Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Bajingan Nggak Tahu Diri


__ADS_3

"Bang-sat!"


Reva memaki keras sembari menyetir mobilnya, dia mencengkram setir kuat-kuat mencoba menyalurkan emosinya yang meluap.


"B!tch!"


Ingatannya kembali saat melihat kemesraan Ryo dan Jelita, sikap Ryo yang sangat mencintai Jelita, tatapan Ryo yang seakan memuja Jelita, dan pembelaan yang Ryo lakukan tadi.


Reva berpikir, seharusnya dirinyalah yang berada di posisi Jelita. Kenapa harus Jelita yang mendapatkan perhatian Ryo? Kenapa bukan dirinya? Padahal dia yakin rasa cintanya pada Ryo lebih besar dari siapapun.


"Kenapa kamu nggak memilih aku, Ryo?" gumamnya dengan nada yang bergetar, matanya memerah antara marah dan sakit hati.


Benci.


Reva sangat benci keadaan ini. Apapun caranya dia ingin membalikkan keadaan.


Namun, dia membutuhkan seseorang untuk membantunya. Reva tidak mungkin bisa melakukanya sendiri, karena dia tahu siapa orang yang ingin dia lawan. Jelita bukanlah gadis sembarang.


Kavin? Pemuda itu sudah tidak mau membantunya lagi. Dia harus berkerjasama dengan seseorang yang menginginkan hubungan Ryo dan Jelita berakhir.


"...Vano."


Reva langsung teringat pemuda yang pernah berkata terang-terangan jika menyukai Jelita. Ya, pasti Vano juga ingin kehancuran rumah tangga Ryo dan Jelita.


Reva menerbitkan seringainya, bersekutu dengan Vano adalah jalan satu-satunya.


**


"Jefra, bagaimana makan malam kamu semalam?" tanya Ryo setelah mengunyah makanannya.


Kini Ryo, Jelita, Jefra dan ke dua tamu yang tidak diundang sedang sarapan bersama di ruang makan.


Setelah datang menganggu, Gavin dan Kavin justru numpang makan.


Jefra terdiam sesaat, dia menatap Ryo dengan tanpa ekspresi. Namun, di dalam hati dia mengutuk tuan mudanya itu.


"Saran tuan muda sungguh menyesatkan aku," ucap Jefra lugas.


"Loh? Menyesatkan bagaimana?" Ryo terheran-heran, padahal dia yakin saran untuk mengadakan makan malam di pinggir pantai sangat begitu roman...


Eh, tunggu.


Ryo baru menyadari jika semalam hujan deras. Kemudian dia menatap Jefra tidak enak hati, dan tertawa kikuk setelahnya.

__ADS_1


"Memangnya apa yang Ryo sarankan padamu, Jefra?" tanya Jelita penasaran.


Suaminya itu memang sudah bilang telah memberikan trik pendekatan pada Jefra, tapi dia tidak tahu trik seperti apa yang Ryo berikan.


"Tuan muda menyarankan aku untuk membawa Renata makan malam di pinggir pantai saat hujan deras," jawab Jefra jujur.


"Pftt," Gavin menahan tawa dibuatnya.


"Parah kamu, Yo," celetuk Kavin yang menyimak obrolan.


"Aku nggak tahu kalau akan hujan deras," kilah Ryo.


Mana tahu Ryo jika malam Minggu akan hujan, dia kan bukan dukun.


Jelita menatap Ryo dengan menyipitkan mata.


"Sayang, aku nggak bermaksud seperti itu," sambung Ryo mencoba membela diri pada istrinya.


"Hmm," Jelita hanya bergumam tidak jelas untuk menanggapi Ryo.


Oh, ayolah, apakah Jelita marah? Bisa gawat jika Jelita marah karena itu. Yang ada Ryo tidak bisa uwel-uwel istrinya nanti malam.


"Apa hubunganmu dan Renata sudah ada perkembangan?" tanya Jelita pada Jefra.


Jefra menggeleng lemah.


Tentu saja Jefra akan melakukan itu, dia tidak mungkin putus asa untuk membuat Renata membuka hati untuknya, dia pasti akan menyembuhkan rasa sakit pada hati Renata.


Jelita tersenyum tipis karena melihat adanya kesungguhan dari tatapan Jefra, tidak salah jika dia mendukung hubungan Jefra dan Renata. Jelita yakin jika Jefra adalah pemuda yang berkali-kali lebih baik dari pada Davian. Semoga saja Renata dapat menemukan kebahagiaan bersama Jefra.


