Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Apa Ini Cinta?


__ADS_3

Jefra datang dengan 20 Bodyguard yang sudah terlatih seperti dirinya. Namun, saat dia datang, Jason dan kawannya sudah tidak ada. Sepertinya mereka kabur karena ketakutan, tentu saja mereka takut karena para anggota mafia yang lain sudah tidak tersisa. Padahal Jefra ingin sekali membunuh Jason agar tidak berbuat macam-macam lagi.


Akan tetapi masalah lain pun muncul, tiba-tiba saja Jefra mendapat kabar jika Ryo dan Jelita sedang berada di kantor polisi. Akibat tertangkap basah dan dituduh berbuat asusila di dalam toilet, sejoli itu kini harus berurusan dengan kepolisian. Hukuman orang mesum di tempat umum tidaklah ringan, mereka dapat dikenakan sanksi pasal tentang por-nografi.


Mau tidak mau Jefra yang mengurus masalah itu, perbuatan tuan mudanya itu memang selalu membuatnya menggeleng kepala.


Beruntunglah masalah itu dapat diselesaikan dengan menggunakan uang.


The money you have gives you freedom.


"Syukurlah kalian baik-baik saja," ucap Jefra.


Kini mereka sedang berada di luar kantor polisi, hendak pulang.


"Hmm," Ryo hanya bergumam untuk menjawab Jefra, dia tidak sadar diri jika sudah membuat Jefra kelimpungan, "Lepas jaket kamu, Jefra," pintanya tiba-tiba.


"Untuk apa, tuan muda?" tanya Jefra bingung.


"Sudah nggak usah banyak tanya," tukas Ryo seakan memaksa Jefra untuk melepas jaketnya.


Pada akhirnya Jefra menurut, dia melepas jaket kulit hitam miliknya.


"Berikan padaku," titahnya.


Dengan ragu Jefra menyerahkan jaket miliknya pada Ryo. Oh, ayolah, itu adalah jaket kesayangannya, semoga saja Ryo tidak merusaknya.


Setelahnya Ryo menyibakkan Jaket itu, berniat membersihkannya dari kuman yang menempel, lalu memakaikan jaket milik Jefra pada Jelita. Niat Ryo meminta jaket Jefra adalah untuk dipakai Jelita. Dia khawatir jika Jelita merasa kedinginan karena gadis itu hanya menggunakan kaos oversize berlengan pendek.


Jelita sendiri merasa bingung karena Ryo yang memakaikannya Jaket, sikap Ryo sejak tadi memang terlihat lebih aneh dari biasanya. Tidak bisa dipungkiri Jelita merasa senang dibuatnya, Ryo begitu manis dengan keanehannya.


Namun, kenapa jaket milik Jefra yang Ryo berikan padanya?


"Terima kasih," ucap Jelita.


"Ya, sama-sama," jawab Ryo tersenyum dengan bangga, dia berpikir jika perbuatannya itu pasti sangatlah keren di mata Jelita.

__ADS_1


"Bukan kamu, tuan muda. Aku berterima kasih pada Jefra, ini kan jaket milik Jefra," kata Jelita dengan menekan kata 'jaket milik Jefra'.


Jefra hanya tersenyum kikuk, dia berpikir akan lebih baik jika dia diam.


"Tapi aku yang memberimu jaket itu," ucap Ryo dengan bibir mengerucut kesal.


"Kenapa nggak memberiku jas yang sedang kamu pakai itu? Kenapa harus jaket Jefra?" tanya Jelita.


"Kalau ada jaket Jefra kenapa harus jas milikku?" Ryo justru bertanya balik dengan watados.


Jelita memutar bola matanya, jika ingin berbuat manis kenapa harus setengah-setengah? Jalan pikiran Ryo memang terlalu absurd untuk dimengerti. Kemudian Jelita melepas jaket Jefra dan memberikannya pada si empunya lagi, "Ambil lagi jaket kamu," ucapnya.


Jefra dengan senang hati menerima, meskipun Ryo menatap tajam dirinya.


Ryo bersedekap kesal, "Awas saja kalau kamu merengek kedinginan, aku nggak akan perduli," ucapnya.


"Tenang saja, itu nggak akan terjadi," jawab Jelita santai.


Faktanya Jelita adalah wanita yang tahan banting. Mana mungkin Jelita merengek seperti wanita pada umumnya. Dengan Papa Arthur saja dia tidak pernah merengek.


"Ck, dasar keras kepala," Ryo berdecak semakin kesal. Padahal dia berharap jika Jelita merengek padanya, dan dia akan senang hati membuka tangannya untuk memeluk gadis berkacamata itu.


