Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Seperti Cacing


__ADS_3

"Pacar barumu?" tanya Gina ingin tahu.


"Bukan," jawab Renata setelah lama terdiam.


Seketika Jefra menatap Renata tajam. Apa saat ini dirinya sedang tidak diakui? Hati Jefra bahkan tercubit karena jawaban Renata.


"Bukan pacar kenapa menempel seperti itu?" tanya Gina tidak percaya.


"Memangnya apa salahnya menempel pada suami sendiri?" Renata bertanya balik.


Renata memeluk pinggang Jefra seakan menunjukan kepemilikan. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Gina merebut Jefra-nya.


Jefra dan Gina terkejut, tapi dalam tafsir yang berbeda.


"Apa kamu bercanda? Kenapa aku nggak tahu jika kamu sudah menikah? Kamu nggak mengundangku?" tanya Gina lagi.


"Memangnya siapa dirimu yang harus aku undang? Aku menikah hanya mengundang orang-orang terdekat saja," Renata memincingkan mata.


"Bagaimana bisa kamu nggak mengundangku? Padahal kita sangat dekat," Gina berekspresi sedih.


Renata tersenyum miring, Gina masih saja memakai topeng.


"Atau kamu menikah diam-diam karena... Hamil?" sambung Gina.


"Memang benar kalau orang nggak suka itu akan melihat dari sisi buruknya kita terus, lain hal sama orang yang suka kita, pasti lihat dari sisi baiknya," ucap Renata dengan tenang.


"Nggak, maksudku bukan seperti itu, aku hanya bertanya saja," sangkal Gina.


"Kamu sungguh seperti reporter. Sebegitu pentingkah kamu mengulik kehidupanku? Sepertinya bagimu itu hal yang penting," Renata menatap sinis Gina.


"Ke-kenapa kamu berkata seperti itu? Bukankah wajar jika teman baik saling bertanya keadaan?" Gina mencoba melawan perkataan Renata meskipun sudah terpojok.


"Teman baik? Kupikir pertemanan kita sudah berakhir."


Gina berkaca-kaca dibuatnya, "Renata, aku..."


Seakan tahu dengan keadaan Jefra membuka suara, "Istriku, katanya ingin makan, ayo kita masuk."


Sekejap Renata merona dengan panggilan 'Istriku' dari Jefra, "Y-ya, Su-suami."


Kemudian Renata dan Jefra berbalik pergi tanpa mengatakan apapun lagi pada Gina.


Sepeninggalnya, tatapan Gina berubah menjadi tajam, tangannya terkepal hingga kuku-kuku jari memutih.


"Apa ini? Kenapa Renata bahagia?"


Gina marah karena ekspetasi tidak sesuai realita, dia pikir Renata akan jatuh terpuruk. Namun, nyatanya Renata sudah mendapatkan pengganti Davian, bahkan terlihat lebih baik.


Sedangkan Gina sendiri?


Gina memegang pergelangan tangannya yang terdapat jejak membiru.


"Sialan, aku akan mengembalikan si sampah itu padamu, Renata."


**


Di dalam restauran, terlihat Renata dan Jefra yang sedang menyantap makanan masing-masing.


"Jef, maaf," ucap Renata.


"Untuk apa?" tanya Jefra dengan mengangkat alis bingung.

__ADS_1


"Untuk barusan."


Renata jadi tidak enak dengan Jefra, karena sudah berbohong jika mereka sudah menikah.


"Aku tidak masalah, Istriku," Jefra menyeringai samar.


"Ke-kenapa jadi menggodaku," Renata  tersipu seketika.


Jefra terkekeh, "Sudahlah, lagi pula sebentar lagi kan kita memang akan menikah."


Renata mengangguk malu-malu.


"Aku takut jika Gina akan mengambil kamu seperti apa yang dia lakukan sebelumnya," ucap Renata.


Jefra meraih tangan Renata yang berada di atas meja, lalu menggenggamnya lembut.


"Renata, percayalah padaku. Aku tidak akan pergi kemanapun, akan tetap berada di sisimu, menjadi milikmu, dan akan terus mencintaimu. Tidak ada perempuan lain yang bisa menarik perhatianku darimu. Aku akan tetap memilihmu, aku tidak membutuhkan yang lain."


Jelas sekali, Jefra berbeda dengan Davian. Ketakutan Renata akan kehilangan Jefra menguap, menang tidak seharusnya dia mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Jefra pasti tidak mungkin berbalik mengkhianatinya.


Ya, Renata percaya dengan Jefra.


Renata membalas genggaman tangan Jefra, dia sungguh terharu dengan perkataan manis calon suaminya.


"Aku pun juga sama, Jef. Kamu benar-benar sudah mengambil hatiku sepenuhnya," ucap Renata dengan sunggingan senyum.


