadi mencarimu sampai keliling rumah karena khawatir kalau-kalau kamu diculik. Eh, ternyata sedang bersantai di sini," keluh Ryo.
Jelita meraih ponselnya untuk melihat jam. Sudah pukul 8 malam. Dia sampai lupa waktu karena keasyikan. Pantas saja Ryo sudah pulang.
"Maaf ya, aku lupa waktu," ucap Jelita merasa bersalah.
"Sudah nggak apa-apa, sayang."
Ryo melepaskan earphone yang ditempelkan di perut Jelita.
"Aku lapar," katanya kemudian.
Kemudian Ryo dan Jelita beranjak untuk pergi ke dapur. Berjalan beriringan dengan tangan Ryo yang merangkul pundak Istrinya itu.
"Kamu pakai parfum?" tanya Jelita saat mencium wangi yang sangat berbeda dari suaminya.
Sontak Ryo mencium lengan jasnya, "Ah, ng-nggak," jawanya gugup.
__ADS_1
Jelita memincingkan mata, menatap menyelidik Suaminya, "Aku mencium seperti parfum cewek."
Ryo menelan saliva berat, "Bu-bukan kamu salah," bantahnya.
Bukankah Ryo mencurigakan? Tentu saja Jelita dapat mencium gelagat menyembunyikan sesuatu.
"Aku mau mandi dan ganti pakaian dulu, ya."
Ryo melangkahkan kakinya menjauh dari Jelita, setelah berucap seakan melarikan diri.
Sedangkan Jelita masih terdiam dengan tatapan yang tertuju pada punggung Ryo, sampai menghilangkan saat berbelok.
Kemudian kembali melangkah ke dapur untuk memanaskan makanan yang sebelumnya dia masak tadi sore. Meskipun bisa memperkerjakan chef terkenal, tetapi dia tidak bisa lepas dari kebiasaan memasak untuk Ryo. Lagi pula dia sangat suka memasak.
Namun, pikirannya masih tertuju pada gelagat mencurigakan Ryo, meskipun dia berusaha untuk tidak memikirkannya.
Apa Suaminya itu sedang ada something di belakangnya?
Jelita menggeleng cepat, "Nggak mungkin, Ryo nggak mungkin seperti itu," sangkalnya.
**
Beralih ke rumah sakit, tepatnya di kamar rawat Gavin.
Cklek
Gavin tidak memperdulikan bunyi pintu yang terbuka. Dia pikir itu adalah perawat yang memang datang secara berkala untuk sekedar mengontrolnya, seperti mengecek infus, tekanan darah, dan lainnya.
Suara langkah dari sepatu yang bergesekan pada lantai terdengar jelas. Kini dia memang menjadi sensitif terhadap suara ataupun cahaya.
Ctek
Lampu yang awalnya gelap dinyatakan.
"Jangan dinyalakan, matikan saja," ujar Gavin dengan mata yang masih terpejam.
Nyala lampu membuatnya semakin sakit kepala.
Ctek
Lampu dimatikan lagi.
Seseorang yang Gavin yakini adalah perawat berjalan mendekati ranjangnya. Gavin masih terpejam, masih tidak perduli.
__ADS_1
Kemudian Gavin merasakan ada sentuhan menekan di antara ke dua alisnya.
"Kenapa berkerut? Kepalamu sakit?" terdengar suara wanita yang begitu... sexy?
Gavin membuka matanya perlahan, seketika bola matanya membesar saat melihat wajah Sachi yang dekat sekali dengan wajahnya. Sachi lah yang menempelkan jari telunjuk di antara ke dua alisnya.
"E-eh, Sach───Bu Dosen...?" Gavin benar-benar gugup saat ini, bahkan sampai menahan napas.
Sachi menjauhkan wajahnya, dan itu membuat Gavin kembali bernapas lega. Sepertinya Sachi tidak sadar dengan perbuatannya yang justru menyiksa jantung si pemuda yang sedang sakit itu.
"Panggil Sachi saja, kita sedang di luar kampus," ujar Sachi dengan ekspresi yang tidak menunjukkan apapun, datar.
"...Sachi?" ucap Gavin agak ragu.
"Ya."
"Untuk apa ke sini?" tanya Gavin.
"Tentu saja menemanimu. Aku akan menepati janji untuk merawatmu sampai sembuh."
Sachi menarik kursi ke samping ranjang, lalu mendudukinya.
"Tapi ini sudah malam, aku tidak apa-apa kalo tidak ditemani. Nanti ...Suamimu bisa marah," ujar Gavin dengan ragu-ragu menyebutkan kata 'Suami'. Gavin berharap Sachi menyangkal dengan berkata tidak memiliki Suami.
"Tenang saja, Suamiku sudah tahu tentang ini. Dia mengizinkan aku untuk merawatmu. Jadi dia tidak mungkin marah. Suamiku itu sangat pengertian."
Namun, harapan Gavin langsung sirna. Ternyata Sachi benar-benar sudah menikah.
"O-oh," Gavin tersenyum kecut.
Dan Sachi dapat melihat perubahan ekspresi Gavin. Kemudian tatapan beralih ke cincin yang tersemat di jarinya. Sekali lagi, cincin itu menolongnya. Sachi memang selalu menggunakan cincin untuk menjauh dari semua laki-laki yang mencoba mendekatinya.
Dan itu berlaku pada Gavin. Dengan bertameng memiliki Suami, Sachi jadi bisa mengatasi rasa takutnya itu. Lebih baik berbohong dari pada membiarkan Gavin mendekatinya.
Akan tetapi, apa benar akan berjalan sesuai dengan keinginan Sachi?
"Jadi kerena itu kamu memberikan aku nomor telepon yang salah?" tanya Gavin kemudian.
"Ya, itu bisa menjelaskan semuanya," jawab Sachi.
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Mrs."
Mrs sebutan untuk seorang wanita yang sudah menikah. Gavin tersenyum hampa. Dulu dia sempat menyukai perempuan jahat yang suka membully, dan sekarang menyukai Istri orang. Dirinya hanya bisa meratapi nasib percintaannya yang selalu gagal.
__ADS_1
_To Be continued_