Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Sudah Dijodohkan


__ADS_3

Di hotel, tepatnya di tempat Ryo menginap. Karena keadaan rumah yang porak-poranda akibat penyerangan, Ryo terpaksa menginap di hotel. Dan tentunya dengan Jelita, Jefra, dan beberapa Bodyguard yang menjaga Ryo untuk melakukan antisipasi jika Jason dan jawaban mencoba menyerang kembali, Jason masih menjadi ancaman lantaran belum bisa ditangkap.


Sama dengan para Bodyguard, Jelita kini sedang berjaga di depan pintu kamar hotel Ryo. Gadis itu telah berganti pakaian dengan setelan jas kedodoran yang biasa dia pakai, tidak lupa dengan penampilan cupu dan jelek yang masih melekat.


"No-eh Jelita," Jefra masih saja belum terbiasa dengan memanggil Jelita dengan nama gadis itu, "Biar aku dan para Bodyguard lain yang berjaga, kamu istirahatlah," ujarnya.


Jelita menggeleng tegas, "Biarkan aku ikut berjaga," ucapnya, dia harus bersikap profesional meskipun tengah menyamar, "Lagi pula besok hari Minggu, jadi nggak masalah kalau aku begadang untuk berjaga," sambungnya.


"Tapi punggungmu masih cedera, sebaiknya istirahat saja," ujar Jefra mengingatkan kondisi Jelita yang cedera.


"Aku berdiri menggunakan kaki bukannya punggung, jadi itu nggak masalah," kilah Jelita masih tetap pada kemauannya.


Cklek


Bunyi pintu kamar yang terbuka mengintruksi obrolan ke duanya, terlihat Ryo yang melongok dengan hanya memunculkan kepalanya, terlihat rambutnya yang basah karena sehabis mandi.


"Ada apa, tuan muda? Apa kamu memerlukan sesuatu?" Jefra melihat Ryo dengan penuh tanda tanya.


Ryo tidak memperdulikan Jefra justru dia menatap Jelita.


Sedangkan Jelita yang ditatap menaikan alisnya seakan bertanya apa.


"Jelita, aku membutuhkan bantuanmu," ucap Ryo.


"Bantuan apa, tuan muda?" tanya Jelita seraya mendekat pada Ryo.


"Sini," ujar Ryo seraya menarik tangan Jelita agar masuk ke dalam kamarnya.


Blam


Ryo menutup kembali pintu kamarnya, meninggalkan Jefra yang bungkam di tempat.


Di dalam kamar.


"Butuh bantuan apa?" tanya Jelita sekali lagi, dia melihat Ryo yang mengenakan kimono handuk berwarna putih.


"Keringkan rambutku," titahnya sembali melempar handuk pada Jelita, tepat mengenai kepala Jelita.


Dengan kesal Jelita mengambil handuk yang menutup kepalanya itu, "Kenapa nggak keringkan sendiri saja?" tanyanya, dia kira ada sesuatu yang darurat sampai ditarik masuk ke kamar, tapi Justru hanya untuk mengeringkan rambut.


Ingin sekali Jelita menjitak kepala Ryo. Apa pemuda itu sedang di dalam mode manjanya?


"Ayolah," pinta Ryo menuntut untuk dituruti.


Jelita menghela napas berat, "Baiklah," ucapnya.


Seketika Ryo tersenyum lebar, dia terlihat senang.

__ADS_1


Kemudian Jelita mengulurkan tangannya untuk mengeringkan rambutnya Ryo dengan menggunakan handuk. Namun, tangannya tidak sampai. Oh, ayolah, Ryo terlalu tinggi untuk dia gapai.


Ryo terkekeh melihatnya, "Dasar pendek," ejeknya.


Jelita menggembungkan ke dua pipinya sebal, "Aku nggak pendek, kamu saja yang ketinggian," bantahnya.


"Sudah pendek, sekarang cosplay jadi ikan buntal," ejek Ryo semakin menjadi-jadi.


"Menyebalkan, keringkan saja rambutmu sendiri," ujar Jelita jadi tidak mood untuk menuruti permintaan Ryo.


"Aku hanya bercanda," ucap Ryo.


"Aku ingin keluar saja," Jelita yang ingin berbalik keluar ditahan Ryo dengan memegang lengannya, lalu menarik Jelita untuk duduk di ranjang.


"Nggak boleh keluar sebelum mengeringkan rambutku, kamu duduk saja di sini," tukas Ryo.


Jelita duduk dengan ogah-ogahan.


Lalu Ryo berjongkok di lantai dengan menghadap Jelita, "Sekarang lebih mudah, bukan?"


"Ya, seharusnya kamu memang nggak mempersulit aku," kata Jelita segera mengeringkan rambut Ryo dengan handuk.


