
"Gavin!"
Sachi menyerukan nama pemuda yang ingin pergi meninggalkannya itu.
"Tidak bisakah kamu menunggu air mataku berhenti dulu baru pergi?" ujar Sachi dengan tetesan kristal bening dari pelupuk mata.
"Padahal aku sudah tidak ingin terlihat lemah dengan menangis di depan orang lain!" teriak Sachi. Beruntung keadaan sekitar mereka yang sepi.
"Mrs. Sachi," dengan rasa terkejut Gavin berbalik, ditatapnya Sachi yang sedang menangis.
"Kamu sudah bicara banyak hal yang membuat hatiku tergerak. Aku tidak menyangka kalau ada seseorang yang akan mengatakan cinta tanpa ada rasa paksaan, dan tanpa memunculkan rasa takut pada diriku."
Rasanya begitu ajaib. Sachi merasakan agak mual tapi ada rasa terharu. Hatinya menghangat ketika mendengar semua perkataan Gavin.
"Semuanya yang sudah kamu ucapkan tidak bisa ditarik lagi! Kamu harus bertanggung jawab padaku!" Sachi masih berteriak, meluapkan apa yang ingin dia katanya. Dirinya harus bisa melawan rasa takutnya.
Ya, dia bisa.
Sedangkan Gavin, hatinya bergetar karena terlalu senang. Dia berlari dan merengkuh tubuh Sachi, lalu didekapnya.
"Aku akan bertanggung jawab."
Wajah Sachi merona merah, jantungnya pun berdegup dengan kencang ketika Gavin memeluknya.
"Asal Mrs. Sachi mau, aku akan bertanggung jawab dengan cara apapun," ungkap Gavin seraya mengelus surai panjang Sachi.
Dengan tangan yang agak gemetar Sachi mencoba membalas pelukan Gavin, menerima dekapan hangat itu.
**
Esoknya, di ruang Dokter Renata.
Renata mengulum senyum, "Jadi kamu menerima cowok itu?"
"Y-ya," jawab Sachi dengan wajah memerah.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Renata.
"Aku masih sedikit mual dan takut, tapi aku akan melawan itu."
"Apa kamu... mencintainya?" tanya Renata dengan hati-hati.
"A-aku tidak tahu," jawab Sachi menunduk.
"Bayangkan hidupmu dalam lima atau sepuluh tahun mendatang. Dampak perubahan kehidupanmu jika hidup bersamanya. Pertimbangkan apakah kamu sanggup menghadapi penyakit atau masalah kecil dan serius bersamanya. Pikirkan pula caramu merawatnya ketika kalian berdua menua. Jika kamu bisa membayangkan masa depan untuk jangka panjang bersamanya, ada kemungkinan kamu jatuh cinta kepadanya. Dan kamu bisa lepas dari penyakitmu."
Sachi tertegun mendengarnya. Wajahnya bertambah merona saat membayangkan apa yang Renata katakan.
Renata tersenyum melihat ekspresi Sachi. Sudah dipastikan gadis itu memang memiliki perasaan spesial untuk pemuda itu. Bahkan Sachi tidak mengikut sertakan rasa takut dalam membayangkan kehidupannya bersama si pemuda.
"Ini perkembangan yang bagus."
__ADS_1
"Untunglah," Sachi tersenyum tipis.
"Tapi ini baru awal, perjalananmu masih panjang, cobalah untuk lebih mengenalnya dan berbicara jujur tentang penyakitmu ini. Dalam menjalin sebuah hubungan keterbukaan adalah hal yang penting. Dengan begini dia mungkin akan lebih mudah untuk membantumu untuk sembuh," pungkas Renata.
Jujur? Apakah harus?
"Tapi aku takut kalau dianggap aneh," ucap Sachi ragu-ragu.
"Jangan berpikir negatif."
**
Sungguh aneh. Perubahan suasana hati Gavin begitu drastis. Bukankah kemarin pemuda itu galau gulana? Dan hari ini terlihat senang bukan main. Ryo sampe dibuat merinding dengan Gavin yang senyam-senyum terus sejak tadi.
"Kesambet, ya?" tanya Ryo dengan menatap horor Gavin yang duduk di sebelahnya, seperti biasa ada semangkuk bakso di depannya.
Kini ke dua pemuda itu sedang berada di kantin kampus.
"Sembarangan, mana ada kesambet," bantah Gavin mengeryit tidak suka.
"Kenapa senyam-senyum terus? Apa kamu gila karena Dosen Sachi?" tanya Ryo asal menebak.
"Ya, sepertinya aku gila karenaya," jawab Gavin yang justru membenarkan tebakan konyol Ryo.
