
Suara dentingan sendok dan garpu pada piring terdengar di ruang makan. Ke tiga orang tengah makan dengan tenang.
"Kamu yang memasak?" tanya Jelita pada Jefra.
"Ya, Non—" Jefra tidak melanjutkan perkataannya, dia hampir saja keceplosan.
Selama Jelita di rumah sakit Jefra-lah yang melakukan pekerjaan Jelita, dari memasak, bersih-bersih, menuruti hal-hal aneh yang diinginkan Ryo, dan mengikuti kemanapun Ryo pergi.
"Masakan Jefra sangat nggak enak, rasanya seperti memakan tanah," celetuk Ryo, dia terlihat ogah-ogahan saat makan. Ini adalah penyebab Ryo lebih kurus dari terakhir Jelita melihatnya.
"Maaf, tuan muda. Saya akan segera memperbaikinya," ucap Jefra yang mengakui jika rasa masakannya memanglah buruk.
Ryo menatap sengit Jefra, "Semakin diperbaiki justru semakin nggak enak."
"Maklum saya lebih terbiasa memegang tembakan dari pada penggorengan," kata Jefra kikuk, orang kepercayaan Ayah Xavier ini memang bukanlah Bodyguard kaleng-kaleng, pekerjaan sebenarnya adalah menembak dan memukul orang.
"Pulang kampung saja sana," tukas Ryo.
"Tapi saya tidak punya kampung, tuan muda," kilah Jefra apa adanya.
"Bukan urusanku."
"Kamu mau aku masakan lagi?" tawar Jelita pada Ryo sekaligus menghentikan perdebatan yang tidak berfaedah itu.
"Nggak usah," tolak Ryo sambil mengibaskan tangannya, "Kamu itu belum boleh melakukan aktivitas berat dulu."
"Tapi aku adalah Bodyguardmu, nggak sepantasnya aku bersantai, ini sama saja seperti makan gaji buta," ucap Jelita murung.
"Anggap saja kamu masih libur," ujar Ryo.
"Aku sudah libur terlalu lama."
Ryo memutar bola matanya, "Disuruh libur kok susah banget, sih. Padahal enak kalau libur," ucapnya tidak habis pikir dengan Jelita yang selalu menolak diliburkan.
Jelita merengut, "Aku bosan kalau nggak berbuat apapun."
"Dengar ya, Jelita si cewek Jelek. Biarkan Jefra yang menggantikan pekerjaan kamu sampai kamu sembuh sepenuhnya. Menurutlah dengan apa yang dikatakan majikan kamu ini," kata Ryo tidak terbantahkan.
"Ya, biar saya yang melakukan semuanya," ucap Jefra menyetujui perkataan tuan mudanya, lagi pula dia memang ditugaskan untuk mengurus Ryo dan Jelita.
"Baiklah," patuh Jelita setengah hati.
"Bagus," ucap Ryo sembari melanjutkan acara makannya.
__ADS_1
Ryo melakukan ini demi kebaikan gadis berkacamata itu, dia tidak mau jika Jelita kembali sakit.
**
Seantero kampus dikagetkan dengan kedatangan Jelita bersama Ryo dan Jefra, mereka kira Ryo sudah membuang gadis cupu itu. Namun, nyatanya Jelita masih berada di dekat sang Casanova.
Begitu pula dengan Reva, dia iri melihat Jelita, gadis itu berpikir jika dia lebih segala-galanya dibandingkan Jelita, tapi kenapa Ryo justru lebih memilih memberikan perhatian lebih pada Jelita? Hubungannya dengan Ryo saja sudah tidak bisa dikatakan baik sekarang.
Kavin memegang pundak Reva, dia mencoba menyadarkan Reva yang sejak tadi menatap geram Jelita yang berjalan di samping Ryo, "Apa nggak sebaiknya kamu melepas Ryo? Sepertinya Ryo memang sudah benar-benar tertarik dengan Bodyguardnya," ucapnya.
Reva langsung menepis tangan Kavin yang bertengger di pundaknya dan menatap si pemuda bule marah, "Katanya kamu ingin mendukungku untuk mendapatkan Ryo, tapi kenapa sekarang kamu justru menyuruh aku untuk melepas Ryo?" kilahnya.
"Aku hanya nggak mau melihat kamu menangis karena penolakan Ryo, aku nggak suka itu Reva," ucap Kavin dengan menatap dalam mata Reva, padahal cintanya begitu tulus untuk gadis itu, dia ingin sekali saja Reva peduli akan perasaannya.
"Kalau kamu benar-benar nggak suka, maka cobalah untuk menyingkirkan Jelita," desis Reva.
