Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
I L-O-V-E Y-O-U


__ADS_3

"Karena aku mencintai kamu."


Pada akhirnya, Ryo berhasil mengungkapkan perasaannya lagi, dia sengaja menaiki sedikit oktaf suaranya agar Jelita mendengarnya dengan jelas.


Jelita mematung, dia masih tidak percaya meskipun sudah sangat jelas mendengar ungkapan cinta dari Ryo.


"Uh umm, excuse me miss, I L-O-V-E Y-O-U," Ryo mencoba menyadarkan Jelita yang mendadak bengong, bahkan dia mengungkapkan perasaannya lagi dengan mengeja.


Jelita menatap bola mata hazel milik Ryo, dia tidak menemukan kebohongan di sana, justru tatapan Ryo begitu tulus dan terlihat mendamba saat menatap balik bola mata amber miliknya. Jantungnya terpompa seketika, rasa senang menyeruak pada hatinya. Mata Jelita berkaca-kaca, dia begitu terharu karena Ryo berbalik mencintainya.


"...Terima kasih karena kamu mencintai diriku apa adanya dan bukan karena hal yang lain," ucapnya.


Ryo tersemyum lembut, "Justru aku yang seharusnya terima kasih karena kamu sudah memberikan cinta terbaik yang membuat aku menjadi orang yang lebih baik. Adanya kamu, untuk merubahku. Adanya aku, untuk melengkapimu," ujarnya.


Jelita menarik tengkuk leher Ryo dan memberikan kecupan singkat di bibir.


Si empunya bibir terbelalak karena mendapatkan kecupan tiba-tiba dari gadis yang dia cintai.


"Love you, Ryo," ucap Jelita tersenyum manis.


Setelah tersadar dari rasa kagetnya, Ryo membalas senyuman manis Jelita, "Aku senang kamu memanggil namaku seperti itu," ucapnya, Jelita memang belum pernah memanggil namanya secara langsung, gadis itu selalu memanggilnya 'tuan muda'.


"Bolehkah?" tanya Jelita, senyum tidak lepas dari bibir kissable miliknya.


"Tentu saja boleh, kamu boleh memanggilku apapun yang kamu suka," jawab Ryo.


"Berandal tengik," panggil Jelita yang melunturkan senyum di wajah tampan Ryo.


"Kamu memaki aku atau memanggil aku?" Ryo memincingkan mata sebal.


"Katanya aku boleh memanggil kamu apapun yang aku suka, aku sudah lama ingin memanggilmu seperti itu," ucap Jelita terlihat sangat jujur.


"Jadi kamu sudah menyiapkan panggilan itu sejak lama?" tanya Ryo tidak habis pikir.


Padahal masih banyak panggilan romantis seperti Ayang, Baby, Honey, Oppa, Bee, Boo, Cutie pie alias cute dan charming, dan Darling tapi bukan dadar guling. Kenapa juga Jelita memanggilnya berandal tengik?


"Ya, karena kamu memang berandal tengik," Jelita membenarkan.


"Aku bukanlah orang yang seperti dulu saat pertama kali bertemu denganmu, aku sudah tobat," Ryo mengerucutkan bibir kesal, "Aku akan memberi kamu pelajaran karena memanggilku seenaknya," sambungnya.


Ryo menggelitik pinggang Jelita, hingga si empunya menggelinjang karena geli.


Jelita tertawa, "Hentikan, geli..." ucapnya sembari mencoba menyingkirkan tangan Ryo yang menggelitiknya.


"Rasakan," ucap Ryo tersenyum setan, dia semakin gencar menggelitik Jelita.


"Ba-baiklah, aku nggak memanggilmu seperti itu lagi," ucap Jelita di sela-sela tawanya.


Kelemahan Jelita pun terungkap, dia tidak sanggup saat digelitik.

__ADS_1


Ryo terlihat puas, dia menghentikan aksi menggelitik pinggang Jelita. Dia menatap Jelita yang terlihat tersengal-sengal, dengan tatapan sayu dan wajah memerah, belum lagi pakaian Jelita yang tersingkap sampai menunjukkan perut ramping dan putih.


She's so hot.


'Arg, kalau begini terus aku mana tahan,' batin Ryo berteriak frustasi, dia menggulingkan badannya ke samping, tidur membelakangi Jelita.


Ryo mencoba menekan gai-rahnya.


Sedangkan Jelita merasa bingung dengan sikap Ryo yang tiba-tiba itu.


Dengan mengumpulkan keberanian, Jelita mencoba melingkarkan tangannya pada pinggang Ryo, memeluk dari belakang, "Kamu kenapa?" tanyanya.


