Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Keluarga Jefra


__ADS_3

Posisi badan tegap dan sigap, dada membusung, posisi kaki menyamping diikuti posisi badan. Mata bagai elang fokus ke depan, lalu memusatkan kekuatan pada jari tangan.


Dor


Dor


Peluru sukses mengenai titik tengah target yang berbentuk lingkaran.


Jefra menurunkan pistolnya, lalu melepas headphone yang terpasang pada telinga. Lalu menyeka keringat yang menetes di pelipis dengan menggunakan punggung tangan.


"Wow, seperti biasa, tembakan kamu lebih akurat dari pada aku," ucap David yang berada di sebelahnya.


Mereka berdua sedang latihan menembak yang biasanya dilakukan untuk mengasah dan mempertahankan naluri tempur. Namun, tidak dengan Jefra yang menggunakan latihan itu untuk mengalihkan pikiran dari gadis yang dirindukannya, siapa lagi kalau bukan Renata.


Vivi berjalan menghampiri Jefra dan David.


"Bukankah kamu harus bersiap untuk acara pelantikan hari ini, Jefra?"


"Kamu harus memanggilnya Kolonel," ucap David mengoreksi.


"Maksudku Kolonel Jefra," ralat Vivi.


"Hmm," Jefra hanya bergumam.


Ya, harapan Jefra untuk kenaikan pangkat telah berhasil dia raih. Hari ini Jefra akan dilantik untuk menjadi Kolonel atau pangkat perwira menengah tertinggi. Dia sudah menjadi pemimpin dari satu batalyon Intelijen di umur yang masih muda.


Dan itu adalah penyebab Jefra harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan Renata dalam 2 Minggu ini, karena persiapannya untuk pelantikan.


Sejak usia 13 tahun Jefra sudah bergabung pada pasukan Intelijen, dia adalah seorang anak yang dilatih untuk merangkak melalui pipa beton ke penjara. Sejak kecil Jefra memang sudah hidup terlatih karena terlahir dari keluarga kemiliteran, dia sendiri anak bungsu dari seorang Jenderal Besar yang telah gugur pada 10 tahun yang lalu. Kakak laki-lakinya pun kini sudah menjadi Letnan dengan pangkat bintang 3.


Namun, kebenaran itu tersimpan dengan rapat, David dan Vivi pun tidak tahu keluarga Jefra yang sebenarnya, mereka memang memiliki rahasia masing-masing. Itu karena seorang Intelijen harus merahasiakan indentitas pada keluarga, orang terdekat, ataupun teman sesama Intelijen. Ini berguna untuk minimalisir ancaman dari musuh, seorang Intelijen memang mempunyai banyak musuh.


Tatapan Jefra menerawang, teringat dengan obrolannya dengan Jendral Sebastian.


.


.


Flashback saat di Italia.


"Kamu putra ke dua dari Almarhum Jendral Adelio?"


Jefra terkejut karena Sebastian tahu indentitasnya, "Dari mana Jendral tahu?"


"Jendral Adelio sendiri yang telah menitipkan putranya yang cengeng padaku."


Dulu yang melatih Jefra untuk merangkak melalui pipa beton ke penjara adalah Sebastian.


Saat usia 13 tahun Jefra memang anak laki-laki yang cengeng. Namun, kini Jefra sudah menjadi pemuda yang tidak memiliki rasa takut sedikitpun berkat pelatihan berat yang telah dilalui.

__ADS_1


"Aku selalu mengawasi perkembangan kamu yang luar biasa itu," sambung Sebastian, terselip rasa bangga pada dirinya.


"Terima kasih, Jenderal."


Jefra sendiri juga tidak tahu menahu tentang sang Ayah yang telah menitipkannya pada Sebastian.


Entah sebuah kebetulan atau takdir?


"Tapi aku tidak menyangka jika kamu memiliki hubungan dengan putriku," kata Sebastian kembali datar.


Jefra menarik napas dalam-dalam. Ini adalah waktunya.


"Aku ingin menyampaikan bahwa aku mencintai putri Jendral, izinkan kehadiran hidupku mewarnai hidup Renata dan izinkan aku mengajak Renata ke jenjang yang lebih serius dengan menikahinya," ucap Jefra dengan tatapan serius dan nada yang tegas.


Sebastian terdiam, tampak terkejut dengan keberanian anak muda yang melamar putrinya langsung di hadapannya. Apalagi di keadaan mereka yang habis menyelesaikan misi besar.


"Apa Renata juga mencintaimu?" tanya Sebastian yang sudah mengenyahkan rasa terkejutnya.


"Ya, kami saling mencintai," jawab Jefra.