"Bukankah itu bahaya? Kamu bisa mati kalau begitu," Jefra terkekeh.


Renata tergelak, "Ternyata kamu memiliki selera humor juga, ya. Aku lumayan terkejut."


Lalu Renata menyeruput sedotan pada jus jeruk miliknya.


"Apa salahnya untuk membuat tertawa Istri sendiri?"


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jefra khawatir.


Renata mengangguk, "Aku ingin ke toilet dulu," ujarnya mendadak salah tingkah.


"Hmm."


Setelah mendapat persetujuan dari Jefra, Renata meraih tas jinjing miliknya dan beranjak.


Tatapan Jefra tidak lepas dari Renata yang berjalan menuju pelayan restauran, sepertinya sedang bertanya letak toilet. Lalu kembali berjalan dengan mengikuti petunjuk arah dari si pelayan.


"Imutnya," gumam Jefra tersenyum tipis.


Kemudian Jefra melanjutkan acara makannya.


Namun, seseorang tahu-tahu datang mengusiknya.


"Maaf, boleh aku duduk?"


Ternyata seseorang itu adalah Gina. Jefra menatap datar Gina yang sudah duduk di tempat Renata tadi. Padahal Jefra ingin berkata 'tidak'.


Sebenarnya ada urusan apa perempuan itu? Kenapa datang tepat di saat Renata tidak ada?


"Oh, maaf kalau kurang sopan. Seharusnya kita berkenalan dulu. Namaku Gina."


Tangan Gina terulur ke depan, berniat mengajak Jefra berjabat tangan. Senyum manis berlesung pipi terukir di wajahnya.


Jefra hanya diam, tidak mengacuhkan ukuran tangan Gina.

__ADS_1


Gina tersenyum kikuk karena tidak mendapatkan respon, dia menarik tangannya kembali.


Kemudian Gina menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, sengaja memperlihatkan leher jenjangnya. Gerakan yang Gina yakini bisa menarik perhatian pemuda di hadapannya itu.


"Siapa namamu?" tanya Gina dengan suara lembut.


"Itu bukan urusanmu," jawab Jefra tanpa ekpresi.


"Sayang sekali, padahal aku hanya ingin menjadi lebih akrab dengan Suami temanku," ucap Gina tersenyum masam.


"Tapi aku tidak minat," kata Jefra lugas.


"O-oh, kamu kaku sekali," Gina tertawa canggung.


Ini sungguh diluar rencana Gina. Pemuda itu sungguh sulit didekati. Dia pikir, Renata akan kembali menjalin hubungan dengan pemuda yang tidak akan jauh dari sifat Davian yang gampang dipikat.


Namun, bagi Gina ini lebih menantang.


"Urungkan pikiranmu itu," ucap Jefra seakan tahu apa yang tengah dipikirkan Gina.


"A-apa?" seketika Gina terkejut.


Jefra melirik sekilas pergelangan tangan Gina yang membiru. Gadis itu memang sengaja menutupi itu dengan lengan baju.


"Menyedihkan."


Satu kata yang membuat Gina membeku.


"Aku sudah cukup banyak bertemu orang sepertimu. Orang yang mencari  kebahagiaan dari menggerogoti orang lain. Seperti cacing."


Wajah Gina mengeras. Cacing? Bagaimana bisa dia disamakan dengan binatang kecil, melata, tidak berkaki, dengan tubuh bulat panjang, dan bisa hidup di tanah atau pada manusia.


Tetapi memang kenyataannya seperti itu.


"Berhentilah menganggu hidup Renata, jangan menjadikan dia alternatif dari kepuasanmu."


Deg!


Gina mati kutu dengan tatapan Jefra yang begitu tajam, seakan menguliti hidup-hidup.


Kemudian Jefra bangkit meninggalkan Gina yang bungkam dengan wajah yang memucat.


Jefra berjalan ke arah di mana tempat Renata berada. Dia sungguh menyayangkan jika gadis tercintanya memiliki teman yang berkelakuan buruk seperti Gina. Ingatkan Jefra untuk menasihati Renata agar tidak asal berteman dengan orang lagi.


Memang lebih baik mempunyai musuh yang menghormati kekurangan, dari pada mempunyai teman yang justru menyepelekan kebaikan.


"Eh, Jef? Kenapa kamu di sini?"


Renata yang baru keluar dari pintu toilet wanita dibuat terkejut dengan adanya Jefra.


"Menunggumu," Jefra tersenyum tipis.


"Memangnya aku anak kecil," Renata tergelak.


"Ayo kita pulang," ajak Jefra.


"Memangnya kamu sudah selesai makan?"


"Sudah, kok."


Jefra merangkul bahu Renata untuk ke luar dari restauran.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2