Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Pernikahan Diatur


__ADS_3

"Aku sedang beranak pinak," jawab Ryo ngasal.


"Kalau begitu lanjutkan," ucap Xavier justru menanggapi jawaban konyol Ryo.


"Oke, kalau begitu Ayah pergilah," ujar Ryo seraya menutup pintu kembali.


Namun, Xavier menahan pintu itu, "Dasar bocah kurang ajar! Jangan mengajak bercanda Ayahmu yang sudah tua ini!" serunya.


Ryo hanya cengengesan.


Jelita speechless melihat tingkah ayah dan anak itu, ternyata Xavier tidak ada bedanya dengan Ryo yang selalu bertingkah konyol. Benar-benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


"Selamat malam, tuan Xavier," sapa Jelita.


Xavier mengangguk. Kemudian dia melihat pergelangan kaki kiri Jelita yang diperban, "Kenapa kakimu?" tanyanya terlihat khawatir.


"Aku hanya terkilir," jawab Jelita apa adanya.


"Apa kamu sudah ke rumah sakit?" tanya Xavier lagi.


"Sudah," jawab Jelita.


"Bagaimana katanya? Apa tidak apa-apa?" tanya Xavier berbondong.


Sebelum Jelita menjawab Ryo menyela, "Ck, kenapa Ayah terlihat begitu khawatir dengan Jelita?" Ryo memincingkan mata tidak suka.


"Memangnya salah?" Xavier merasa jika kekhawatirannya sah-sah saja.


"Jangan bilang Ayah menyukai Jelita," tuduh Ryo seenak jidat.


"Tentu saja," Xavier justru mengiyakan, padahal yang dia maksud menyukai Jelita sebagai calon menantunya.


Lain dengan yang dipikirkan Ryo, pemuda itu terlihat marah. Pemikirannya semakin kuat karena sang Ayah yang terlihat mencurigakan karena tidak mau mengganti Jelita sebagai Bodyguardnya. Apa Ayahnya sengaja mendekatinya dengan Jelita untuk menjadikan gadis berkacamata itu Ibu tirinya?


Big no!


Ryo tidak akan membiarkan itu. Dia baru tahu jika Ayahnya adalah rival cintanya.


Sepertinya Ryo memang benar-benar sudah salah paham.


"Aku sudah tahu alasan Ayah menjadikan Jelita Bodyguardku," ucap Ryo tersemyum miring.


Xavier terkejut, "A-apa?"


Sedangkan Jelita membeku seketika, 'Jadi Ryo sudah tahu?' pikirnya gusar.


Ryo memincingkan mata, "Aku sudah tahu apa yang direncanakan Ayah selama ini."

__ADS_1


"Kamu sudah tahu?" tanya Xavier menatap tidak percaya putranya, dia kira Ryo terlalu bodoh untuk mengetahui rencana itu.


"Ya," jawab Ryo sembari bertolak pinggang, seakan menantang, "Aku nggak ingin kalau Jelita menjadi Ibu tiriku, sebaiknya ayah mundur, serahkan Jelita padaku. Ayah carilah daun muda yang lain."


Xavier dan Jelita melongo dengan tidak elitnya, sedangkan Jefra yang sejak tadi menyimak hanya menahan tawa.


"Jangan bicara sembarangan kamu, bocah!" hardik Xavier.


"Bukannya itu benar?" sengit Ryo.


"Tentu saja nggak benar!" bantah Xavier, "Sebaiknya kamu berkemas dan kembali ke rumah, Ramaryo," titahnya pada putra semata wayangnya.


**


Kembali ke rumah.


Rumah yang sebelumnya porak poranda karena penyerangan kini sudah diperbaiki. Ryo dan Jelita kembali untuk tinggal di rumah itu. Tapi berbeda dengan sebelumnya, sekarang pengawasan rumah sudah diperketat dengan 100 Bodyguard yang tersebar di setiap sudut rumah.


Di ruang tamu, terlihat Ryo dan Xavier yang duduk di sofa dengan saling berhadapan.


Sedangkan Jelita dia sudah kembali ke kamarnya karena perintah dari Ryo agar istirahat. Jelita pun hanya menurut saja, dia juga cukup lelah hari ini. Banyak sekali hal yang tidak terduga terjadi di satu hari ini. Dari Ryo yang galau, kencan, kakinya terkilir, kemesuman Ryo, pernyataan cinta, dan kedatangan Xavier.


Sungguh hari Minggu yang panjang.


"Ayah senang kalau kamu benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik," ucap Xavier sambil melihat teh mawar yang dituangkan Jefra pada cangkirnya.


