
Di toko perhiasan.
Banyak sekali desain cincin pernikahan yang tersedia. Ada model cincin solitaire atau cincin dengan satu permata yang terkesan klasik, ada juga cincin berbentuk bulat polos yang mengandung filosofi mendalam tentang harapan kehidupan rumah tangga yang lancar, dan cincin listring atau eternity yang sedang trend.
"Ada yang kamu suka?" tanya Jefra pada Renata yang sedang melihat jejeran cincin yang begitu indah di etalase.
"Aku bingung, semuanya terlihat bagus," jawab Renata.
"Mau aku saja yang pilihkan?" tawar Jefra.
Sepertinya itu bukanlah tawaran yang buruk. Renata pun mengangguk.
Kemudian Jefra mulai mengedarkan mata setajam elang miliknya. Jangan lupakan jika mata Jefra begitu jeli.
"Yang ini," tukas Jefra seraya menunjuk sepasang cincin.
Pilihan Jefra jatuh pada cincin ekslusif dengan dua logam mulia campuran yaitu emas putih dan emas rose gold. Satu cincin yang terdapat beberapa warna. Untuk cincin pria terlihat polos. Sedangkan cincin yang wanita terdapat 45 pcs permata Swarovski yang melingkar cantik.
Pelayan toko membantu mengambilkan cincin itu, lalu memberikannya pada Jefra.
"Coba pakai ini."
Jefra meraih tangan kanan Renata dan menyematkan cincin pada jari manis. Sangat pas saat dipakai Renata.
Renata mengangkat tangannya, melihat cincin yang tersemat di jarinya itu dengan berbinar. Dia terlihat menyukainya.
"Kamu coba juga."
Renata mengambil cincin yang satunya dan menyematkan pada jari Jefra. Sangat pas juga.
"Wah, pilihan kamu sangat bagus, Jef," ucap Renata.
"Cincin itu mewujudkan keindahan alam dan kekuatan cinta abadi," ujar si pelayan menjelaskan arti dari sepasang cincin pernikahan itu.
Pada akhirnya pilihan mereka jatuh pada cincin itu.
**
Setelah keluar dari toko perhiasan.
Terlihat Jefra dan Renata yang sedang berjalan dengan bergandengan tangan.
"Jef, entah ini kebetulan, tapi cincin tadi begitu serasi dengan gaun pengantin yang akan aku kenakan nanti," kata Renata dengan riang.
"Itu bagus," Jefra tersenyum melihat Renata yang terlihat gembira.
Jika berbicara tentang gaun pengantin, Renata jadi teringat dengan Davian yang menghubunginya. Seketika ekpresi Renata berubah, dan itu disadari Jefra.
"Ada apa?" tanya Jefra.
Renata mendongak untuk menatap Jefra, dia ragu untuk bercerita tentang sang mantan pacar yang kembali menghubunginya pada Jefra.
Apa Jefra akan marah jika tahu tentang itu?
__ADS_1
Tapi Renata tidak mau menyimpan rahasia dari Jefra. Dia takut jika Jefra justru salah paham ke depannya.
"Jef," panggil Renata agak ragu.
"Hmm?"
Langkah kaki mereka berhenti tepat di sebelah mobil Mercedez Benz yang terparkir.
"3 hari yang lalu mantan pacarku menghubungiku," ucap Renata yang memutuskan bercerita pada Jefra.
Renata menunduk karena tidak mau melihat ekspresi Jefra yang mungkin saja akan marah atau kecewa.
"Tapi aku nggak mengobrol banyak dengannya, kok. Nomornya saja sudah aku blokir. Jadi kamu jangan marah, ya."
Renata meraih ujung bawah baju Jefra. Benar-benar seperti anak kecil yang takut dimarahi.
Bukankah marah, Jefra justru menjadi gemas. Mana bisa dia marah? Apalagi pada Renata yang sedang bertingkah imut. Oh, sepertinya Jefra tahu kenapa mantan pacar Renata kembali menghubungi, yang pastinya sedang merasakan penyesalan karena sudah meninggalkan gadis cantik itu.
Jefra memang harus lebih menjaga Renata agar selalu tetap bersamanya.
Renata menyangka jika Jefra marah, karena pemuda itu diam saja. Renata kembali mendongak untuk menatap Jefra dengan berkaca-kaca, raut wajah terlihat mendung seperti langit yang ingin memuntahkan air hujan. Dan benar saja, air mata menetes dari pelupuk mata Renata.