"Sayang, kenapa kamu tersemyum pada Jefra? Kamu nggak boleh tersenyum pada cowok lain," gerutu Ryo yang menyadari senyum tipis istrinya.


Seketika Jelita langsung melunturkan senyumannya, tatapannya beralih pada suaminya yang sedang merengut, kemudian berdeham untuk menghilangkan suasana yang menjadi awkward itu.


"Habiskan makananmu," ujar Jelita sembari mengambil alih sendok milik Ryo.


Ryo langsung menghilangkan raut ngambeknya saat Jelita mulai menyuapinya. Memang seharusnya Jelita menyuapi suaminya agar anteng saat makan.


Tanpa sadar pasangan suami-istri itu telah mempertontonkan pemandangan yang membuat jiwa jomblo Gavin dan Kavin meronta-ronta karena iri, sedangkan Jefra terlihat santai karena sudah terbiasa.


**


Singkat cerita berganti malam.

__ADS_1


Terlihat Renata yang tengah keluar dari lift dan berjalan di basemen rumah sakit. Meskipun hari Minggu, dia masih mempunyai jadwal konsultasi dari pasien-pasiennya. Pada pukul 8 malam dirinya baru bisa menyelesaikan pekerjaannya itu, sebenarnya dia sedikit merasa kesulitan karena belum mendapatkan asisten pengganti Gina.


Walaupun lelah tapi Renata sangat menyukai pekerjaannya ini, dia senang karena bisa merawat banyak orang yang mengalami gangguan mental dan mencegah kondisi-kondisi tersebut, menolong mereka untuk lepas dari rasa takut dan kembali menjadi orang normal pada umumnya.


Renata menghentikan langkahnya saat melihat Davian sedang berdiri tepat di sebelah mobil miliknya. Belum lagi penampilan Davian yang lebih membuatnya terkejut, wajah yang terlihat lebam, kepala diperban, dan tangan kanan yang digips.


Kenapa dengan mantan kekasihnya itu? Apa Davian baru mengalami kecelakaan?


"Renata," panggil Davian yang menyadari kehadiran Renata, dia berjalan terpincang-pincang ke arah gadis itu.


Renata terdiam, dia sedikit prihatin dengan keadaan Davian, tapi rasa benci pada si pemuda masih terasa di hatinya.


"Renata," panggil Davian lagi, kini mereka berdiri berhadap-hadapan.


"Ya," jawab Renata dengan datar.


Davian tersenyum kecut menanggapi respon Renata, biasanya gadis itu selalu berbinar senang saat melihatnya, bahkan tidak segan-segan untuk menghambur ke pelukannya. Namun, Renata sudah berubah. Tatkala melihat dirinya yang terluka pun Renata tidak perduli sama sekali.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucapnya agak ragu.


"Aku nggak ada waktu untuk itu," kata Renata berniat menolak.


Bersama dengan Davian sama saja membuka kembali luka yang pemuda itu torehkan. Dia ingin segera pergi dan menjauh dari Davian.


"Hanya sebentar," ujar Davian.


Renata menghembuskan napas berat, "Cepat bicara, aku hanya memberimu waktu 5 menit," katanya.


"Bisakah kamu menolongku? Tolong bicaralah pada Jelita agar dia nggak mem-blacklist namaku pada semua perusahaan," pinta Davin.


Renata memincingkan mata, "Memangnya apa perduliku?" ucapnya sinis.


Sebenarnya Renata juga tidak tahu menahu tentang masalah itu.


"Jangan bersikap egois," ucap Davian.


Egois?


Dari sisi mana Renata egois? Padahal Davian yang sudah berselingkuh dan mencampakkan Renata begitu saja, lantas kenapa Davian menyebut Renata Egois?


"Aku tahu kamu ingin membalas dendam padaku dengan cara meminta bantuan pada Jelita, tapi nggak seperti ini juga caranya. Kamu egois karena mencoba balas dendam tanpa memikirkan apa akibat yang aku derita setelahnya. Aku nggak bisa bekerja di manapun sekarang, kehidupanku bisa hancur karena itu," jelas Davian.


Renata menatap Davian tajam, bisa-bisanya Davian berkata seperti itu setelah apa yang telah dia lakukan.

__ADS_1


"Dasar bajingan nggak tahu diri, cobalah untuk bercermin," cerca Renata.


_To Be Continued_


__ADS_2