Ingatannya kembali saat Ryo menghinanya dengan sebutan Jalαng, Ryo sudah mengecapnya sebagai perempuan tidak benar, tentu saja pemuda itu tidak akan mau menerimanya. Tapi, dia tidak memperdulikan kenyataan itu.
"Ryo itu milikku, dia selalu kembali padaku setelah bermain dengan wanita lain."
Kavin menatap Reva dengan tatapan penuh arti, sebenarnya dirinya itu apa bagi Reva?
**
Jelita yang habis dari toilet menatap heran Kavin, kenapa juga pemuda bule itu tiba-tiba ingin mengajaknya bicara?
"Mau bicara apa?" tanya Jelita dengan berekspresi tenang.
Para mahasiswa yang melihat Jelita yang mengobrol dengan Kavin melihat dengan penasaran, Jelita memang sudah terkenal di kampus lantaran sudah berhasil mendekti Vano dan Ryo.
"Eh, lihat cewek jelek menggoda cowok lagi."
"Nggak sadar diri ya dia, sudah menggoda Vano dan Ryo sekarang menggoda cowok lain."
"Ngeselin banget deh."
"Dia juga pernah membully Revalia di toilet loh."
"Pasti dia iri dengan kecantikan Reva."
"Jahat banget sih, busuk banget hatinya."
"Nggak punya kaca kah dia? Muka buruk rupa saja tingkahnya kayak cabe-cabean."
__ADS_1
Telinga Jelita panas mendengar bisik-bisik itu, ingin sekali dia menonjok satu persatu orang yang menghinanya tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk itu. Jelita menghembuskan napas untuk bersabar, "Cepat bicara," katanya pada Kavin.
"Jauhi Ryo," ujar Kavin.
'Apa-apaan dia?' batin Jelita.
"Ryo itu milik Reva dan selamanya milik Reva, kamu hanya dimanfaatkan Ryo, sebaiknya kamu menjauhinya sebelum sakit hati," sambung Kavin.
"Apa hak kamu untuk mencampuri urusanku?" ucapnya sinis.
"Aku hanya memperingati kamu."
"Apa kamu adalah Anjing peliharaan Reva?" tanya Jelita menatap Kavin menilai, dia yakin jika Reva yang menyuruh Kavin.
Kavin mengepalkan kedua tinjunya, "Jaga bicaramu!" serunya berang.
Jelita yang melihat Kavin marah hanya menampilkan ekspresi datar, dia tidak takut sama sekali, "Memang benar, kan? Aku yakin kalau Reva menyuruh kamu untuk meminum racun pasti kamu akan menurutinya," ujarnya.
Pemuda bule itu termenung, dia memang sangat mencintai Reva, baginya Reva adalah segala-galanya, tapi dia tidak sebodoh itu untuk meminum racun karena Reva yang memintanya, "Tahu apa kamu tentang aku, ha!" sangkal Kavin dengan menggunakan nada bicara yang keras.
Semua mahasiswa yang menonton mereka pun sampai kaget dibuatnya, sekarang mereka memang sedang menjadi tontonan.
"Sejujurnya aku kasihan melihatmu," ucap Jelita, "Kamu rela mengorbankan segalanya demi orang yang tidak akan pernah menatapmu."
Kavin terkejut, dia tidak menyangka jika Jelita tahu tentang perasaannya pada Reva.
Tentu saja Jelita mengetahuinya, dari tatapan dan cara Kavin memperlakukan Reva sangat Jelas jika pemuda itu adalah budak cinta yang rela melakukan apapun.
"Bukalah matamu yang buta akan cinta itu. Pantaskah orang itu kamu perjuangkan? Pantaskah orang itu mendapatkan semua pengorbanan kamu? Dia bahkan nggak perduli sama sekali denganmu."
Kavin membeku, lidahnya keluh untuk membantah pernyataan Jelita yang menang ada benarnya. Sedalam apapun rasa cintanya, Reva memang tidak pernah perduli padanya, yang dipikirkan gadis itu hanyalah Ryo.
Sedangkan dia hanyalah sebuah hewan peliharaan yang bisa dimanfaatkan sesuka hati. Ya, itu memang benar, Reva menang menganggapnya seperti ini.
Tatapan Kavin berubah menjadi sendu.
Kenapa mencintai orang bisa sesulit dan menyakitkan seperti ini?
"So, berhentilah menjadi cowok bodoh, Kavin," kata Jelita dan melangkah melewati Kavin.
Sedangkan Kavin dia masih memikirkan apa yang dikatakan Jelita, "Aku memang bodoh karena mempertahankan sesuatu yang terus menerus menyakitiku," lirihnya.
_To Be Continued_
__ADS_1