Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Ke Makam Pahlawan


__ADS_3

Esoknya, hari Jum'at, pukul 4 sore.


Renata dan Jefra jalan beriringan memasuki makam pahlawan. Renata mengenakan dress selutut berwarna hitam, dan Jefra mengenakan kemeja hitam tanpa kancing.


"Ibuku sangat menyukai bunga tulip putih," ucap Jefra seraya menatap karangan bunga tulip putih yang sedang dipegang Renata.


"Pasti Ibumu adalah seseorang yang cerita dan menawan," tukas Renata.


Jefra tersenyum tipis, "Ya."


"Bukankah sangat berbeda denganmu, Jef?"


Renata terkekeh mengingat sifat Jefra yang sekaku kanebo kering.


"Mungkin karena aku lebih cenderung mirip Ayah. Kalau sifat Julian mirip dengan Ibu," jawab Jefra, semilir angin menerpa rambut pendek miliknya hingga melambai-lambai.


"Oh, begitu."


Renata mendongak ke samping untuk menatap Jefra.


'Oh my, apakah cowok tampan itu benar-benar akan menjadi suamiku,' batin Renata terpesona.


"Coba lihat itu!" seru Jefra sembari menunjuk sebuah bangun.


"Apa apa?" tanya Renata yang mengikuti arah telunjuk Jefra.


Jefra tidak menjawab, dia meraih tangan Renata untuk lebih mendekati bangunan itu.


"Ini..."


"Dinding ini memiliki banyak keterangan tentang para pahlawan yang gugur dalam perjuangan. Mulai dari pahlawan nasional yang berjasa saat awal-awal kemerdekaan hingga pahlawan revolusi, seluruh profil singkat yang menceritakan kehidupan mereka tertera pada dinding ini," jelas Jefra.


Renata menatap takjub dinding yang memiliki banyak tulisan.


"Ayahku," ucap Jefra menunjuk sebuah tulisan.


Adelio Grelmarve Soares


"Dan Ibuku," Jefra menunjuk tulisan lain.


Aruna Verlyta


Bibir Renata membulat, dia tidak menyangka jika Jefra terlahir dari keluarga pengabdi negara. Pantas saja Jefra begitu mudah untuk mengajukan lamaran pada Ayahnya.


"Aku bahagia bisa terlahir dari orang tua yang hebat seperti Ayah dan Ibu," ucap Jefra.


"Ah, ya. Aku agak terkejut dengan ini, Jef," kilah Renata kikuk.


"Ayahku adalah Jendral Besar, sedangkan Ibuku hanya tentara wanita biasa, dan kamu sudah tahu sendiri jika kakakku adalah seorang Letnan. Aku terlahir dari keluarga kemiliteran."


Setidaknya, Jefra akan jujur pada Renata untuk masalah ini, dia tidak mau jika Renata tidak tahu apapun tentang keluarganya. Lalu untuk Ibunya yang seorang Intelijen masih menjadi rahasia.


Lagi pula Jefra juga ingin memperkenalkan Renata pada orang tuanya. Ibunya pasti akan senang jika akan memiliki menantu secantik Renata.


"Lalu kenapa kamu bekerja menjadi Bodyguard? Kenapa tidak menjadi tentara seperti keluargamu?" tanya Renata.


"Aku hanya ingin mencoba berbeda," jawab Jefra berdusta.


Jefra menarik tangan Renata untuk melanjutkan perjalanan mereka, karena tidak ingin melanjutkan obrolan itu.

__ADS_1


Berjalan semakin masuk ke dalam area makam, mereka disuguhi pemandangan helm yang ada di atas setiap makam.


"Helm-helm itu kalau diangkat ada bola lampu di baliknya. Setiap menjelang 17 Agustus, jam 12 malam selalu ada upacara. Lampunya dinyalakan," ucap Jefra saat melihat raut penasaran Renata pada helm-helm itu.


"Wah, luar biasa," kagum Renata.


Tidak lama kemudian Jefra menghentikan langkahnya, diikuti oleh Renata.


"Ini kuburan Ayah dan Ibuku," ucap Jefra.


Kemudian Renata berjongkok di sebelah Jefra, lalu meletakan karangan yang dia bawa di sebelah batu nisan Ibu Jefra.


"Assalamualaikum, Om dan Tante."


Setelah itu mereka bersama-sama berdoa, lalu menyiram air dan menabur bunga di atas pusara kuburan.


Renata menatap Jefra yang menitihkan air mata, pada akhirnya dia bisa melihat sisi rapuh dari pemuda itu. Digenggamnya tangan Jefra, dan memberikan senyum menenangkan saat si empunya tangan menatapnya balik.


