
"Kalau begitu biarkan aku masuk juga," ucap Ryo yang sudah berada di depan pintu kamar mandi.
Dengan perlahan Jelita membuka pintu kamar mandi, mempersilahkan Ryo masuk.
"Berbaliklah," titah Ryo setelah masuk ke dalam kamar mandi.
Tanpa bicara Jelita menurut untuk berbalik badan.
Cklek
Jelita jadi ketar-ketir saat mendengar suara pintu kamar mandi ditutup Ryo, 'Kenapa harus ditutup?' pikirnya.
Ryo mulai membuka kaitan kancing pada gaun, lalu menurunkan resleting yang berada di belakang tubuh Jelita. Bagai gerakan slow motion kulit punggung mulus seputih susu terlihat sedikit demi sedikit saat resleting diturunkan. Jelitan merasakan sensasi merinding saat jari dingin Ryo bergesekan dengan kulitnya.
Kegiatan menurunkan resleting yang terasa begitu lama itu akhirnya berhenti saat sampai di pinggul bagian belakang.
Jelita refleks menahan gaunnya yang akan merosot ke bawah.
Bukannya menjauh karena sudah menyelesaikan tugasnya, Ryo justru menyentuh punggung polos itu dengan jari telunjuknya, menelusuri garis punggung Jelita dengan gerakan sensual untuk merasakan kelembutannya.
Jelita seketika menegang, jari telunjuk Ryo seakan menghantarkan sengatan listrik pada kulitnya yang terbuka.
"R-Ryo apa yang kamu lakukan?" tanya Jelita dengan gugup.
"Aku hanya memastikan jika punggungmu sudah nggak cedera," dusta Ryo.
Jelita menggigit bibir bawahnya saat Ryo mulai mengecupi punggungnya, "Punggungku sudah baik-baik saja," ucapnya.
Jelita bernapas lega saat Ryo mengakhiri sentuhan dan kecupan pada punggungnya. Namun, Jelita kembali menegang saat ke dua tangan Ryo melingkar pada pinggangnya untuk memeluk dari belakang, menyebabkan tubuh mereka menempel dengan ketat.
Bahkan Jelita bisa merasakan sesuatu yang sudah mengeras menusuk bokongnya. Tentu saja Jelita tahu apa itu, karena sebelumnya sudah pernah melihatnya.
"Jelita," panggil Ryo dengan berbisik lembut.
"Y-ya?" jawab Jelita.
"Aku mandikan, ya?" dengan entengnya Ryo meminta hal yang membuat Jelita spot jantung.
"Ng—"
Ryo segera memotong kata penolakan dari Jelita, "Tenang saja, aku akan memandikan kamu seperti ibu kucing yang memandikan anaknya," ucapnya.
"Aku bukan anak kucing," bantah Jelita.
"A!" kemudian Jelita memekik saat Ryo menggendong dirinya dan membawanya untuk masuk lebih dalam ke kamar mandi, lalu menurunkannya di samping bathtub.
__ADS_1
"Buka," titah Ryo.
Dengan sigap Jelita semakin erat memegang gaunnya, "Aku mau mandi sendiri," ucapnya memberi penolakan.
"Tapi aku ingin memandikan kamu," kata Ryo masih bersikeras.
Ryo menarik tengkuk Jelita dan menyatukan bibir mereka. Jelita langsung memejamkan mata, dia tidak sanggup melihat mata Ryo yang terbuka disaat menciumnya. Ryo memang sengaja tidak menutup mata agar bisa melihat ekspresi Jelita.
Bibir Ryo mulai melu-mat lembut, berusaha memulai dengan kelembutan hingga Jelita terbuai dan mengalungkan ke dua tangannya pada lehernya. Dengan malu-malu Jelita pun ikut melu-mat bibir Ryo. Saling mengecap untuk merasakan rasa manis.
Ryo menyeringai sela-sela ciumannya, sepertinya dia sudah tahu kelemahan dari Jelita.
Tangan Ryo bergerak menurunkan gaun yang tadi dipertahankan siempunya hingga terjatuh di lantai kamar mandi, lalu tidak lupa membuka b-ra berenda yang dikenakan Jelita.
Ryo melepas ciumannya, membuat Jelita merengut karena masih ingin berciuman.
"Tunggu," ucap Ryo terkekeh pelan karena melihat ekspresi Jelita yang seperti anak kecil kehilangan permen.
Jelita yang sudah tersadar langsung terbelalak saat merasakan celana da-lam miliknya diloloskan Ryo hingga turun ke mata kaki. Kini dirinya sudah polos seperti bayi. Dan lebih parahnya lagi Ryo sedang berjongkok hadapannya.
"Ryo.. " Jelita langsung merapatkan kakinya saat Ryo menatap intens tubuh bagian bawahnya, "Jangan lihat," rengeknya.