"Hmm," Ryo hanya bergumam, dia memejamkan mata untuk menikmati usapan tangan Jelita yang terhalang handuk, hanya dengan begini saja sudah sanggup membuatnya bergetar.


Tidak lama kemudian Jelita menghentikan acara mengeringkan rambut Ryo, "Sudah, tuan muda," ucapnya.


Ryo mengangguk. Namun, dia tidak bangkit dari posisinya, justru Ryo meletakkan kepalanya pada pangkuan Jelita dan memeluk pinggang gadis itu.


"Biarkan seperti ini dulu," tukas Ryo yang terlihat nyaman dengan posisinya.


"Y-ya," cicit Jelita masih terlihat gugup.


"Usap kepalaku, Jelita," pinta Ryo, sepertinya dia ketagihan mendapatkan usapan gadis itu.


Jelita tersenyum karena permintaan Ryo, lalu dia menggerakkan tangan kanannya untuk mengusap kepala Ryo dan sesekali memainkan rambut.


Semenjak Ryo sadar jika dia mencintai Jelita, dia menjadi selalu ingin berada di dekat gadis itu. Tidak ingin terpisah terlalu jauh dan terlalu lama. Ryo benar-benar merasa senang hanya dengan berada di dekat Jelita, menatap mata Jelita, atau berada di ruangan yang sama dengan Jelita seperti ini.


"Jelita," panggil Ryo dengan lirih.


"Ya, tuan muda."


"Aku..."


Jelita tidak bisa mendengar perkataan Ryo, karena suara pemuda itu sangatlah pelan, setelahnya dia dapat merasakan jika Ryo tertidur dengan napas yang teratur.


Aku mencintaimu.

__ADS_1


Ya, itulah perkataan Ryo yang tidak Jelita dengar.


"Bisa-bisanya dia tertidur di posisi seperti ini," gumam Jelita tersenyum tipis.


**


Langit malam perlahan menghilang digantikan dengan sinar matahari pagi. Saat ini sudah pukul 7 pagi.


Ryo sedang menikmati sarapannya, Terlihat di meja sudah tersedia menu sarapan yang istimewa.


"Di mana Jelita?" tanya Ryo pada Jefra yang sedang menuangkan teh di gelas miliknya, biasanya yang melayani dia adalah Jelita, lantas kenapa jadi Jefra?


"Dia sedang istirahat, karena semalaman sudah menjaga tuan muda," jawab Jefra.


Jelita memang serius dengan perkataannya semalam, dia benar-benar begadang untuk berjaga di depan pintu kamar Ryo, dan pada akhirnya gadis itu tepar di pagi harinya. Mau sekuat apapun Jelita tetap saja dia adalah perempuan, daya tahan tubuh perempuan sangatlah lemah dibandingkan dengan laki-laki.


Seketika ekspresi Ryo menjadi masam, padahal Jelita masih belum pulih dari cederanya, bisa-bisanya dia memaksakan diri seperti itu.


"Menurutmu jika aku menikah dengan Jelita apa Ayahku akan setuju?" tanya Ryo tiba-tiba.


"Uhuk," Jefra terbatuk karena tersedak salivanya sendiri.


Ryo mengeryit tidak suka melihat respon Jefra.


"Maaf, tuan muda. Saya hanya terkejut saja," ucap Jefra kikuk.


"Kenapa kamu sampai terkejut?" selidik Ryo memincingkan mata, "Jangan bilang kalau kamu menyukai Jelita."


"Mana berani saya," jawab Jefra cepat.


Jefra mana berani untuk menyukai calon istri dari tuan mudanya.


"Maksudmu?" tanya Ryo yang merasa aneh dengan jawaban Jefra.


"Ah, maksud saya..." Jefra memutar otak untuk mencari alasan, tidak mungkin dia bilang yang sejujurnya, itu sama saja membongkar penyamaran Jelita, "Saya tidak berani menyukai gadis milik tuan muda," sambungnya kemudian.


"Ga-gadis mi-milikku?" Ryo merona seketika, bolehkan dia menyebut Jelita seperti itu?


"Ya, tuan muda," kata Jefra membetulkan.


"Hmm," Ryo berdeham untuk menghilangkan rasa malunya, "Jadi apa Ayahku akan setuju kalau aku menikah dengan Jelita?" tanyanya sekali lagi.


"Saya tidak tahu, tapi bukannya tuan muda sudah dijodohkan dengan putri dari keluarga Albirru?"


Deg


Ryo melupakan wasiat sang Ibu yang menjodohkannya dengan gadis yang belum dia temui sebelumnya. Dia sudah memiliki calon istri.

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan Jelita?


_To Be Continued_


__ADS_2