Jefra menarik napas dalam.


"Aku datang untuk memperkenalkan calon istriku pada kalian," ucap Jefra seraya menatap batu nisan ke dua orang tuanya bergantian.


"Salam kenal, namaku Renata."


Renata tersenyum manis.


"Om dan Tante, aku senang bisa bertemu dengan kalian. Jefra terlihat sangat bahagia karena telah terlahir dari orang tua yang hebat seperti Om dan Tante. Tidak ada yang akan bisa menggantikan posisi kalian sampai kapan pun. Terima kasih karena sudah melahirkan putra yang begitu baik dan sangat keren."


"Aku akan berkata jujur pada Om dan Tante kalau aku sangat mencintai putra kalian. Aku akan memberikan yang terbaik untuk Jefra, agar kelak bisa membuatnya selalu tersenyum bahagia. Aku juga akan mengurusnya dengan sebaik mungkin. Jadi kalian tidak usah khawatir dengan Jefra."


Jefra tertegun mendengar semua perkataan Renata, sungguh membuat hatinya menghangat. Ya, Jefra memang tidak salah karena sudah memilih Renata untuk menjadi ratu di hatinya.


Kemudian Jefra dan Renata bangkit dari posisinya.


Set


"Kami pamit undur diri," Jefra memberikan hormat seperti seorang tentara, yang diikuti Renata.


Setelahnya mereka berbalik menjauh.


Tanpa mereka sadari, ada angin yang mengikuti mereka dari belakang, memberikan sensasi bulu kuduk berdiri atau refleks pilomotor. Angin itu seolah berkata.


Berbahagialah.


**


Sesampainya di dalam mobil.


"Tadi aku tiba-tiba saja merinding."


Renata menggosok-gosok lengannya sambil bergidik ngeri.


Dengan tingkat kepekaan yang luar biasa, Jefra meraih jaket yang berada di jok belakang, lalu memakaikannya pada Renata. Dia menganggap gadis itu sedang kedinginan.


"Oh, terima kasih," Renata justru merasa senang.


"Apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Jefra kemudian.


Renata menggangguk semangat, "Mau!"

__ADS_1


Jefra terkekeh, "Mau makan apa, hmm?"


"Terserah."


Sekejap Jefra terdiam. Dia berpikir kenapa Renata suka sekali memberikan jawaban itu.


"Mau makan ayam?" tanya Jefra.


"Nggak, aku sedang diet," tolak Renata.


"Pizza?"


"Nggak."


"Mie ayam?"


"Aku sedang nggak mau mie ayam."


Alis tebal Jefra menyatu karena bingung, "Tadi katanya terserah."


"Ya, pokoknya terserah."


"Sebaiknya kita ke restauran terdekat saja, pasti banyak pilihan di sana," saran Jefra.


"Boleh," jawab Renata sembari meraih ponsel dari tas untuk mengeceknya.


Jefra bernapas lega dibuatnya. Kemudian pemuda tampan itu menancap gas mobil, berlalu dari parkiran pemakaman.


10 menit kemudian mereka sampai di sebuah restauran. Lalu mereka keluar dari mobil.


Renata mengapit lengan Jefra untuk digandeng. Dia berniat memberi peringatan pada para perempuan yang tengah melirik calon suaminya. Oh, ayolah, Jefra yang sedang menggunakan baju kasual sungguh berkali-kali lipat mempesona.


"Renata!" panggil seseorang tiba-tiba.


Renata dan Jefra berbalik untuk melihat siapa yang memanggil.


"Ternyata benar Renata."


"Gina...?"


Betapa terkejutnya Renata saat melihat mantan sahabatnya yang memanggil dirinya. Kenapa dunia begitu sempit? Padahal Renata tidak ingin bertemu Gina lagi.


Gina menatap Renata dengan senyuman yang lebar, seakan telah bertemu dengan teman lama.


"Renata, aku kangen sekali," ucap Gina berniat memeluk Renata.


Namun, Renata mundur ke belakang, tentu saja dia tidak mau dipeluk oleh Gina. Mau sebaik apapun Renata, dirinya bukanlah gadis naif yang mudah melupakan perbuatan seseorang yang melukainya dulu.


Gina berekspresi kecewa, lalu tatapannya teralih pada Jefra.


"Pacar barumu?" tanya Gina ingin tahu.


Renata tidak menjawab, tangannya meremas ujung kemeja yang dikenakan Jefra.


Seketika ingatan Renata kembali ke saat dirinya mengenalkan Davian pada Gina. Saat ini Gina menatap Jefra sama persis seperti menatap Davian dulu.


Apa Gina berniat merebut miliknya lagi?


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2