"Hah?" Ryo sampai tidak bisa berkata-kata dibuatnya.
Gavin kembali tersenyum lagi, ingatannya selalu terbayang kejadian di taman belakang kampus. Oh, dia tidak menyangka kalau dia akan...
Bugh
"Sadar!" seru Ryo, sebagi teman yang baik, dia mencoba menyadarkan Gavin.
"Ish, kamu kira aku gila benaran?" sengit Gavin seraya mengelus punggungnya yang terasa sakit.
"Memang," tukas Ryo sekenanya.
"Kamu tuh yang gila! Aku begini itu karena sedang senang!" tanpa sadar Gavin berteriak keras.
Seketika mereka menjadi pusat perhatian seisi kantin. Gavin jadi kikuk sendiri. Dia hanya bisa nyengir.
"Maaf, dia bukan temanku," ucap Ryo ke seisi kantin.
Pelipis Gavin berkedut mendengarnya. Padahal penyebab dirinya berteriak adalah Ryo. Benar-benar teman lucknut.
"Sudahlah, aku ingin kembali ke kelas," ujar Gavin. Berniat kabur dari rasa malunya. Bahkan tidak memperdulikan semangkuk bakso miliknya yang masih tinggal setengah.
Sayang sih. Tapi harga dirinya lebih utama.
Gavin melangkah cepat meninggalkan kantin, Ryo mengikutinya dari belang, dan ada 2 Bodyguard yang mengikuti Ryo. Si tuan muda Januartha itu memang benar-benar mencolok.
"Kamu belum bilang kenapa bisa sesenang itu," tukas Ryo yang berhasil menyusul Gavin.
__ADS_1
Kini ke duanya berjalan beriringan.
Gavin terdiam sesaat, dia menimbang-nimbang untuk merahasiakannya atau tidak. Apakah Sachi akan marah jika dia bilang ke orang lain tentang hubungan mereka?
Namun, kalau dengan Ryo sepertinya tidak apa-apa. Lagi pula Ryo bukanlah tipe orang yang suka bergosip ria.
"Aku berpacaran dengannya," ucap Gavin pada akhirnya.
Ryo mengernyitkan dahi terheran-heran, "Kamu berpacaran? Dengan siapa?"
"Dosen Sachi."
"What!" pekik Ryo terkejut dibuatnya.
"Diamlah," Gavin memberi isyarat untuk diam.
"Kamu serius?" tanya Ryo terlihat tidak percaya.
"Duarius," jawab Gavin bersungguh-sungguh.
"Jadi kamu benar-benar menjadi pembinor?"
Jleb
Sungguh menohok sekali pertanyaan Ryo. Ingin menyangkal tetapi itu benar. Dia sudah menjadi perebut bini orang!
Sejak semalam Gavin sudah memikirkan itu. Sekarang status pembinor sudah dirinya dapatkan. Sejatinya dia juga tidak mau melakukan itu. Namun, rasa cinta pada Sachi sudah mengalahkan akal sehatnya. Ternyata definisi cinta buta sungguh benar.
Apakah sekarang dia sudah menjadi laki-laki yang buruk? Mommy Elena pasti akan kecewa padanya.
"Padahal kamu sendiri yang bilang kalau menjadi pembinor nggak buruk," ucap Gavin mencebikkan bibir.
Ryo mendelik karena ucapan Gavin. Waktu itu kan dia hanya berniat bercanda saja. Kenapa Gavin menganggap serius? Apakah ini salahnya karena tanpa sadar telah mendorong Gavin untuk melakukan hal tercela? Oh, Ryo sungguh merasa berdosa.
"Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik lagi," ujar Ryo kemudian.
"Maksudmu?" tanya Gavin.
"Aku minta maaf karena sudah meracuni pikiranmu. Aku harus meluruskan kesalahan ini," Ryo menepuk pundak Gavin dengan satu tangannya.
"Sebagi sesama pria, terlebih aku sudah memiliki istri. Yang pastinya aku nggak mendukung seorang pembinor yang merebut hak orang lain. Dunia nggak sesempit itu. Masih banyak cewek yang lebih berhak mendapatkanmu. Kenapa kamu memilih orang yang sudah punya pendamping hidup?"
Deg
Jantung Gavin seakan berhenti berdetak. Dirinya memang salah. Dia akui itu.
"Sepertinya akulah yang harus meluruskan kesalahan ini."
Gavin dan Ryo refleks melihat ke asal suara yang menginterupsi.
"Mrs. Sachi..."
__ADS_1
"Gavin, ikutlah denganku," ucap Sachi yang muncul dari balik tembok.
_To Be Continued _