Jelita mendelik tidak terima dengan ucapan Ryo yang blak-blakan, betapa malunya dia pada Jefra yang mendengar perkataan Ryo. Jefra sendiri memasang wajah datar seakan tidak mendengar apapun, tapi otaknya sudah mencatat semua, dan tentu saja akan dia laporkan pada Xavier.


Ini akan menjadi kabar gembira untuk Xavier, karena hubungan Ryo dan Jelita ternyata sudah memasuki tahap cinta-cintaan.


"Aku nggak memberikan jas milikku karena bau keringat," Ryo mengaku dengan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Jelita mengendus jas milik Ryo yang dia pakai, "Wangi begini kok dibilang bau," ucapnya, dia justru sangat menyukai aroma musk dari jas Ryo.


"Baguslah kalau nggak bau," ujar Ryo terlihat lega.


Setelah berdebat kecil, mereka pun masuk ke dalam mobil dan berlalu dengan diikuti lima mobil yang berisikan Bodyguard bawaan Jefra.


"Jefra, apa kamu tahu kalau keluarga Delaney adalah penyebab Ibuku terbunuh?" tanya Ryo memecahkan keheningan di dalam mobil, dia dan Jelita duduk di jok belakang, sedangkan Jefra duduk di jok pengemudi.

__ADS_1


Jefra melirik sepion tengah untuk melihat Ryo yang berekspresi serius, "Ya," jawabnya.


"Kenapa kamu dan Ayah nggak memberitahu aku tentang kebenaran itu?" tanyanya dengan tatapan tajam.


"Tuan Xavier hanya tidak ingin membuat tuan muda ikut hanyut di dalam dendam yang selama ini tuan Xavier rasakan," jawab Jefra jujur.


Tangan Ryo terkepal, itu memang benar, jika dia tahu lebih awal sudah dipastikan dialah yang akan membalaskan dendam kematian sang Ibu. Namun, Ryo merasa menjadi anak yang tidak berguna, karena tidak mengatahui apa-apa.


"Terkadang dalam bersedih, seorang Ayah lebih memilih diam untuk memendamnya sendiri, Ayah mempunyai bahu yang kuat untuk menopang kesedihan. Itu sama seperti Ayahmu yang memilih menyimpan kebenaran itu demi kebaikanmu," ucap Jelita mencoba menyadarkan Ryo dari rasa gelisah pemuda itu.


"Tapi bukankah sama saja kalau aku adalah anak yang nggak berguna?" lirih Ryo.


Dengan agak ragu Jelita menggenggam tangan Ryo yang terkepal, "Hanya karena sesuatu nggak seperti apa yang kamu harapkan, bukan berarti menjadikan kamu nggak berguna," ujarnya.


Ryo tertegun, Jelita benar-benar membuat perasannya membaik. Semakin Ryo dekat dengan Jelita, semakin dia menyadari jika gadis berkacamata itu yang paling istimewa di antara yang lain. Setelah apa yang Jelita lakukan untuknya, bagaimana mungkin dia bisa mencegah hatinya untuk berlabuh pada gadis itu. Karena hati tidak perlu memilih, hati selalu tahu kemana harus berlabuh.


'Apa ini yang namanya cinta?' pikir Ryo seraya menatap lekat tangan Jelita yang menggenggam tangannya, hanya dengan sentuhan tangan saja sudah mampu membuat hati Ryo bergetar.


Ryo memang baru pertama kali merasakan perasaan itu, sebelumnya dia tidak pernah merasa berdebar dengan wanita lain. Justru dia sempat mengira jika sedang terjangkit penyakit yang mematikan karena detak jantungnya yang meledak-ledak saat bersama dengan Jelita.


'Tapi, Jelita itu kan cupu dan Jelek,' pikiran buruk Ryo kembali muncul.


Tatapan Ryo beralih menatap Jelita, seakan meneliti.


'Jelita itu lucu dengan kacamatanya dan matanya juga sangatlah indah,' pikirnya membela Jelita dari pikiran buruknya. Mencintai Jelita itu tidaklah salah, Jelita bukannya tidak cantik, gadis itu cantik dengan caranya sendiri. Lagi pula kecantikan tidak menjamin baik buruknya seorang perempuan.


Kemudian Ryo membalas genggaman tangan Jelita, menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Jelita, mengunci jari satu sama lain dengan kuat.


Ya, Ryo memang sudah jatuh cinta pada Jelita.


"Terima kasih," ucap Ryo.


Jelita mengeryitkan dahi, "Untuk apa?" tanyanya.


"Karena sudah membuat perasaanku menjadi lebih baik," jawabnya tersemyum manis.

__ADS_1


Jelita membalas senyuman manis Ryo, "Ya, syukurlah kalau perasaanmu sudah lebih baik," ucapnya.


_To Be Continued_


__ADS_2