"Kenapa nggak boleh lihat?" tanya Ryo pura-pura bodoh, dia mengelus salah satu betis milik Jelita.
"Jangan malu dengan suamimu sendiri, sayang," ujar Ryo.
Suami...?
Jelita hampir lupa dengan statusnya saat ini, dia sudah menjadi istri Ryo, jadi tidak seharusnya dia menolak apa yang ingin suaminya itu lakukan.
"Y-ya," Jelita mengangguk dengan kaku.
Ryo menyeringai samar karena Jelita yang sudah menurut dengannya, dia benar-benar bahagia dengan status suami yang dia sandang saat ini.
Ryo memulai aksi memandikan Jelita versi dirinya. Dia mengangkat kaki kiri milik Jelita dan memberikan ciuman yang meninggalkan jejak kemerahan, terus mencium hingga menjar naik ke atas.
"Ryo..." lenguh Jelita dengan tubuh yang gemetar saat merasakan rangsa-ngan halus di tubuhnya.
Jelita sangat terkejut saat Ryo mendaratkan bibirnya pada area bawah perutnya.
"Ryo, jangan di situ," larang Jelita mencoba menjauhkan intinya dari bibir Ryo yang mulai mengecap.
Namun, Ryo seolah tuli dengan larangan itu, dia justru membawa paha kiri Jelita untuk bertumpu pada bahunya dan mulai melahap milik Jelita yang berwarna merah muda itu. Melu-mat seperti berciuman dan menyelusupkan lidahnya untuk bermain dengan tonjolan kecil yang mirip seperti kacang.
"Ahh," Jelita mende-sah dengan napas tersengal-sengal, dadanya bergemuruh, dan matanya berkunang-kunang. Tangannya meremas rambut Ryo dan tanpa sadar semakin menekannya.
__ADS_1
Jelita merasakan jika bagian dalamnya berkedut saat lidah Ryo memulai aksi keluar masuk pada lembah basah miliknya.
"Ryo, a-aku ingin pipis..." setelah mengatakan itu Jelita merasakan jika ada yang merembes keluar.
Jelita melenguh karena merasa lega dan nikmat secara bersamaan, sedangkan Ryo terlihat asik menikmati apa yang sudah dikeluarkan Jelita tanpa adanya rasa jijik.
Setelahnya Ryo menurunkan paha Jelita dari bahunya dan menjauhkan wajahnya, lalu menggendong Jelita dan meletakan tubuh lemas itu ke dalam bathtub yang sudah terisi dengan air.
"Enak?" tanya Ryo dengan tersenyum mesum.
Jelita mengangguk malu-malu.
Ryo terkekeh pelan dan mengecup sekilas pipi Jelita, dia sungguh gemas pada istrinya itu.
Kemudian Ryo mulai membasuh tubuh Jelita dengan air, lalu mengambil sabun cair dan menuangkan pada shower puff. Jelita pun hanya menurut meskipun sangat malu saat Ryo mulai membersihkan seluruh tubuhnya. Dia benar-benar seperti bayi yang sedang dimandikan.
"Ryo," panggil Jelita ragu.
"Ya?" jawab Ryo tanpa menghentikan kegiatannya.
"Ryo, tatap wajahku," pinta Jelita.
Ryo menurut untuk menatap wajah Jelita, "Kenapa, sayang?" tanyanya.
"Apa kamu masih mencintaiku setelah tahu jika wajah asliku seperti ini?" tanya Jelita tentang kegundahan hatinya tadi.
Ryo terdiam sesaat, tatapannya meneliti wajah Jelita. Mata amber, kulit wajah yang putih tanpa noda, hidung kecil namun mancung, alis melengkung, tahi lalat di bawah mata kiri, bibir plum yang kissable.
'Apa gadis cantik ini benar-benar istriku?' pikirnya.
"Kenapa diam?" Jelita menuntut jawaban Ryo atas pertanyaannya tadi.
Ryo menjadi tiba-tiba gugup, "Tentu saja aku masih mencintai kamu dan akan tetap seperti itu selamanya, justru perasaanku sudah semakin dalam dan tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata," ucapnya.
Jelita terharu mendengarnya, ternyata kegundahan hatinya tidaklah benar, lalu dia tersenyum dengan manis.
Seakan terlena oleh senyuman manis sang istri, Ryo kembali memberikan ciuman pada bibir Jelita. Mereka berdua tersenyum sembari berciuman mesra.
"Ahh," Jelita melenguh saat tangan nakal Ryo meremas ke dua bukit miliknya yang berbusa karena sabun.
Ryo sungguh mencari kesempatan, bahkan dia menarik dan memilin buah cherry milik Jelita yang sudah sangat menegang.
"Jelita... lanjut kamar..."
_To Be Continued_
__ADS_1