Entah kenapa Renata menjadi sangat sensitif jika berhubungan dengan Jefra, kenapa dia jadi cengeng?
"Kok menangis? Aku tidak marah, kok. Itu bukan salahmu, oke."
Jefra seketika panik saat melihat gadisnya menangis, salahkan dirinya yang terlalu banyak berpikir.
Renata segera memeluk Jefra untuk menyembunyikan wajah menangisinya.
Meminta maaf tidak selalu berarti salah dan orang lain yang benar. Itu hanya berarti menghargai hubunganmu lebih dari ego. Itulah prinsip Jefra.
"Jefra, aku sayang kamu. Apapun yang terjadi, kamu tetap menjadi nomer satu bagiku."
"Ya, aku percaya padamu, sayang."
Intinya dari sebuah hubungan memang harus ada kepercayaan.
**
Tengah malam.
Di sebuah Club malam yakni tempat hiburan bagi orang dewasa. Terlihat seorang DJ yang memainkan musik untuk mengiringi sekumpulan orang-orang yang sedang menari erotis.
Davian duduk di bagian bar minuman dengan menghisap rokok dalam-dalam, pemuda itu memejamkan mata. Seketika wajah cantik Renata masuk ke dalam pikirannya.
"Bang-sat, berhenti memikirkannya," maki Davian pada dirinya sendiri.
Sejak sore itu Davian selalu memikirkan Renata. Tidak pernah terbayang olehnya jika Renata akan menjalin kasih dengan pemuda lain.
Secepat itukah Renata melupakannya?
Kadang, memang harus merasakan kehilangan dulu sebelum akhirnya menyadari betapa berartinya seseorang.
__ADS_1
Dapatkan Davian memperbaiki kesalahannya? Davian berjanji tidak akan berselingkuh lagi jika Renata kembali padanya. Dan juga benar-benar akan menikahi Renata.
Sett
Seorang pemuda tiba-tiba saja duduk di kursi sebelah Davian.
Pemuda itu adalah Jefra.
Jefra memanggil seorang Bartender.
"Satu Margarita," Jefra memesan sebuah minuman yang berkadar alkohol tidak terlalu tinggi.
"Baik."
Kemudian Bartender mulai meracik minuman yang Jefra pesan.
"Kamu tahu siapa aku?"
Jefra melirik Davian yang sejak tadi menatapnya tajam.
Ya, Davian memang tahu siapa Jefra, dia sempat melihat Jefra saat di mobil dengan Renata. Bahkan Davian melihat aksi ciuman yang membuat hatinya terbakar.
Davian meraih gelas Vodka miliknya, lalu meminumnya dengan sekali tegukan. Dia tidak menjawab apa yang ditanyakan Jefra.
"Aku Jefra, calon Suami Renata."
Jefra berinisiatif memperkenalkan dirinya sendiri. Seringai samar muncul saat melihat Davian yang menggenggam gelas dengan sangat kencang. Jefra memang sangat bisa menjatuhkan mental seseorang.
Seorang Bartender menginterupsi dengan meletakan minuman milik Jefra di meja.
"Thanks," ucap Jefra.
"Your welcome," si Bartender kembali melayani pengunjung lainnya.
Jefra meraih minuman miliknya dan meminumnya.
"Ada maksud apa kamu memberitahuku itu?" Davian bertanya dengan menahan marah.
Jefra meletakkan kembali gelasnya di atas meja.
"Aku hanya memberitahumu kalau Renata sudah memiliki aku, dia tidak membutuhkanmu lagi. Jadi jauhilah Renata," ujar Jefra dengan aura memberi peringatan.
Davian menggertakkan gigi gerahamnya, entah kenapa dia merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Jefra. Namun, dia tidak menghiraukan itu.
"Mau bertaruh?"
Jefra tidak menjawab pertanyaan Davian yang tiba-tiba itu.
"Ayo bertaruh dengan keyakinan kamu itu. Apakah Renata sudah benar-benar melupakan aku atau tidak."
Bagi Davian, tentu saja masih ada rasa cinta di hati Renata untuknya, mereka sudah menjalin hubungan selama 3 tahun, kenangan mereka tidak mungkin dapat dilupakan begitu saja dengan satu kesalahan yang Davian perbuat.
Namun, apa benar begitu?
__ADS_1
_To Be Continued_