"Ya, kamu hebat, bocah," jawab Xavier.


Terlihat hidung Ryo yang kembang kempis saat merasa dirinya dipuji. Dia memang sangat senang jika dipuji.


Xavier memutar bola matanya saat melihat ekspresi Ryo.


"Jadi, untuk apa Ayah ke sini?" tanya Ryo kemudian. Itu adalah pertanyaan yang sejak tadi ingin dia tanyakan, untuk apa Ayahnya datang ke Indonesia? Mustahil jika kangen padanya.


"Ayah akan membicarakan pernikahan kamu," jawab Xavier setelah menyesap secangkir teh miliknya.


Ryo agak terkejut dibuatnya, "Pernikahan? Maksud Ayah perjodohan?" tanyanya.


"Ya, perjodohanmu dengan putri keluarga Albirru," jawab Xavier, "Berhubungan kamu sudah berubah, Ayah akan mempercepat pernikahan kalian," lanjutnya.


"Apa?" Ryo menatap tidak percaya, lidahnya mendadak keluh.


"Ayah bahkan sudah menyebar undangan ke kolega bisnis dan orang-orang terdekatmu, karena kamu akan menikah seminggu lagi," ucap Xavier dengan ekspresi tenang.


Bagai tersambar petir di siang bolong, Ryo mengepalkan kedua tangannya, bagiamana bisa Ayahnya berbuat seenaknya? Bahkan tanpa persetujuannya.


"Nggak, aku nggak akan menikah," ucap Ryo dengan rahang mengeras.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Xavier.


"Aku mencintai gadis lain. Aku ingin perjodohan ini dibatalkan," kata Ryo tegas.


"Gadis yang mana maksudmu?" Xavier menatap Ryo menyelidik, "Jadi kamu masih bermain-main dengan pada gadis?" tanyanya justru salah paham.


Ryo menggeleng cepat, "Aku sudah nggak bermain-main lagi," bantahnya.


"Lantas siapa yang kamu cintai?" tanya Xavier lagi.


"Jelita."


Xavier menampakkan ekspresi datar, padahal di dalam hati sudah terkikik geli, dia memang berniat mengerjai putranya yang dulu sering membuatnya istighfar.


"Maksudmu Bodyguard kamu itu?" Xavier memincingkan mata.


"Ya, memang siapa lagi yang bernama Jelita," jawab Ryo.


"Tapi dia hanyalah seorang Bodyguard, dia nggak pantas untukmu," kata Xavier dengan akting yang lumayan patut diacungi jempol.


"Memang apa masalahnya? Meskipun dia gelandangan pun aku akan tetap mencintainya," ucap Ryo.


Xavier bangga dengan Ryo, ternyata anaknya sangatlah bucin seperti dirinya dulu, Ryo benar-benar jiplakannya. Tentu saja karena Ryo adalah putra dari keluarga Januartha.


"Ayah tidak perduli siapa yang kamu cintai, yang pasti pernikahan kamu nggak bisa diganggu gugat," ujar Xavier.


Brak


Ryo memukul meja dan mengakibatkan secangkir teh milik Xavier tumpah, "Aku hanya akan menikah dengan Jelita," ucapnya geram.


Xavier masih berwajah datar meskipun putranya sedang tersulut emosi, "Ingatlah, perjodohan ini adalah wasiat Ibumu. Apa kamu ingin membuat Ibumu tidak tenang di dalam kematiannya?"


Skakmat, Ryo membatu.


Ibunya, orangnya yang telah melahirkannya, guru pertamanya untuk mengenal dunia, seseorang yang memberikan cinta yang begitu murni sejak dia lahir, seseorang yang dulu selalu memeluknya ketika menangis, dan seseorang yang mengorbankan nyawa demi melindunginya.


Mana mungkin Ryo membiarkan sang Ibu tidak tenang di sana.


Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya, mengeluarkan air mata adalah respons alami terhadap rasa sakit dan menyesal, 'Jelita, maaf,' batinnya.


Pada akhirnya Ryo tidak bisa menolak perjodohan, dan tidak bisa menghindar dari pernikahan yang akan dilaksanakan seminggu lagi.


Xavier menatap Ryo sedikit bersalah, putranya itu sampai menangis dibuatnya. Dia juga senang karena Ryo terlihat sangat mencintai Jelita, putranya itu pun sampai mengeluarkan air mata karena Jelita.


'Tenanglah, bocah. Kamu memang akan menikah dengan Jelita,' batin Xavier.


Ya, dia akan memberikan Ryo kejutan di hari pernikahan putranya itu.

__ADS_1


_To Be continued_


__ADS_2