Ryo langsung menegang, niat untuk menghindar tapi justru Jelita mendekat padanya, bahkan memeluknya dengan erat. Pikiran kotor Ryo pun semakin menjadi-jadi.


"Aku nggak kenapa-kenapa," jawab Ryo setelah menelan saliva.


"Apa kamu benar-benar akan menikah dengan cewek lain?" tanya Jelita lagi.


"Ya, aku dijodohkan," jawab Ryo.


Baru saja Ryo melupakan rasa galaunya. Namun, Jelita justru mengungkitnya.


"Pasti calon istrimu sangat cantik, mungkin kamu akan segera melupakan aku setelah menikah nanti," ucap Jelita.


Menguji Ryo sedikit lagi tidak apa-apa kan? Lagi pula dia juga akan segera membongkar penyamarannya.


Jelita sudah berhasil menjalankan misi rahasianya. Jadi tidak ada alasan untuk menyamar dan membohongi Ryo lebih lama lagi. Karena terlalu lama bermain api pasti pada akhirnya akan terbakar. Jelita tidak mau jika Ryo berakhir kecewa padanya.


"Kenapa nggak mungkin?" tanya Jelita.


"Bagiku, kamu nggak pernah bisa tergantikan. Kamu sudah menjadi bagian dalam hidupku, Jelita," ucap Ryo seraya mengelus pipi Jelita dengan tangannya.


Jelita terharu mendengarnya.


"Jadi, aku harap kamu jangan pernah meninggalkan aku," pinta Ryo kemudian.


Jelita mengangguk, tentu saja dia tidak akan pernah meninggalkan Ryo.


"Tapi bagaimana dengan calon istrimu?"


Ryo terdiam sesaat. Awalnya dia akan menerima perjodohan, karena itu adalah permintaan terakhir Ibunya. Namun, Ryo tidak bisa berpisah dengan Jelita, dia tidak mau menyakiti Jelita karena menikah dengan perempuan lain.


Sang Ibu dan Jelita adalah ke dua wanita yang sangat Ryo cintai. Situasinya saat ini seakan memberikannya pilihan untuk memilih salah satu di antara ke dua wanita tercintanya.


"Aku akan membatalkan perjodohan itu," jawab Ryo.


'Maaf, Ibu,' batinnya kemudian.


Ryo sangat menyesal karena tidak bisa bisa menuruti permintaan terakhir Ibunya. Tapi dia tidak bisa jika harus berpisah dengan Jelita.

__ADS_1


"Jangan!" seru Jelita mencoba mencegah Ryo.


"Loh? kenapa?" tanya Ryo mengeryit bingung.


"Itu karena aku—"


Tok... Tok... Tok


Suara pintu diketuk memotong perkataan Jelita, padahal dia ingin jujur pada Ryo.


"Karena aku apa?" tanya Ryo menuntut sambungnya dari jawaban Jelita, dia tidak mengacuhkan ketukan pintu.


"Ah, itu—"


Tok... Tok... Tok


Ketukan pintu lebih keras dari sebelumnya.


"Bocah, buka pintunya!" seru pelaku ketukan pintu.


Seketika Ryo langsung terlonjak dari posisi tidurnya, dia terkejut karena mendengar suara yang familiar baginya, "Ayah?" gumam Ryo agak panik.


"I-itu tuan Xavier," ucap Jelita.


Jelita lebih terlihat panik dibandingkan Ryo. Dia segera merapihkan penampilan, membenarkan bajunya yang berantakan, lalu mengambil kacamata yang berada di meja untuk memakainya. Dia tidak boleh terlihat berantakan di depan calon Ayah mertua.


"Cepat buka pintunya," perintah Jelita pada Ryo.


"Kamu memerintah aku?" tanya Ryo justru ingin memperdebatkan hal yang tidak berguna.


"Yasudah, aku saja," ucap Jelita karena tidak mau berdebat. Ryo yang suka memerintah mana mau disuruh-suruh.


Ryo menarik lengan Jelita yang ingin membuka pintu, "Aku saja," katanya.


"Terserah kamu saja," ucap Jelita, dia harus menahan sabar untuk menghadapi Ryo.


Jelita mengekor Ryo dari belakang dengan berjalan tertatih-tatih.


Cklek


Setelah membuka pintu, Ryo melihat Xavier yang tengah berdiri tegak serta Jefra di belakangnya.


"Kenapa lama sekali, bocah? Memangnya kamu sedang apa...?" Xavier seketika paham karena melihat si calon menantu mengintip di balik punggung putranya.


Dia jadi merasa bersalah karena menggangu.


"Aku sedang beranak pinak," jawab Ryo ngasal.


Jelita langsung mendelik karena jawaban Ryo.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2