Tatapan Sebastian menyelidik untuk mencoba menemukan kebohongan dari mata Jefra, tapi si pemuda memang terlihat bersungguh-sungguh.


"Padahal aku ingin menikahkan Renata dengan kakak laki-lakimu," ucap Sebastian yang membuat badan Jefra membeku.


"Letnan Julian?"


"Ya."


"Tapi karena adiknya yang meminta duluan, apa boleh buat," sambung Sebastian.


"Maksud Jenderal?" tanya Jefra tidak mengerti.


"Aku akan membiarkan kamu menikahi putriku," jawab Sebastian tersenyum tipis.


Sebastian yakin Jefra bisa membuat putrinya bahagia, karena dia tahu jika Jefra adalah pemuda yang baik, justru Renata yang beruntung mendapatkan Jefra. Bukankah ini tangkapan besar untuk putrinya?


Sedangkan Jefra terbelalak tidak menyangka, dia kira akan mendapatkan penolakan dari sang calon mertua.


"Dengan syarat terus rahasiakan pekerjaanmu sebagai Intelijen pada Renata, aku tidak mau jika Renata mendapatkan bahaya karena itu."


"Apa itu berarti Renata akan hidup dalam kebohongan?" hati Jefra tercubit seketika.


"Ini demi kebaikan kalian berdua."


Flashback end.


**


Upacara Laporan Korps Kenaikan Pangkat Jefra berjalan dengan lancar. Jefra mendapatkan banyaknya ucapan selamat dari semua orang.

__ADS_1


Setelahnya, di sinilah Jefra, di sebuah ruang tertutup bersama pria berpostur tinggi yang hampir mirip seperti dirinya.


"Aku akan menikah," kata Jefra to the point.


Julian hampir tersedak napasnya sendiri karena perkataan tiba-tiba adiknya, "Hah? Menikah? Kamu akan melangkahi kakakmu ini, Jefra?"


"Ya, aku akan melamar putri dari Jenderal Sebastian besok malam," jawab Jefra dengan aksen sedikit sombong.


"Kamu bercanda?" Julian benar-benar terkejut dibuatnya.


Jefra diam, tapi menatap sengit Julian, sepertinya dia masih kesal karena Renata hampir dinikahkan dengan kakaknya itu.


Julian pun langsung mengerti dari arti tatapan Jefra yang sedang tidak bercanda, "Tega-teganya kamu menikah duluan dari pada kakakmu, Jefra," sengitnya.


"Ck, salahmu sendiri yang jadi bujang lapuk."


Perkataan Jefra sungguh menohok hati Julian, "Jaga bicaramu! Meskipun begini pangkatku lebih tinggi dari pada kamu yang baru menjadi Kolonel."


"Untuk apa pangkat tinggi kalau pacaran saja belum pernah," ledek Jefra semakin menjadi-jadi.


Kini Jefra merasa jika dirinya sedang berada di atas angin, akhirnya dia bisa menyombongkan diri pada sang kakak yang terpaut 8 tahun itu.


Julian mengelus dadanya sendiri, mencoba sabar. Walaupun mereka tidak terlalu akrab satu sama lain, tapi Julian begitu menyayangi Jefra.


"Jadi apa kamu mengatakan ini untuk memintaku menjadi walimu?" tanya Julian kemudian.


"Tidak perlu, aku hanya ingin memberitahumu saja."


"Loh? Kenapa tidak perlu? Karena Ayah dan Ibu telah tiada, hanya aku keluarga yang kamu miliki, tentu saja aku yang akan menjadi wali," ucap Julian heran.


"Seorang laki-laki tidak perlu wali."


Julian terlihat kecewa, padahal dia ingin sekali menjadi wali Jefra.


"Aku ini seorang Intelijen, hubungan kita ini rahasia," Jefra mencoba mengingatkan.


"Meskipun pada calon istrimu itu?"


"Ya, itu adalah syarat yang diberikan Jendral Sebastian supaya gadis yang aku cintai tidak dalam bahaya."


"Inilah mengapa aku melarangmu untuk menjadi Intelijen, kenapa kamu tidak menjadi tentara biasa saja, sih?" Julian berekspresi masam.


"Karena aku ingin mengikuti jejak Ibu."


Rahasia lainnya, Ibu Jefra adalah seorang Intelijen wanita yang berbakat dalam masanya.


Karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan Julian. Jefra mundur dua langkah, menegangkan badannya. Lalu hormat dalam satu gerakan dengan tangan kanan diangkat sampai alis, hingga membentuk sudut 45 derajat.


"Saya undur diri dulu, Letnan!"

__ADS_1


Kemudian Julian membalas hormat Jefra.


_To Be Continued_


__ADS_2